Unknown Baby

Unknown Baby
Nasi


Matahari bersinar terik padahal masih pagi, hari itu Myesha memutuskan untuk membuat makanan spesial. Ia akan menggunakan alasan berbagi dengan tetangga untuk mendekati Susi dan Tina. Sementara Faiq berencana menyelidiki Riki dan hilangnya seluruh cctv di hari kejadian perkara. 


Daftar pasien yang diberikan teman Faiq tak banyak membantu, informasi yang mereka tahu dari orang sekitar terlalu sedikit.


Pagi itu setelah solat subuh Myesha langsung ke dapur, membuat nasi goreng untuk sarapan. Sementara Faiq mandi setelah membawa Yuno berjemur di depan rumah sembari mengawasi Riki. 


"Gimana ya caranya buat bakwan?" gumam gadis itu. 


Padahal kemarin sore dia sudah membeli lengkap bahan-bahannya, melihat di internet dan akan mempraktekkannya hari ini. Tapi setelah semua tersedia dia malah kebingungan. 


"Sarapannya udah jadi belum, Sha?" tanya Faiq setelah keluar dari kamar.


Pria itu berjalan ke dapur sembari membawa jas putih yang baru dicuci kemarin dan tas kantor berwarna hitam. Meletakkannya sebelum duduk di kursi.


"Udah, Mas."


Sekali gerakan Myesha mengangkat nasi goreng di piring yang sudah dia siapkan. Masih memakai celemek, Myesha duduk berhadapan dengan Faiq di meja makan.


Setengah jam berada di dapur Myesha berhasil membuat nasi goreng dan dua telur ceplok. Menghidangkannya untuk Faiq.


"Kamu yakin, 'kan ini nggak keasinan kayak kemarin? Soalnya kalau tiap hari makan makanan asin aku bisa kena penyakit."


"Tenang, aku udah nyobain rasanya nggak seburuk kemarin."


Percobaan pertama gosong, percobaan kedua hangus, percobaan ketiga asin. Hampir setiap hari Myesha berkembang dalam hal memasak. Tak seperti dulu, sekarang rasanya jauh lebih manusiawi. 


Mereka menghabiskan sarapan dengan nasi goreng rasa hambar, Faiq tak komentar apapun. Ia yakin Myesha sudah berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik. Ada kerupuk putih pelengkap, sehingga rasa hambar bisa tertutupi.


"Karena ini hari sabtu kayaknya jam dua aku udah bisa pulang," kata Faiq di sela makan. 


Berbeda dari pria pada umumnya yang suka nongkrong jika ada waktu luang, Faiq segera pulang setelah bekerja. Ia memenuhi tanggung jawabnya gantian dengan Myesha menjaga Yuno, supaya gadis itu bisa menggambar dan menyelesaikan komiknya. 


"Kalau pulang mampir ke chandra ya, Mas. Beliin popok diskonan."


Biasanya Myesha sendiri yang ke chandra, mall yang ada di Metro pusat. Walaupun mall itu tidak terlalu besar akan tetapi Myesha suka dengan diskonan di sana. Berbeda perihal buku, dia lebih suka dengan toko buku yang berada di pasar cendrawasih. Tepat di depan mall. Harganya yang murah dan sangat bersahabat dengan kantong.


"Kalau susu masih ada nggak?" tanya Faiq.


"Masih kok. Nggak perlu beli."


Hanya membutuhkan waktu lima menit nasi goreng di piring habis,  Faiq melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul tujuh pagi. Pria itu mengambil segelas air putih sebelum beranjak. 


"Sha, aku berangkat dulu."


Faiq berdiri, ia mengambil jas putih yang ia cantolkan di punggung kursi. Tangannya kemudian meraih tas.


Melihat dasi yang miring membuat Myesha tak tahan untuk beranjak, mendekat ke arah Faiq. Dengan telaten Myesha membenarnya dasi ungu milik Faiq. Matanya fokus menatap. 


Sementara itu debaran di jantung Faiq semakin tak terkendali melihat Myesha di depannya. Aroma shampo wangi mawar tercium sempurna. Hanya beberapa inci dari hidung Faiq. Kening Myesha terpampang nyata menimbulkan hasrat untuk menciumnya. 


Faiq ingat di serial televisi, ketika seorang istri memakaikan dasi pada suaminya sebelum berangkat kerja maka sang suami akan memberikan kecupan di kening tanda terima kasih. Saat ini, gejolak di hati pria itu menuntun untuk melakukan hal yang sama, yakni mencium kening Myesha yang hanya beberapa inci dari bibirnya. 


"Kamu ngapain, Mas?" tanya Myesha.  Tangannya berhenti membenarkan dasi Faiq.


Kini pria itu sadar bahwa telah menempelkan bibirnya di kening Myesha, membuat gadis berkacamata di depannya bertanya-tanya perihal kelakuannya yang aneh.


Bingung, apa yang harus dijawab supaya bisa menghindari situasi canggung ini. Kemudian Faiq melebarkan bibirnya, seperti memakan sesuatu dari sana.


"Ada nasi di keningmu, sayang kalau dibuang jadi aku makan aja."


Sejurus kemudian Myesha memeriksa keningnya, tak ada apapun. Hanya sedikit basah akibat bibir Faiq. 


"Aku berangkat dulu,  wassalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Myesha. 


Buru-buru Faiq keluar dari rumah menuju garasi, melewati motor metic berwarna pink milik Myesha. Dalam hati pria itu ingin bergegas pergi sebelum rasa malu membuatnya mati di sini. 


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Faiq terus merutuki perbuatannya barusan. Sangat ceroboh dan konyol. Ditambah seolah dia makan nasi dari kening Myesha.


"Bodoh!"


Perasaan malu bercampur sesal kini membuatnya memukul setir. Mobil keluar dari halaman rumah. Menuju jalan utama yang lebih besar. Berbelok ke kiri dan mengegas supaya lebih cepat. Hingga sampai di jalan dua jalur. Faiq menunggu sebentar sebelum berbelok ke kanan menuju Metro pusat.


.


.


.


.


.


Bersambung


Bagi yang belum tau aku kasih tau ya gengs. Kemaren aku up tiap hari tu karena masuk 10 besar. Aku menghargai vote buat baby jadi aku berusaha keras bales dgn cara up tiap hari di saat sakit seklipun. Tapi beda cerita kalo gk masuk 10 besar lagi, aku ttp usahain up tp balik ke jadwal biasa, yakni sebisanya, sesempetnya, sejadinya naskah. Jadi kalau mau up tiap hr kayak minggu kemaren vote yg banyak.