Unknown Baby

Unknown Baby
Kebun Karet


Mereka mengobrol banyak hal, untuk pertama kalinya Dhamar mentraktir Myesha. Hari itu Dhamar juga memberitahu bahwa akan mengadakan prosesi lamaran minggu depan. Myesha menunggu kabar baik dan undangan.


Pukul setengah empat sore mereka meninggakan restoran. Berpisah setelah berjanji saling mengabari jika ada sesuatu yang terjadi.


Myesha memacu motornya ke alfa. Ia akan membeli popok. Di rumah popok Yuno tinggal sedikit. Mumpung ingat maka dia beli. Tetapi setelah keluar dari alfa helmnya hilang. Ia sudah bertanya dengan orang sekitar tetapi tidak ada yang tahu. Ia melaporkan kejadian tersebut ke petugas alfa, dan akan mengabari jika mereka menangkap pelaku yang diketahui wajahnya lewat CCTV. Sekarang masalahnya adalah Myesha tidak memiliki helm untuk pulang.


"Bisa kena semprit polisi kalau nggak pake helm, gimana ya."


Myesha melihat jam. Pukul empat lewat lima menit, dia putuskan untuk solat ashar dulu sebelum pulang lewat Tri Kora. Menghindari razia.


Telpon dari Faiq datang setelah sampai di mushola.


"Kamu di mana? Kan sudah aku bilang habis ditolak langsung pulang," omel Faiq dari telpon.


Insting Faiq memang kuat kalau Myesha habis ditolak. Bahkan gadis itu heran.


"Helm ku ilang, kayaknya bakal telat soalnya lewat Tri Kora biar nggak kena razia. Habis solat ashar aku pulang."


"Kamu tunggu di sana, habis mandiin Yuno Aku jemput kamu, bahaya pulang sendiri banyak begal."


Suara Yuno menangis terdengar. Faiq ternyata sedang bingung mau memandikan Yuno. Rumah semakin berantakan padahal pagi tadi Myesha sudah membereskan. Suara kekacauan terdengar saat Faiq tak sengaja jatuh karena tersandung barang.


"Nggak usah lah, Mas. Ini masih sore kok. Mas urus Yuno aja jangan lupa habis mandi kasih minyak telon. Udah dulu ya."


Myesha mematikan telponnya dan masuk ke mushola. Setelah solat ashar Myesha melaju menuju pasar Untung hingga sampai di balai desa Jati Mulyo dan belok kiri. 


Waktu menunjukkan pukul setengah enam. Langit mulai gelap, sebenarnya Myesha juga merasa takut. Tetapi dia tak ada pilihan lain. Sampai di pertigaan pasar Jati Mulya Myesha mengisi bensin sembari berharap ada kendaraan yang memiliki arah tujuan sama dengannya.


Ia memacu motornya dengan kecepatan penuh, berharap sudah melewati Tri Kora sebelum Magrib. Tetapi sampai di desa Pal Putih suara azan terdengar dan langit semakin gelap. Jantungnya berdebar, bingung apakah lanjut atau tidak. Tetapi jika tidak lanjut maka akan semakin malam sampai di rumah.


Akhirnya tetap lanjut hingga sampai di Tri Kora. Kebun karet yang sangat panjang. Myesha meresa takut tetapi dia lawan karena ingin cepat sampai rumah, di sini rawan begal dan jika lewat malam hari terasa menegangkan. 


Benar saja, di depan sana ada dua pria menghadangnya sembari membawa celurit. Menyuruhnya turun dari motor.


"Ah, aku harus gimana?" Myesha menggigit bibir bawahnya. 


Ia teringat kasus pembunuhan yang berada di jalan dua jalur. Mau menyerahkan motor atau tidak, besar kemungkinan nyawanya tidak selamat. Dia bingung. Putar balik pun tak bisa karena mereka juga memakai motor.


Di saat seperti ini dia baru menyesal kenapa menolak Faiq untuk menjemput? Kenapa dia tidak bisa bela diri? Kenapa dia memakai motor bagus? Kenapa menolak Faiq malam itu? Kenapa dia masih perawan? Setidaknya jika mati sekarang Myesha tidak ingin ada penyesalan.


"Walau kemungkinannya kecil tapi harus dicoba." Myesha membulatkan tekat.


Dia mengegas motornya sekencang mungkin ke arah dua begal itu. "Aaaa ....!!"


"Wanita gila!"


Satu orang terpental hingga membuat motor Myesha ambruk. Sementara yang satunya berhasil menghindar.


"Kalau mau mati jangan ajak-ajak dasar cewek gila!" Pria yang berhasil menghindar menodongkan celurit di depan leher Myesha.


Myesha menutup matanya, sepertinya dia akan mati. Apakah Faiq akan menjadi duda setelah ini? Semoga Faiq menikah lagi dengan gadis baik yang mau mengurus Yuno, hanya itu harapan Myesha.


Dia masih terduduk, kakinya terjepit motor. Pasrah. Padahal belum mengungkapkan perasaan ke Faiq kalau dia sudah menerima sepenuhnya. Eh malah mati. Apes.


"Boleh aku telpon orang sebentar? Sebelum mati aku mau ngungkapin perasaanku dulu biar nggak jadi arwah penasaran."


Myesha membuka mata dan menatap penjahat di depannya. Berharap harapannya itu dikabutkan. Setidaknya, dia ingin mengatakan kepada Faiq bahwa kembalian dari Mini Market Riki masih 15 ribu belum diberikan, lalu Tina meminjam uangnya 20 ribu. Lalu, dot Yuno yang berwarna ungu terjatuh di kolong tempat tidur belum diambil.


Masih banyak yang harus dia lakukan dan katakan. Apakah tidak ada kesempatan lain? Jika diberikan kesempatan sekali lagi. Dia berjanji akan menjalankan tugas sebagai istri dan ibu yang baik.


.


.


.


.


bersambung


Jangan lupa vote ya karena up tiap hari nggak mudah.