Unknown Baby

Unknown Baby
Mini Market


Faiq mendekat ke Shasha, tangannya masih memegang erat keranjang belanjaan.


Mini market itu tampak sepi. Hanya ada seorang ibu belanja di pojok kanan dan beberapa petugas mini market. Faiq baru ingat bahwa rumah mantannya di Tri Datu yang tak jauh dari sini.


"Kok kamu masih idup aja sih, Sha?" tanya Faiq mengejek.


"Iyalah, kan aku nungguin kamu mati duluan. Oh ya undangannya udah sampek, 'kan? Jangan lupa amplopnya yang tebel. Kata Gilang dia sering nraktir kamu dulu."


Rasanya menyebalkan bagi Faiq jika mengingat betapa akrabnya dia dulu dengan Gilang. Sering makan bakso setelah pulang sekolah, main game, nongkrong bahkan ngapel ke rumah Shasha!


Walaupun dia putus dengan Shasha tak sepenuhnya salah Gilang, tetapi tetap saja rasa tikungan itu ada dan terasa menyebalkan.


"Tenang aja, daun kering di rumahku banyak. Aku bakal dateng, pingin liat seberapa jeleknya mantanku di hari pernikahannya," ejek Faiq lagi.


"Walaupun kamu bilang jelek, tapi setelah putus dari aku, kamu lama nggak pacaran lagi, 'kan?" balas Shasha.


Udara dingin dari AC tak mampu menghentikan hawa panas di antara mereka.


"Aku nggak buru-buru pacaran karena takut dapet cewek kayak kamu lagi."


Mendengar itu Shasha memalingkan wajah, "dih bilang aja susah move on. Muka jelekmu buat mataku sakit. Aku duluan ya."


Shasha berbalik hendak meninggalkan Faiq yang masih di barisan rak nomor 3.


"Aku saranin jangan terlalu banyak ngaca biar matamu nggak sakit!"


Teriakan Faiq hanya dibalas hempasan tangan dari Shasha, gadis itu langsung menuju ke kasir dan tak memedulikan Faiq lagi.


Perasaan kesal seakan meneriaki dada pemuda itu, meminta supaya dendamnya terbalas sempurna. Faiq masih mencoba bertahan dan mengembuskan napas berat.


Ia berjalan mengambil permen karet lalu dimasukkan ke keranjang, setelah melihat Shasha keluar, Faiq segera menuju kasir. Membayar barang belanjaan seharga 82 ribu rupiah.


Matanya melihat ke luar, mendapati Shasha yang memutar motor maticnya. Mata mereka bertemu sejenak sebelum saling membuang muka.


Faiq mengambil belanjaan yang sudah tersusun rapi di dalam plastik, kemudian berjalan keluar menuju mushola tempat Myesha dan Yuno berada.


"Nih, Sha. Cepat pakai." Faiq mengulurkan plastik itu ke Myesha.


"Tutupi bekas darahnya ya, Mas. Nanti aku bersihin setelah selesai ganti," kata Myesha sembari mengambil pembalut dalam plastik.


Jam tangan Faiq menunjukkan hampir pukul 3 sore. Tak ada waktu, dia harus buru-buru sampai rumah dan membereskan rumahnya supaya nyaman dihuni berdua. Sementara perjalanan masih jauh, mereka harus melewati Tri Datu, Sukadana, Pekalongan baru sampai ke Metro.


Pada akhirnya Faiq mengalah untuk mempersingkat waktu. Setalah Myesha beranjak dia juga memindahkan Yuno untuk bergeser lebih jauh menghindari noda darah. Bayi itu bermain dengan imajinasinya sendiri dengan nyaman.


Faiq mengambil alat pel, tak menyangka di hidupnya akan berurusan dengan darah datang bulan. Hal itu membuatnya bergidik geli. Dia harus membersihkan noda itu beberapa kali sampai yakin bahwa lantainya suci lagi. Ini adalah mushola, tak bisa dibersihankan sembarangan apalagi ada najis dari darah.


Tak lama kemudian Myesha sudah berganti baju dan celana yang tadi terkena noda darah. Ia memasukkannya ke dalam plastik dan mengikatnya.


"Udah selesai, ayo berangkat, Mas." Myesha menggendong Yuno.


"Sha, tunggu bentar. Ini kalau kamu nggak keberatan ya, kalau kamu keberatan aku bakal tetap maksa. Minggu depan temenin aku ke Tri Datu sambil bawa Yuno. Kita ke nikahan mantanku."


Tri Datu? Tiba-tiba Myesha teringat alamat keponakan bapak yang merupakan fansnya.


"Oke, nggak masalah, Mas. Anggep aja bayaran karena beliin aku softex."


Myesha hendak menuju mobil akan tetapi dicegah Faiq lagi. "Tapi Sha, kamu nanti pake kotak lens jangan pake kacamata."


Kali ini mata Myesha nyalang menatap Faiq, ia merasa tersinggung dengan kalimat yang baru saja terlontar.


"Kamu malu punya istri culun?"


Mendengar pertanyaan to the poin dari Myesha membuat Faiq terdiam sejenak. Kemudian dia berani membalas tatapan Myesha.


"Emang kamu nggak malu kalau aku dandan buluk di nikahan mantanmu?" Pertanyaan dari Myesha dibalas pertanyaan oleh Faiq.


Myesha diam sejenak, hadir di pernikahan mantan sama saja mempertaruhkan harga mati. Mencoba berpikir jika dia di posisi Faiq tentu ingin yang terbaik. Lagi pula ia sudah lama tidak berdandan dan selalu berpenampilan cuek. Mungkin sesekali dia bisa ke salon dan berdandan.


"Iya deh, asal beliin kotak lensnya trus bayarin salon, dan juga beliin baju baru."


"Tenang aja kalau soal itu, uangku lebih dari cukup."


.


...


Bersambung.


Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen, vote dan share. Makasih.