
Ada kecelakaan cukup besar pagi ini, rombongan pengantin yang akan menuju Palembang tabrakan dengan truk dan jatuh ke kanal yang terletak di Batang Hari. Semua korban di bawa ke rumah sakit ini. Wartawan memenuhi pintu masuk, mencoba mencari celah untuk mendapatkan informasi.
Bersyukur dokter UGD mampu mengatasi semuanya, Faiq tak perlu ikut membantu. Dia sendiri juga bukan orang yang akan melemparkan dirinya untuk membantu orang lain dan menjadi sok pahlawan. Malas, apalagi kejadian tadi malam membuatnya murung.
Setelah melewati wartawan dia menemui Dito. Pria berbadan tinggi yang hanya mengenakan jaket hitam. Tak memakai baju polisinya.
"Maaf lama, tadi banyak pasien," ucap Faiq.
"Saya ke sini mengambil suratnya. Saya tidak tahu membantu atau tidak, karena menangani kasus anda yang tidak resmi sebenarnya di luar kemampuan saya."
"Tidak apa-apa. Saya tahu anda membantu saya sekaligus menangani kasus anda adalah sesuatu yang sulit. Mendapat sedikit informasi saja saya sudah bersyukur."
"Saya mengintai Riki karena dia berhubungan dengan Pak Burhan. Ah, saya tidak bisa menjelaskan secara detail."
"Kalau ada yang bisa dibantu, saya akan mencoba membantu. Toh, kita bisa saling bekerja sama."
Faiq menyerahkan surat wasiat dari orang tua kandung Yuno. Masih berada di amplop biru. Dito menerimanya dan langsung memasukkan amplop itu ke dalam plastik. Lalu menyimpannya di dalam jaket.
"Mungkin hari minggu besok saya tidak bisa datang ke rumah anda. Malam ini saya harus ke Jakarta," ucap Dito.
"Saya mengerti, kabari saja jika ada sesuatu."
"Baiklah, saya permisi dulu."
Hanya dibalas senyuman oleh Faiq, pria berbadan besar itu pun meninggalkan rumah sakit. Bukan tanpa alasan Dito membantunya. Hanya kebetulan kasus yang sedang ditangani melibatkan Riki dan para tetangganya. Mungkin, jika bekerja sama mereka akan lebih mudah mendapat petunjuk.
Undangan makan malam dari Pak Burhan beberapa waktu lalu akhirnya dia setujui. Malam minggu, yang artinya besok malam. Dia dan Myesha mencoba mencari petunjuk di rumah Pak Burhan. Walaupun membenci Andre mereka tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ada petunjuk di sana.
Faiq mengembuskan napas berat, ia berjalan masuk ke rumah rumah sakit. Belum makan siang, dia akan langsung menuju kantin.
"Faiq!" Panggil seseorang. Seketika Pria itu menoleh ke belakang.
Pria dengan setelan jas putih itu menepuk pundak Faiq, tersenyum cerah. "Mau makan siang, 'kan? Bareng, ya?" Ajaknya.
"Iya. Ayo bareng."
Dani lebih tua 10 tahun dari Faiq, satu-satunya senior di rumah sakit ini yang menyambutnya dulu. Tidak merendahkan dia meskipun masih muda. Sekarang, mereka menjadi dekat.
Mereka memesan makan bersama karyawan lain. Duduk saling berhadapan untuk menikmati makanan yang sudah tersaji.
"Apa kabar istrimu?" tanyanya.
"Alhamdulilah baik, Pak."
Mereka mengobrol, tetapi tetap saja Faiq merasa lesu tak bersemangat dan menanggapi seadanya. Ketika ditanya kenapa lemas, Faiq hanya menjawab tidak enak badan. Tidak mungkin dia menjawab bahwa ularnya yang tidak enak badan setelah berlumuran darah tadi malam.
Tak ada yang spesial hari ini di tempat kerja selain isak tangis keluarga korban kecelakaan yang memenuhi area rumah sakit. Faiq bukannya tidak bersimpati. Tetapi hal seperti itu sudah sering dia lihat. Memilih menjadi dokter gigi adalah hal yang paling aman. Tak bekerja berlebihan dan menanggung beban ketika pasien tidak bisa diselamatkan.
"Assalamualaikum," ucap Faiq ketika sampai di rumah.
"Waalaikumsalam." Suara dari dapur.
Myesha sedang memasak. Sementara Yuno berada di kereta bayi dan memainkan kincringan. Rambut bayi itu berdiri tegak seperti terkena strum. Faiq meletakkan tas kerjanya. Dia mengambil Yuno dan menggendong bayi itu. Imut. Walaupun rambutnya diusap supaya tidak tegak tetapi percuma. Itu seperti alami bawaan lahir.
Bayi itu tertawa mendengar bunyi dari Faiq. Satu-satunya hal yang membuat pria itu tersenyum hari ini adalah keimutan Yuno. Anaknya.
"Anak ayah tambah besar, ya?" Faiq mencium pipi gembul bayi itu.
Oh. Ini adalah pertama kalinya Faiq menyebut dirinya sebagai ayah. Hatinya merasa tergelitik.
"Mas, aku ada kabar baik." Myesha keluar dari dapur. Masih memakai celemek berwarna biru yang sudah ada nodanya.
Faiq menurunkan Yuno dan meletakkan bayi itu ke kereta bayi lagi.
"Kabar apa?"
"Tadi Susi main ke sini dan kita ngobrol banyak. Dia baru aja pulang."
"Kan aku sudah bilang jangan main lagi sama Susi. Apa kamu dapat info soal Yuno?"
Myesha menggeleng. "Bukan tentang Yuno, tapi Susi ngajarin soal anu-anu walaupun lagi datang bulan."
Faiq mengerutkan keningnya. Tak mengerti. Apa sebenarnya yang diajarkan Susi kepada mahluk polos ini?
"Dia ngajarin apa?"
"Sini sini langsung praktek aja, habis itu Mas bisa mandi."
Myesha menarik Faiq untuk duduk di sofa. Pria itu hanya menurut apapun yang dilakukan Myesha, ntah kenapa dia memiliki firasat baik.
Kata Susi, walaupun ular tidak bisa mengunjungi gua tapi gunung masih bisa menjenguk ular. Dua gunung pun mendatangi ular, bertanya apakah dia baik baik saja setelah insiden berdarah tadi malam? Si ular menjawab dengan lesu bahwa dia sangat sedih. Dengan lembut gunung itu menyentuh ular, mencoba menenangkannya supaya tidak sedih lagi.
Faiq suka dengan apa yang dilakukan Myesha saat ini, lain kali dia akan membelikan Susi bakso sebagai tanda terimakasih karena telah meracuni otak istrinya yang polos.
Bibir Myesha terasa begitu lembut dan menyayangi si ular. Membuat ular itu bersemangat lagi setelah merasakan kecupan cinta. Tanpa sungkan si ular memberikan bisanya, tanda bahwa saat ini dia bahagia.
"Ya ampun HP ku ketinggalan!" Susi tiba-tiba membuka pintu dan mendapati pemandangan yang membuatnya terdiam.
Karena terkejut Myesha tak sengaja menelan sesuatu yang dari awal sebenarnya tidak ada niat untuk ditelan. Dia menutup mulutnya menahan muntah.
"Ini seperti yang kamu pikirkan," ucap Faiq. Bangga dan bahagia.
.
.
..
Bersambung
Otak gue ternodai 😭
yang kemarin nanya visual, ada di IG @ka_umay8
Aku males minta like ataupun vote. Kalo suka cerita ini pasti tau gimana cara menghargai author biar betah di sini. ya intinya mah gitu