Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 33* Masbuk


Satu jam terlelap, Nurul terbangun dari tidur sekelap nya. Dilihatnya Ali sungguh terlihat nyaman dalam tidurnya. Nurul tersenyum membayangkan kejadian barusan. Sungguh dia sangat tidak percaya akan menjadi istri laki-laki yang dia kagumi selama ini.


Nurul perlahan menggerakkan kakinya turun dari kasur, takut Ali terbangun. Namun dia tidak sengaja meringis, menahan rasa perih di antara dua pahanya.


"Mau kemana?" Tanya Ali yang terbagun mendengar ringisan Nurul.


"Mau mandi a'a," jawab Nurul.


"Nanti saja ... aku ingin mengulangi nya lagi," ucap Ali, dia mengguling tubuhnya hingga mendekati Nurul, lalu ia menarik Nurul agar berbaring bersamanya.


Ali mengulangi ritual malam pengantinnya bersama istrinya lagi, namun kali ini, Ali meminta Nurul yang mengemudi. Baru menetralkan napasnya, Ali memintanya lagi, hanya jeda beberapa menit mereka melakukan lagi. Ini kali yang ketiga Ali menggauli istrinya.


Selesai di putaran ketiga, Ali langsung mandi karena ingin sholat tahajjut dan ibadah lainnya, sedang Nurul masih berada dalam balutan selimut. dilihatnya jam masih pukul empat dini hari, perlahan Ali mendekati istrinya lagi, menghujani Nurul dengan ciuman, lalu mengulangi kembali mengulangi aksinya, padahal dia baru selesai mandi. Ini kali yang keempat Ali melakukannya.


Lama berpetualang, Ali hampir ketinggalan sholat subuh berjama'ah di mushalla, karena saat adzan berkumandang ia baru mandi ritual lagi.


Di Mushalla, 10 menit sudah selesai adzan tidak ada tanda ustadz Ali datang, akhirnya salah satu jemaah diminta menjadi imam, iqamah pun berkumandang.


Selesai iqamah Ali baru selesai sholat sunnat subuh, di rumah Nurul. Selesai sholat sunnah dia segera berlari menuju mushalla. Sesampai mushalla gemuruhan kalimat "آمين" menggema, karena imam selesai baca surah Al-fatihah.


Ini pertama kali Ali jadi ma'mum yang paling belakang karena telat datang. Segera ia ikut sholat subuh berjamaah. Selesai salam. Jema'ah yang berada tepat di samping Ali kaget. Ini pertama kalinya juga Ustadz Ali menjadi masbuk. Para jamaah senyum senyum. Memaklumi, karena ini malam pertama ustadz mereka.


Di rumah Nurul.


Selesai sholat sunnat israq, Aruna dan Salha segera ke dapur bersiap memasak. Di meja makan sudah tersuguhkan segelas kopi dan satu teko teh hangat dan beberapa buah gelas. Aruna menyajikan cemilan teman ngeteh dan ngopi, sedang Salha menyelesaikan masakan di dapur.


"Akhhh ...." pekik Aruna.


Nurul mengalungkan pergelangannya di leher Aruna, tidak terlalu kencang namun mengagetkan.


"Ini si biang kerok!!!" Gerutu Nurul.


"Nurul ...." ucap umi Fatma.


"Maaf umi ...." Nurul melepaskan Aruna.


"Harusnya kamu itu terima kasih sama Aruna,


berkat mulut lemesnya, umi punya menantu, dan--- hemmm," dehem umi Fatma. Seakan menggoda Nurul.


"Umi ... tapi Aruna ngeselin umi ...." Ringis Nurul.


"Ngeselin karena bantu melancarkan ibadah kamu?" Goda umi Fatma.


Nurul semakin kesal dengan tanggapan ibunya, sedang umi Fatma tersenyum kecil.


"Aruna ... insyha allah kamu juga kecipratan pahala ibadah mereka tadi malam," ucap Fatma.


Aruna semakin tersenyum, mengejek Nurul.


Karena mendapat dukungan dari umi.


"Emang kamu tau yang dilakukan pengantin baru?" Ejel Nurul, sambil menatap tajam Aruna


"Ya elah ... kak Nurul ... aku ini janda," jawab Aruna lemas.


"Gimana rasanya malam pengantin kamu dulu?" Goda Nurul.


"Engga tau kak ...." jawab Aruna.


"Lah kok nggak tahu?" Umi Fatma heran.


"Kak Nurul ... umi ... disaat kami melakukan upacara malam pengantin, aku tidak tahu, aku berada di mana, memang sebelumnya aku sadar, namun ketika saat akan melakukan acara intinya, aku hilang kesadaran dan ketika sadar ... aku hanya melihat suami aku--" Aruna merintih menahan tangisnya, teringat nasib tragis laki-laki yang akan menyentuhnya.


Aruna berusaha meneruskan ucapannya. "Hingga mereka mati tepat di depan mataku," ringis Aruna. Aruna tidak bisa lagi menahan tangisannya. Flash back kenangan wajah wajah laki-laki yang mati di liang mautnya, kejadian demi kejadian terus terbayang-bayang di benak Aruna.


"Maafin kaka Aruna, kaka ngga berniat membuat mu teringat masa lalumu, maaf ... kaka lupa deritamu." Nurul memeluk Aruna dan mengusap belakang Aruna.


"Maaf Aruna ... kaka lupa semua kepedihanmu, maaf ...." ungkap Nurul.