Unknown Baby

Unknown Baby
EP 10 Oleng


Mereka sampai di hotel pukul sepuluh malam, langsung memesan kamar. Myesha meminta supaya Faiq tidur dengan Dhamar, takut sahabatnya itu bunuh diri lagi.


"Dia udah dewasa, kalau mau mati ya mati aja." Kesal Faiq.


"Jangan gitu, Mas. Tolong bantu sekali ini aja."


Sekali? Faiq tak habis pikir. Dari kapal sampai memesan hotel. Padahal Dhamar tinggal di Jakarta. Kenapa juga harus memesan hotel sama dengan mereka? Faiq sangat kesal karena Myesha mengistimewakan temannya lebih dari dia.


Meskipun baru menikah 5 bulan, tetapi Faiq lah yang seharusnya diutamakan. Statusnya suami dan ayah dari anak mereka. Tidak seharusnya Myesha membuat Faiq bersedekah kepada teman Myesha.


"Dengar, Sha. Aku ini suami kamu Sebagai istri tolong hargai aku sebagai suamimu."


"Kalau gitu aku aja yang nemenin dia gimana?"


"Kamu mau tidur satu kamar sama dia?"


"Aku bawa Yuno juga, jadi bertiga."


Mendengar itu Faiq menyipitkan matanya, tak habis pikir dengan Myesha. Percuma ngomong sama Myesha, tidak akan ada pekanya. Faiq menyerah.


"Sudahlah, biar aku yang temenin dia."


Faiq pindah kamar, kesal bercampur sebal dengan Myesha. Dia masuk ke kamar Dhamar. Tidak menutup rapat pintunya, Myesha sebentar lagi datang membawa sikat gigi baru.


Dhamar baru selesai mandi dan memiliki baju ganti. Kaos dan celana yang tertata rapi di atas ranjang. Dari mana baju itu? Padahal Dhamar tidak membawa tas.


"Loh, kenapa bukan Myesha yang ke sini?" tanya Dhamar baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah dan hanya mengenakan handuk sepinggang.


"Kau sudah gila?"


"Hahahaha, canda."


Dari awal tingkah Dhamar sudah aneh, mana ada orang bunuh diri seperti itu. Dia terlihat seperti orang yang suka cari perhatian. Sayangnya Myesha termakan akting Dhamar.


"Hahahaha, Myesha itu menyukaiku. Dia cukup manis. Tapi tenang aja, aku nggak suka sama dia."


"Jauhi Myesha. Aku tidak akan mengatakan hal itu dua kali."


"Mana mungkin aku jauhi Myesha, dia sahabatku yang paling manis."


"Aku tahu calon istrimu baru saja meninggal, tapi bukan berarti kamu berhak mengambil istri orang."


"Jangan salah paham sama Zara, aku emang sedih dia meninggal. Tapi aku lebih sedih karena belum menguasai hartanya."


"Jadi, kamu menikah dengan Zara cuma karena uang?"


"Siapa juga yang mau sama cewek yang suka ngrengek. Mereka itu sumber masalah."


"Aku nggak peduli kamu suka Zara atau nggak, satu hal yang pasti. Jangan dekati Myesha. Dia miskin. Nggak bisa kamu ambil uangnya."


Dhamar melempar handuk ke atas ranjang, tidak memakai baju ganti yang sudah siap pakai. Tetapi dia malah mendekat ke Faiq. "Aku tidak akan mendekati Myesha, asal...."


Dhamar tiba-tiba merobek baju Faiq hingga kancing kemejanya lepas semua, mata Dhamar kagum melihat otot kekar Faiq yang terawat. Sebelum Faiq mengerti apa yang terjadi. Dhamar menyambar bibirnya, seketika Faiq merasa nyawanya keluar dari tubuh.


"Apa yang kalian lakukan?!" Myesha menjatuhkan sikat gigi beserta odolnya.


Myesha seakan menjadi patung, tubuhnya tidak bisa digerakkan melihat suaminya berciuman dengan kakak kelas yang selama ini dia puja. Apalagi keadaan mereka seperti bermesraan panas.


Faiq mendorong Dhamar hingga hampir terjatuh, buru-buru mengelap bibirnya yang ternoda.


"Sha, ini nggak seperti yang kamu duga."


Dhamar menyela, "maaf Mye, aku nggak bermaksud ngrebut suamimu."


Napas Myesha seakan berhenti, dia tidak menyangka akan ditikung dengan cara seperti ini. Ia bahkan bingung siapa nikung siapa. Dia ditikung temen atau gebetan ditikung suami.


Kepala Myesha mendadak pusing melihat Faiq berusaha menutupi dadanya yang telanjang. Apalagi sikap Dhamar yang keliatan seperti orang ketahuan. Raut wajah Dhamar seperti orang yang merasa bersalah. Padahal Myesha kira Dhamar sedang frustasi karena ditinggal meninggal pacarnya. Tetapi kenapa melampiaskan ke suaminya?


"Sha, jangan mikir aneh-aneh. Suer aku nggak ada apa-apa sama Dhamar. Aku normal, Sha!"


"Maaf, Mye. Seharusnya aku sama Faiq nggak saling tergoda."


Myesha tidak tahan membayangkan Faiq dan Dhamar melakukan 'itu'


"Aku pingin cerai!" Myesha berteriak. "Aku nggak nyangka ternyata kamu oleng, Mas!"


Myesha seperti orang terbakar, dia tidak tahu mana yang benar dan salah. Melihat secara langsung suaminya ciuman dengan pria lain membuat otaknya konslet.


Mungkin, kalau Faiq ketauan ciuman dengan wanita lain. Myesha akan menangis kencang dan sedih. Tapi apa ini? Myesha bahkan bingung harus bagaimana melihat suaminya oleng suka batangan.


.


.


.


.


bersambung


makasih banyak udah mampir. Maapin bulan kemarin yang mendadak ada masalah. mog bulan ini bisa up lancar. oh ya, bumi kahyangan up duluan di W A T T P A D. Kalo dah tamat baru aku taruh di sini. Di wp gratis kok. kalo gk punya WP bisa ketik di google Bumi Kahyangan karya Ka Umay. bisa dibaca lewat google. makasih