
Aruna, Jojo dan Wahyu sampai di rumah sakit, setelah bertanya dimana ruangan Saman mereka segera berjalan menuju ruangan tersebut. Langkah Aruna terhenti saat dia mendengar namanya di sebut. Dia, Wahyu dan Jojo saling pandang mendengari semua pengakuan Saman.
"Bukan tidak mau berjuang Sibki. Melihat Aruna bahagia itu sudah sangat cukup bagiku," lirih Saman.
"Assalamu alaikum," lirih Aruna.
"Waw wa.. wa," Saman terbata.
"Wa alaikum salam," jawab Sibki.
"Kapan kalian sampai kemari?" Tanya Sibki.
"Barusan…" jawab Jojo santai.
Mendengar kata "baru sampai" membuat Saman lega. Dia pun memasang senyumnya.
"Bagaimana keadaan kaka?" Tanya Aruna.
"Baik…" jawab Saman santai.
"Si kembar bagaimana?" Saman bertanya balik.
"Mereka baik… makasih sudah menolong mereka, aku tidak tahu bagaimana aku jika mereka terluka, saat ini hanya mereka bertiga yang membuat aku semangat," lirih Aruna.
Hati Aruna tereyuh melihat luka-luka Saman karena melindungi anak-anaknya.
"Saman!!! Sekarang mengaku! Apa kamu masih cinta sama Aruna?" Tanya Sibki.
"Sibki… tolong jangan beri pertanyaan yang tidak bisa aku jawab," lirih Saman.
"Jawab iya atau tidak apa susahnya," seru Sibki.
"Bukan iya atau tidak!!! Tapi efek dari pertanyaan itu," jawab Saman.
"Aruna… maukah kamu membuka lembaran baru dengan lelaki keong ini? Selamanya dia tidak akan berani mengakui perasaannya," lirih Sibki.
"Sibki… ku mohon… aku tidak bisa membagiakan Aruna, aku hanya pemuda biasa, bukan pengusaha seperti Aan, juga bukan orang ber ilmu seperti Ali," lirih Saman.
"Aku ingin mendengar ucapan yang kak Sibki ucapkan dari mulut Saman," lirih Aruna.
"Aaaa?" Saman tegang.
"Katakan…" bisik Sibki.
"Maaf Aruna, aku minta maaf karena tidak bisa berhenti mencintai kamu," lirih Saman.
"Lupakan saja perasaan ku, aku tidak pantas buatmu, apalah aku di banding Aan, dia pengusaha sukses... tampan dan…"
"Kalau kak Saman memang ingin menjadikan kami bagian keluarga kaka, lamar saja aku lewat abah, bapak atau kak Sibki, mereka wali aku," lirih Aruna.
Saman diam tidak berani lagi bicara. Wahyu dan Jojo saling pandang.
"Ekhh hem…" seru Sibki.
"Ak… aku pasti akan melamarmu Aruna, tapi setelah luka ini sembuh," lirih Saman.
"Nak Saman terluka karena melindungi cucu kami, alangkah senangnya kami jika kami bisa merawat nak Saman," seru Wahyu.
***
Setelah pulang dari rumah sakit Aruna selalu melamun.
"Kenapa sayang?" Mastia membelai Aruna.
"Kak Saman dua kali bekorban demi melindungi aku," lirih Aruna.
"Terus?"
"Kalau kamu yakin menikahlah… ketiga anakmu butuh figur bapak," lirih Suminten
"Tapi Aan masih disini," ringis Aruna memukul dada bagian kirinya.
Suminten dan Mastia memeluk Aruna, mereka mengerti kepedihan putri mereka.
"Menikahlah demi anak-anak kamu," seru Suminten dan Mastia bersamaan.
Aruna, Suminten dan Mastia saling pandang. Karena kompak mengucap kalimat yang sama.
***
Sibki segera mengurus pendaftaran nikah Aruna dan Saman ke KUA. Setelah pendaftaran beres kini mereka akan melangsungkan akad nikah di KUA tersebut.
Tanggal pernikahan mereka sudah di tentukan Oleh pihak KUA untuk memastikan masa iddah Aruna benar-benar habis. Kini Saman di bantu Sibki memakai setelan jas nya, susah payah karena luka nya belum sembuh, telapak tangan kirinya juga masih di perban. Kini semua orang berkumpul di KUA untuk mengahadiri ijab kabul Aruna dan Saman. Satu sentakkan tangan, Saman lancar mengucap ijab kabul pernikahan mereka. Kini Aruna sudah sah menjadi istrinya.
Setelah menikmati nasi kotak yang tersedia mereka segera membubarkan diri. Saman dan Aruna sudah berada di rumah Suminten dan Wahyu yang di belikan Jojo buat mereka ketika mereka datang ketempat Jojo. Jojo, Saman, Sibki dan Wahyu asyik mengobrol di ruang tamu. Hari mulai sore Jojo dan Sibki pamit. Namun si kembar menangis ingin ikut kakek dan pamannya. Ketiganya di bawa Sibki dan Jojo kerumah mereka.
Aruna sudah berada di kamarnya, Saman perlahan masuk kamar itu. Dia sungguh gemetaran melihat Aruna mematung tanpa mengenakan kerudung.
"Maaf Aruna… dimana kamar mandi?" Tanya Saman.
Aruna menunjuk pintu kecil dekan Saman berdiri.
Saman membuka kopernya dengan sebelah tangan karena tangan kirinya terluka. Setelah mendapat handuk dan keperluan mandinya Saman perlahan membuka bajunya. Berbagai cara Saman lakukan untuk melepas jas nya, namun tidak juga terlepas. Saman melihat ke arah gagang pintu. Dia berjalan ke arah pintu itu untuk mengaitkan sisi jas agar mudah dia lepas.
Langkahnya terhenti saat tangan mendarat di bahunya.
"Maaf…" lirih Aruna. Aruna membantu Saman melepas jas yang dia pakai.
"Aku yang minta maaf seharusnya aku menikahimu setelah sembuh agar tidak merepotkan mu," lirih Saman.
Aruna hanya diam dia fokus melepas satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Saman. Pandangan mereka bertemu Saman mendekatkan bibirnya ke bibir Aruna, bibir mereka bertemu. Aruna diam tidak merespon Saman. Saman pun berhenti.
"Maafkan aku," lirih Saman. Dia menjauh dari hadapan Aruna.
Melihat belakang Saman yang terluka Aruna merasa sangat bersalah karena menolak suaminya. Padahal Saman berkorban untuk dirinya dan melindungi anaknya.
"Tunggu… sini aku bantu," Aruna melepaskan lengan kemeja yang masih menepel pada tangan kiri Saman yang terluka. Aruna melempar sembarangan baju kemeja Saman. Dia menyentuh luka yang ada di pergelangan tangan Saman.
"Apa lukamu aman terkena air," bisik Aruna.
Saman tersenyum. Dia segera menyudutkan Aruna pada tembok kamar di dekatnya. Pertemuan mereka semakin hangat. Kini keduanya berada di tempat tidur Aruna. Saman mulai memasang aba-aba untuk mengucapkan salam karena akan mengetuk pintu Aruna.
"Tunggu…" Aruna bangkit.
"Kalau kamu tidak bisa jangan di paksa, menikahimu saja aku sudah bahagia, tidak perlu lebih,"
Aruna menarik laci di sampingnya dan mengambil kepingan obat.
"Maaf… aku baru lebih satu tahun pasca ceasar, aku belum di anjurkan hamil, aku minum ini dulu," Aruan menelan pil kb yang sudah dia sediakan.
Saman tersenyum ternyata Aruna mempersiapkan segalanya menurutnya. Saman melanjutkan kembali kegiatan mereka. Sore yang hangat menjadi semakin hangat. Pengantin yang baru menikah tengah menunaikan ibadah mereka.
Aruna memjamkan matanya karena Saman terus bekerja padanya. Namun wajah Aan sangat jelas Aruna lihat, Aruna tidak karuan rasa. Di atasnya Saman tengah menggagahinya. Tapi hati dan pikirannya terbayang sosok Aan.
"Hemmpp..." Aruna memangup mulutnya karena tidak tahan dengan bayangan Aan yang menari-nari di benak hati dan pikirannya. bayangan itu semakin jelas. Aruna menggeleng ke kiri dan ke kanan berusaha mengusir bayangan Aan.
Saman semakin bersemangat melihat reaksi Aruna. Dia mengira Aruna tidak tahan dengan gempurannya. Sehingga Saman semakin mempercepat aksinya.
Aruna membuka matanya memandangi Saman, senyuman kebahagiaan Saman membuat hatinya ciut. Saman di hadapannya namun Aan yang ada di hatinya
Aruna merubah arah pandangannya memandangi langit-langit kamarnya. Membuang pandangan membuatnya lebih lega. Membiarkan tubuhnya untuk lelaki yang baru menikahinya dan membiarkan hati dan pikirannya di kuasai oleh bayangan laki-laki yang dia cintai. Mantan suaminya Aan. Yang kini hanyalah menjadi sekelumit masa lalu yang sangat indah baginya. Karena masa depannya saat ini anak-anaknya dan Saman.