
Mobil melaju keluar dari kota Metro menuju Tri Datu tempat resepsi pernikahan Shasha dan Gilang dilangsungkan. Dengan kemeja berwarna biru langit Faiq terlihat sangat rapi. Aroma parfum menyeruap sampai tercium Myesha yang berada di sebelahnya. Gadis itu memangku Yuno sembari memberinya susu formula.
Bayi mungil itu memakai baju baru, kemeja berwarna biru langit yang mirip seperti Faiq. Sengaja pria itu memilih setelan yang hampir mirip. Siapapun kini bisa melihat bahwa Yuno sudah seperti anaknya sendiri dan mereka keluarga baru yang bahagia.
Ah, kini Faiq baru ingat. Penghubung dia dan Myesha adalah Yuno. Jika mereka menemukan orang tua bayi itu maka Myesha pun akan pergi. Dan semua kembali seperti semula. Faiq ingin semua tak secepat itu.
Mobil sudah sampai di daerah Sukadana, kabupaten Lampung Timur. Sebentar lagi mereka sampai ke acara resepsi. Faiq melirik Myesha dari samping. Dengan sikap polosnya gadis itu mengajak Yuno bicara sepanjang perjalanan.
"Oh ya, Mas ngamplop berapa?" tanya Myesha menoleh, mata mereka bertatapan sejenak sebelum Faiq buru-buru melihat ke depan lagi.
"Dua lembar daun mangga."
Seketika Myesha tertawa menganggap ucapan Faiq hanya bercanda. Padahal Faiq memang memasukkan dua lembar daun mangga kering ke dalam amplopnya.
"Mas, ini bisa aja bercandanya."
"Aku serius, Sha."
Faiq memberikan amplop yang sudah ia siapkan, belum dilem. Myesha melihat ke dalam amplop dengan sudah payah karena dia pegang sembari memangku Yuno.
Benar saja, itu dua lembar daun mangga kering. Myesha melotot ke arah Faiq. "Yang bener aja sih, Mas. Masak ngamplop kayak gini. Mas pingin viral ya?"
"Mereka nggak ngamplop waktu kita nikah, masih mending kita bales dateng walaupun niatnya pamer sambil makan gratis."
Myesha memicingkan matanya, tak setuju dengan ide konyol Faiq yang mengamplop dua lembar daun mangga kering. Dia juga bisa ikut malu nanti.
"Serius deh, Mas. Aku udah danda cantik gini masak ngamplopnya daun kering. Aku malu."
"Kamu itu dandan cantik buat aku bukan buat mereka."
"Ish ...."
"Iya deh iya, ganti pake duit. Berapa enaknya? Tapi jangan banyak-banyak."
"Dua ratus ribu lah."
"Terlalu banyak itu, sepuluh ribu aja."
"Emang mau beli cendol!"
Myesha memukul lengan Faiq, tak ingin bercanda karena mereka sudah memasuki daerah Tri Datu. Keluar dari jalan lintas timur dan melaju di jalan aspal sempit.
Terlihat beberapa mobil dan motor berlalu lalang, penumpangnya berpakaian rapi khas kondangan.
"Iya deh dua ratus ribu."
Myesha menerimanya sembari mengelem amplop itu, lalu ia memasukkannya di dalam tas kecil. Mereka keluar dari mobil dan disambut suara biduan berhandrok pendek. Nyaring dengan lagu dangdutnya.
Acara dilaksanakan di rumah Shasha. Anak kepala sekolah yang kini bekerja di kecamatan itu cukup populer dari jaman Faiq SMA. Wajar jika tamu undangan dan resepsi pernikahan digelar secara besar.
Sembari menggendong Yuno, Myesha berjalan di belakang Faiq yang menyalimi para penyambut tamu yang berjejer. Sebagian kenal dengan Faiq karena dulu sering main ke sini. Merasa pangling dan menanyakan kabar dokter muda itu. Tentu ini menjadi kesempatan besar untuk Faiq memamerkan Myesha dan Yuno.
Mereka langsung menuju prasmanan, Myesha tak mengambil makan dan hanya Faiq yang mengambil dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk berdua, katanya.
Mata Faiq bertatapan dengan kedua pengantin yang duduk di singgasana, mereka terkejut melihat Faiq datang dengan membawa seorang gadis cantik yang membawa bayi. Apalagi Faiq menyuapi Myesha yang tak bisa mengambil nasi karena menggendong Yuno.
Senyum kemenangan Faiq tunjukkan, bangga. Merasa bahwa pembalasan dendamnya sangat sempurna. Ingin rasanya tertawa selebar mungkin.
Setalah menghabiskan makanan di piring Faiq mengajak untuk menyalimi pengantin. Suara bidua masih menyanyi dengan nyaring.
Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersendau gurau.
Sekilas Faiq melihat ke arah biduan, ia merasa lagu itu lebih cocok dinyanyikan qosidah. Dari mana mereka mendapatkan biduan tidak jelas seperti itu? Faiq menggelengkan kepala.
Tangga kecil menuju pelaminan dinaiki Myesha dengan hati-hati dibantu Faiq. Takut terpeleset.
"Selamat ya, ternyata kalian jodoh, kenalkan ini istriku Myesha dan anak laki-lakiku Yuno."
Faiq menyalimi Shasha dan gilang kemudian mengenalkan Myesha.
"Hallo. Selamat ya buat pernikahan kalian," ucap Myesha sembari tersenyum.
"Terima kasih." Shasha membalas dengan senyum.
Sementara Gilang mendekat ke arah telinga Faiq dan berbisik, "boleh nggak kita tukeran istri. Punyamu lebih cantik dan semok."
"Mati aja kamu, Lang."
Temannya itu masih gila bahkan lebih gila dari jaman mereka sekolah dulu.
.
.
.
bersambung
Kasih vote buat dedek Yuno ya gengs. Buat beli popok dan susunya, kasihan gk bisa minum ASI dari Myesha.