Unknown Baby

Unknown Baby
Jam


Myesha juga mempertanyakan hal tersebut, sekalipun Yuno bukan bayi Riki tetapi pemuda itu tetap mencurigakan. Dia seperti mengetahui tentang Yuno.


"Oh ya, Susi dan Tina juga hapus dari daftar tersangka. Mereka nggak mencurigakan sama sekali. Susi juga punya celana dalam baru."


"Kenapa kamu perhatian banget sama celana dalam Susi?"


"Soalnya aku liat dia waktu jemur," jawab Myesha cepat.


Bukan itu yang Faiq maksud, menguras celana dalam tetangga bukan hal yang harus dilakukan. Kecuali dia orang mesum. Faiq tak berpikir sama sekali bahwa Myesha orang yang seperti itu.


"Kata Tina yang ngelaporin kita itu Bu Warsih, beliau bidan sekaligus istrinya Pak RT. Terus Bu Warsih ini punya anak gadis seumuran aku tapi suka kelayaban dan nggak jelas kerjaannya apa. Kalau menurut gosip anaknya Bu Warsih ini suka gonta ganti cowok. Menurut Mas, dia mencurigakan banget nggak sih?"


Myesha memandang Faiq di sampingnya, sementara Faiq masih memandang tajam ke papan. Menyimak informasi dari Myesha dan mencoba menyimpulkan sesuatu.


"Aku kenal Bu Warsih, beberapa bulan yang lalu Bu Warsih sering promoin Halima, anak gadisny. Biasalah jodohin ala emak-emak. Kalau Halima dia itu suster, tapi bukan di rumah sakit tempatku bekerja. Aku sendiri nggak tahu Halima orang yang seperti apa, cuma beberapa kali ketemu."


Faiq mencoret foto Tina dan Susi, kemudian menuliskan nama baru yakni Bu Warsih dan Halima. Dua orang yang menjadi tersangka baru.


"Kalau dipikir emang mencurigakan, Halima waktu itu emang sempet deketin aku. Tapi karena aku sudah ada 4 pacar jadi sibuk. Nggak ada waktu buat nanggepin." Lanjut Faiq.


"Oh ya, waktu kita nikah dan Mas putusin para pacar Mas. Gimana tanggapan mereka?" tanya Myesha penasaran.


"Biasa aja, toh kita pacaran cuma lewat chat. Aku nggak ada waktu buat ketemuan, sibuk Sha. Siang kerja, malem ngurus Cucut, santai, main game, rebahan."


Mendengar itu Myesha menyipitkan matanya, merasa kasihan dengan para pacar Faiq. Kura-kura dan rebahan bagi Faiq jauh lebih penting dibanding pacar, hebat. Batin Myesha.


"Nanti aku coba cari tahu soal Halima, kebetulan aku kena dokter yang satu rumah sakit sama dia. Di tempat Tina dan Susi kamu dapet apa lagi?" tanya Faiq.


Kali ini mata mereka berpandangan sejenak sebelum kembali melihat ke papan.


"Aku mau ikut posyandu buat deketin Bu Warsih dan cari info dari emak-emak gosip di sana. Sekalian Yuno ikut posyandu."


"Iya udah waktunya Yuno ikut imunisasi, udah dua bulan lebih kayaknya dia lahir."


"Dia tambah imut ya Mas, apalagi waktu usaha miring. Gemes banget."


"Kalau gitu fix ya pembahasan kita malam ini," kata Faiq setelah melihat jam. Pukul sebelas malam.


"Eh tunggu, Susi ngasih aku video tapi belum sempet aku tonton. Katanya sih nontonnya harus sama Mas bair sekalian praktek."


Myesha mencegah Faiq yang hendak berjalan. Gadis itu memegang lengan pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. 


"Video apa?" tanya Faiq. Berbalik menghadap Myesha karena penasaran.


"Aku juga nggak tahu, tapi katanya kalau Mas gerak aku juga harus gerak. Aku sendiri juga nggak paham maksudnya apa."


"Yaudah mana videonya, kita tonton. Ya kalau bermanfaat kita praktekin kayak yang disuruh Susi."


Myesha tersenyum mendengar Faiq mau merespon video itu, "Aku ambil flasdisknya di laci kamar dulu ya, Mas."


"Iya, cepat keburu ngantuk."


Myesha segera berjalan ke lantai bawah, langsung menuju kamar. Saat itu Faiq lupa bahwa telah menaruh benda segi empat berisi balon yang dia beli di laci kamar, satu tempat dengan flasdisk yang ditaruh Myesha.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa votenya gengs. Kalau ada koin kasih aku ya ≧ω≦


Kalau sempet ntar malem up lagi, gk janji tapi.