
Bagi Faiq yang sejak kecil diajari bahwa yang paling penting adalah keluarga, merasa cukup puas dengan kehidupannya sekarang. Tak perlu terlalu mengejar materi, yang paling penting keluarganya berkecukupan.
Mobil tak perlu baru, motor Myesha sekarang sering mogok. Mereka sabar bolak balik bengkel. Tidak peduli kata tetangga yang berkata mereka terlalu irit. Bukan irit, tapi ada yang lebih penting. Yakni masa depan anak-anak. Selama masih bisa digunakan kenapa harus beli baru hanya karena omongan tetangga?
Apalagi anak mereka sudah lahir seminggu yang lalu, alhamdulillah sehat wal afiat. Berjenis kelamin laki-laki. Berat 3,2 KG. Berpipi merah dan memiliki bulu mata lentik mirip Faiq. Atas saran netizen, Faiq menamainya Kahfi Byakta Aryaan.
"Pakai saja uang tabunganku untuk buka klinik," ucap Myesha yang masih menyusui bayinya. Kali ini ASI nya keluar, tidak seperti ketika menyusui Yuno.
Faiq menidurkan Yuno di ranjang, tapat di samping Myesha. Box bayi bekas Yuno diwariskan ke Kahfi. Masih bagus dan sayang dibuang.
"Janganlah, buat anak-anak saja." Faiq menyelimuti batita jagoannya.
"Mumpung tanah di samping rumah Pak Lurah dijual murah, Mas. Lagi pula nggak ada ruginya, nanti bisa diwariskan ke anak-anak."
Faiq berbaring di samping Yuno, untuk kesekian kalinya tidak terlalu menanggapi Myesha. "Nggak usah, aku bisa pinjam bank atau apapun. Asal jangan pakai uangmu."
Hal yang tidak Myesha sukai dari Faiq adalah ini. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima bantuannya.
"Mas anggep aku apa sih? Kenapa nggak mau pakai uangku?" tanya Myesha marah. Faiq yang akan memejamkan mata kehilangan rasa kantuknya.
"Bukan gitu, Sha. Tapi --"
"Kita kan keluarga, pakai uangku atau uang Mas kan sama aja."
"Kok kamu jadi marah? Aku kan cuma nggak ingin ngerepotin kamu."
"Aku dah bilang berkali-kali nggak ngrasa direpoti. Tapi Mas harga dirinya terlalu tinggi sampai nggak mau pakai uangku, iya 'kan?"
"Aku masih mampu, Sha. Kamu pikir aku nggak mampu buat klinik sekaligus membiayai hidup kita?"
"Emang siapa yang bilang nggak mampu? Aku kan cuma bilang --"
"Udahlah aku ngantuk, nggak udah diterusin. Capek kerja seharian sekaligus ngurus Yuno." Faiq menarik selimut. Dia memunggungi Myesha yang sedang menyusui.
"Emang Mas pikir aku tiap hari nggak capek kerja juga ngurus Yuno?"
Rupanya Myesha belum ingin menghentikan perdebatan ini.
"Kapan aku nyuruh kamu kerja? Itu kan pilihanmu sendiri." Faiq menutup telinganya menggunakan bantal. Tak ingin mendengarkan bantahan dari Myesha.
Bayi kecil itu menyusu tanpa memikirkan perasaan orang tuanya yang baru bertengkar. Matanya terpejam, pipi merahnya masih bergerak untuk menyedot ASI.
Perasaan dongkol dan marah malam itu Myesha tahan, Faiq tak ingin mendengarkannya. Besok dia akan menggunakan cara lain supaya Faiq mau menurut.
Mereka kembali sibuk dan bergantian menjaga si kecil Kahfi. Tidur bergantian. Sekalipun dua ibu Faiq masih di sana akan tetapi mereka tidak ingin mengganggu. Selama masih bisa mengurus berdua tidak boleh merepotkan orang lain.
Pagi harinya semua terasa canggung, belum ada yang mau membahas soal tadi malam. Myesha ngambek. Dia berbicara pada Faiq hanya seperlunya. Begitu pun Faiq yang egonya tinggi.
"Kalian berantem, ya?" tanya Bu Eni setelah Faiq pergi bekerja.
"Nggak papa kok, Bu." Myesha masih menggendong Kahfi di depan rumah. Memberi sinar matahari pada bayi mungil itu.
Bu Eni duduk di samping Myesha, menikmati sinar matahari yang menyorot dari depan.
"Suami istri bertengkar itu biasa, namanya bumbu rumah tangga. Tapi tidak boleh lama-lama, kalau Faiq itu emang susah buat minta maaf duluan. Kamu sebagai istri harus bisa mengendalikan dia."
"Kalau itu mending kalian bicarakan baik-baik berdua. Soalnya gimana pun ibu pihak luar, yang ada Faiq malah tersinggung kalau ibu ikut campur."
Apa yang dibicarakan ibu benar. Tidak seharusnya Myesha meminta bantuan orang lain dalam rumah tangganya. Bisa jadi Faiq tambah marah. Dia tahu bahwa Faiq berusaha keras menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab.
Mungkin kesalahannya ada pada dirinya sendiri yang tidak bisa meluluhkan hati suami. Bisa jadi juga tutur katanya terlalu melukai harga diri Faiq. Myesha mengembuskan napas berat.
"Dedek Api." Yuno berlari mendekat, berdiri di depan bayi mungil itu, menghalangi sinar matahari yang sedang dinikmati.
"Yuno udah makan?" tanya Myesha.
"Dah, Uno bica maem cendili." Dia mengelap bibirnya.
"Yuno pinter banget ya, padahal dulu Faiq seumuran Yuno masih manja banget. Pasti Yuno mirip kamu." Bu Eni memuji sembari mengusap rambut lebat bocah kecil yang tengah memandangi adiknya.
"Hehe, iya."
Sebenarnya Myesha tahu betul bahwa Yuno tidak mirip dirinya atau pun Faiq, bocah itu sangat cerdas. Daya ingatnya kuat. Sekali diberi pelajaran Yuno langsung bisa mempraktekannya. Mungkin karena bibit orang kaya.
Sepulangnya Faiq ke rumah langsung disambut Myesha dengan ramah. Wanita itu tidak ingin berlama-lama marahan dengan suami. Tidak enak dan canggung. Biarlah mengalah lebih dulu.
Hal itu malah membuat Faiq bingung. Biasanya dia duluan yang merayu Myesha ketika wanita itu ngambek.
"Emb Mas. Maaf ya soal semalem," ucap Myesha ketika Faiq masuk kamar setelah solat magrib.
"Aku juga minta maaf karena kasar."
"Kalau Mas nggak mau gunain uang itu juga nggak papa. Aku mau nunggu. Maaf karena buru-buru supaya Mas buka klinik. Soalnya kalau Mas di klinik kan aku bisa mudah antarin makanan dan sering liat Mas kalau kangen." Myesha berkata manis untuk mencairkan suasana, sekaligus mencoba membuat Faiq baper dan tersentuh.
"Jadi kamu pingin aku buka klinik supaya bisa berkunjung?"
"Iya, soalnya aku kan sering kangen sama Mas. Kalau lagi kangen aku bingung karena rumah sakit tempat Mas kerja jauh. Jadi ya cuma bisa nahan kangen sampai Mas pulang," ucap Myesha sembari malu-malu.
Dor! Hati Faiq tertembak tepat sasaran. Laksana gunung es terkena pemanasan global, airnya langsung meleleh dan menimbulkan tsunami. Meluluhlantahkan permukaan.
Pria itu menahan senyumnya, hatinya bagai musim panen. Bersenandung ria karena mendapat limpahan rezeki.
"Kalau itu maumu ya nggak papa buka klinik."
"Mas nggak papa kalau pakai uang tabunganku?"
"Mau gimana lagi, aku kan kasihan kalau kamu kangen."
Myesha memalingkan wajah kesamping dan bibirnya ternyum lebar. Dalam hati dia berteriak. 'Berhasil! Berhasil! Hore!' layaknya Dora yang berhasil menyelesaikan misi.
.
..
bersambung.
Part ini panjang bgt yak. Jangan lupa like, komen, vote dan share. makasih.