
Beberapa kali Faiq menelan cake tersebut, masih mengingat Myesha yang sangat lama pulangnya. Menduga bahwa Myesha membeli barang sembari menawar mati-matian untuk dapat harga murah. Padahal mereka tak semiskin itu sampai harus mencekik harga di penjual. Tapi khotbah ala Myesha dengan ideologi pelitnya mengatakan bahwa mendapat harga setelah menawar rasanya akan lebih puas. Hal itu tidak bisa Faiq pahami sampai sekarang sekalipun sudah mencari di sudut otak cerdasnya.
"Dja ta dta dja ta ...." Yuno ikut mengoceh seperti paham kepusingan Faiq. Sembari tangannya terus mencoba meraih cake.
Faiq menguap, dia putuskan untuk membuat kopi. Sebelah tangannya masih menggendong Yuno. Mengunyah semua cake yang ada di tangan bahkan menjilat jarinya. Bayi itu anteng dengan mulut terbuka. Mengamati yang dilakukan ayah angkatnya.
Kopi diaduk, ia cicipi dan kurang manis. Sepucuk sendok gula dimasukkan, diaduk lagi sampai mendapatkan rasa yang pas. Ia mengambil gagang gelas cantik itu, berjalan menuju ruang tamu.
Yuno penasaran dengan bau kopi, badannya condong dan hendak meraihnya. Faiq menjauhkan kopi itu sembari terus berjalan.
Dari kaca samping pintu, Faiq mengamati halaman berharap Myesha segera pulang.
Yuno mendapat kesempatan mengintip aroma kopi, dia mencongkan badannya tepat di atas kopi. Tes. Air liurnya jatuh di dalam cangkir, bercampur dengan uang kopi yang mengepul.
"Hje hhe ...." Rupaya dia senang melihat air liur yang menyebabkan riak di dalam cangkir.
"Emakmu benar-benar terlalu, udah jam segini belum pulang juga."
Faiq mengangkat cangkirnya, meniup kopi yang mengepul sebelum menyeruput ringan. Yuno berusaha meraih kopi yang begitu dekat, air liurnya terus menetes.
"Nggak boleh minum kopi," ucap Faiq sembari memberi tatapan peringatan kepada Yuno. Nampaknya bayi itu tak terima kopi dijauhkan. Dia memukul-mukul wajah Faiq dengan tangan mungilnya.
Tak lama kemudian suara motor Myesha terdengar, berhenti di depan gerbang. Faiq meletakkan cangkir kopi di meja, dia berjalan keluar rumah. Melihat istrinya yang baru pulang dari pasar.
Nampaknya Myesha memborong barang, di jok belakang sebuah kipas angin ditali. Di bagian depan ada sayuran dan beberapa kantung plastik hitam. Ntah kenapa dia ingat Riki beberapa bulan yang lalu ketika belum menjadi OKB, persis seperti Myesha sekarang.
Faiq tak membantu Myesha yang kesusahan menurunkan barang. Dia masih mendekap Yuno sembari berjalan mendekat ke depan garasi. Tempat Myesha memarkirkan motor kesayangannya.
"Kamu mau buka warung nyaingin Riki?" Sindir Faiq. Menggelengkan kepala beberapa kali.
"Ya nggaklah Mas ini bercanda aja, ini tadi nggak niat beli kipas. Tapi diskon lima puluh persen. Lumayanlah, kipas kita kan udah buluk. Tadinya pingin beli AC buat di lantai atas tapi sayang listriknya."
Faiq berdecak sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Padahal, kipas mereka hanya perlu dilap. Hitam karena banyak debu, bukan rusak. Tapi namanya juga emak-emak, suka tidak tahan melihat diskonan.
Myesha memasukkan barang belanjaannya di dapur, kemudian kembali lagi melewati Faiq untuk mengambil kipas angin barunya. Lantai keramik berwarna biru tua itu kotor akibat Myesha. Beberapa batang kangkung jatuh.
Faiq masuk ke dalam dan menjawab ketika di pintu masuk, "iya."
"Aku minum dikit," sahut Myesha lagi. Langsung meminum kopi bercampur air liur Yuno yang bening.
Belanjaan sudah dimasukkan ke dalam kulkas, Myesha membuka plastik hitam yang dia taruh di meja. Mengambil isinya kemudian menghampiri Yuno yang masih berada di gendongan Faiq.
"Aku beli baju ini buat kondangan nanti sore. Imut banget ya, tadinya 220 ribu. Aku tawar dapat 150 ribu. Lumayanlah satu setel."
Sudah Faiq duga alasan Myesha belanja begitu lama yakni mempraktekkan aksi tawar menawar yang memakan waktu begitu lama.
Myesha mencocoknya baju kotak-kotak berkerah dan celana pendek ke Yuno. Bayi itu meraih Myesha, ingin digendong.
Tapi Faiq akui bahwa baju pilihan Myesha sangat imut, untuk urusan Yuno rupanya Faiq tak akan mempermasalahkan seberapa pun uang yang keluar.
"Bagus kok, kenapa cuma beli satu setel?"
"Yuno itu cepet besar, makin gembul. Bajunya cepet nggak muat. Sayang kan kalau dibuang."
Myesha mencocokkan baju itu lagi, masih tak menanggapi Yuno yang mencoba meraihnya meminta digendong. Bayi itu kini tak mau sembarangan digendong orang yang tidak dia kenal. Sekarang dia bisa mengenali orang-orang terdekat seperti Faiq dan Myesha, serta Tina yang sering ke rumah untuk membantu Myesha menjaga Yuno ketika harus keluar.
"Ya jangan dibuang, buat adeknya nanti. Kapan nih mau ngasih Yuno adek?" tanya Faiq. Memberi kode keras. Sekeras batu bata yang baru kering.
.
.
.
bersambung.
Kalau suka cerita ini jangan lupa dukung lewat like, komen, vote dan share. Makasih.