
Selama satu jam Faiq berdiri di depan pintu, menunggu Myesha mau membuka pintu dan memaafkannya. Akan tetapi sampai tangisan tak terdengar lagi pintu tetap tertutup. Pertanda bahwa mendapat maaf dari Myesha bukan hal mudah. Kesalahannya yang menyakiti hati wanita itu begitu besar, tak mungkin bisa dimaafkan dalam beberapa jam. Dia mengembuskan napas berat.
Faiq beralih dari sana, duduk di kursi yang biasa dia gunakan ketikan curhat dengan Cucut. Kura-kura itu masih asik di dalam aquarium. Memandang Faiq dengan iba.
"Dasar bodoh." Faiq mengartikan bahwa Cucut akan berkata seperti padanya. Benar, dia bodoh, sangat sangat bodoh.
"Aku tahu aku salah, omonganku tadi untuk kejadian sebelum menikah. Tapi kan semua berubah setelah menikah dengan Myesha, bagiku sekarang Myesha adalah wanita paling cantik di alam semesta."
"Aku tahu, tapi tetap saja tindakanmu tadi salah. Seharusnya kamu merendah bukan malah merendahkan orang lain."
Faiq berdecak, "kamu tahu sendiri aku tidak suka ada yang meremehkan harga diriku."
"Sangat tahu, kamu mahluk bodoh yang membiayai seluruh resepsi pernikahan menggunakan uang tabungan yang kamu kumpulkan untuk buka praktek."
"Kalau aku nggak menggunakan uang sendiri, nanti apa kata orang? Udah kerja tapi nikah masih dibiayain orang tua."
Faiq mendesah, meletakkan dahinya ke kaca aquarium. Kebiasaan yang bertahun-tahun dilakukannya saat curhat dengan Cucut.
"Myesha kan punya banyak uang, minta saja bagi dua biaya pernikahan kemarin, lumayan uangnya buat tabungan buka praktek. Sekarang kamu harus menabung dari awal lagi."
Faiq semakin menempelkan dahinya di sana. Ia menggeleng, masih bersikukuh dengan pendapatnya bahwa semua biaya harus dia tanggung karena dia adalah kepala keluarga. Tak boleh membebani Myesha, dia pasti bisa melakukannya sendiri. Menabung sekaligus mengurus keluarga kecilnya. Uang Myesha bisa ditabung untuk masa depan anak-anak.
"Dasar keras kepala."
Jari Faiq mengetuk kaca itu berkali kali.
"Kamu nggak tahu rasanya jadi kepala keluarga, besok aku akan carikan betina untukmu dan rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi orang yang harus melindungi orang yang disayang, Cucut Casper Castilo."
"Aku belum siap berkeluarga, jangan membuat hidupku runyam."
Faiq duduk dengan tegak kembali. Kemudian melipat tangannya di depan dada. Pemikiran yang dulu dia miliki, tak ingin berkeluarga karena malas dengan keruwetan. Ingin hidup tenang seumur hidup tanpa harus dibebani apapun. Istri dan anak, sekali memilikinya maka hidupnya harus dicurahkan untuk mereka selamanya. Faiq dulu belum siap akan hal itu, baginya mencintai diri sendiri sudah lebih dari cukup.
Hanya dalam waktu beberapa bulan pikiran itu berubah drastis, sekarang dia tak tahu apa jadinya jika Myesha dan Yuno meninggalkannya. Bukan dia yang dibutuhkan seperti pikirannya dulu tetapi dialah yang membutuhkan mereka. Tak bisa hidup tanpa keluarga kecilnya.
"Dulu aku juga punya pikiran seperti itu tapi setelah dijalani ternyata dunia pernikahan itu menyenangkan. Apalagi pas bagian anu-anu hahaha."
"Dih, Myesha lagi marah, kamu nggak bakal dapet cicilan lagi."
Faiq memanyunkan bibirnya, ia mengetuk kaca itu lagi. "Kasih saran dong."
"Sebentar lagi makan siang, coba aja masak buat dia. Siapa tahu walaupun secuil dia mau memaafkanmu."
"Ide bagus, kamu memang bisa diandalkan."
Faiq berdiri setelah menyelesaikan sesi curhatnya. Tanya jawab dengan dirinya sendiri.
Bau sedap tercium ketika Faiq memasak saus pasta, Myesha keluar dari kamar. Mendapati Faiq yang memasak di dapur. Pandangan mereka bertemu. Saling diam, kemudian Faiq tersenyum.
"Istri sayangku pasti lapar, aku sudah masak pasta spesial untukmu."
Faiq mendekat, hendak menyentuh tangan Myesha tetapi wanita itu mundur selangkah menjaga jarak dengan Faiq. Pria itu berhenti, hatinya terluka tetapi buru-buru dia mengambil kursi. Sembari tersenyum mempersilakan Myesha duduk.
"Silakan duduk, aku akan melayanimu dengan penuh cinta."
Myesha mengikat rambutnya yang berantakan. Matanya menatap Faiq dengan tajam, seolah pria di depannya adalah musuh.
"Jangan harap aku akan memaafkanmu hanya dengan sepiring pasta," ucap Myesha.
"Aku akan membuatkan sepuluh piring pasta."
"Apa nilaiku hanya pasta?"
"Kamu nggak ternilai, sungguh. Silakan makan, kamu pasti lapar."
Myesha duduk, dia memang sangat lapar. Sejak pagi cuma makan nasi goreng beberapa suap karena Yuno menangis. Setelah itu. Membereskan rumah hingga Erika datang. Apalagi menangis tadi benar-benar menguras tenaganya.
Ia mengambil garpu, merasakan pasta yang baunya sangat enak itu. Dia sendiri tidak bisa memasak pasta. Tiba-tiba air matanya menetes lagi, semakin deras sembari mengunyah.
"Eh kenapa? Apa rasanya nggak enak? Jangan diteruskan makan kalau rasanya nggak enak. Biar aku ganti masakan lain."
Faiq hendak mengambil piring itu tetapi Myesha memukul tangan Faiq hingga pria itu mengambil tangannya kembali.
"Rasanya enak, ternyata selain culun dan buluk masakanku kalah darimu. Huwaa hiks hiks."
Myesha menangis sembari terus memakan pastanya. Lapar dan rasanya enak. Sementara Faiq menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
.
.
.
.
Bersambung
Makasih udah mampir, jangan lupa hargai aku lewat like, komen, vote dan tip. (╥﹏╥)