
***
Maya sadar dari pingsannya selama 3 minggu.
"Kak ... lapar," lirih Maya,
Segera orang-orang menyediakan makanan buat Maya. Setelah makanan siap Maya segera makan dengan lahapnya. Kondisi Maya sedikit membaik, kini Andika dan Maya tinggal di rumah Nurul.
Ali melakukan ruqyah pada Maya setiap malam, satu minggu sudah Maya keluar dari rumah sakit. Namun dia masih belum pulih total.
Andika duduk di sisi Maya memandangi wajah istrinya yang nampak pucat. Kali ini Maya menjalankan ruqyah di ruangan yang biasa Ali pakai.
"Terimakasih sayang ... terimakasih telah mencintaiku dan mewarnai hati serta hidupku," lirih Andika.
Maya tersenyum. Maya menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Andika.
Ali tidak kuasa melihat kejadian itu, dia keluar dari ruangan ruqyah dan menangis.
"Ada apa kak Ali?" Tanya Nurul.
Ali menggeleng kepala, sambil menghapus air matanya.
Mendengar suara dari arah luar, Andika segera melepas pelukan nya, dan berjalan menuju arah suara itu.
"Ada apa?" Tanya Andika yang menghampiri mereka.
"Sepertinya kita terlambat menyelamatkan Maya, sisa jin yang lain tidak mau keluar sampai Maya Mati," jawab Ali sambil berusaha menahan tangisnya.
Andika berdecak tidak percaya, dia pergi meninggalkan Ali dan Nurul, dan kembali menemani Maya.
"Hai ... sayang ... kenapa sih kamu ngga melihat cinta yang besar dari aku buat kamu," seru Maya di bawah pengaruh jin.
"Sayang ... aku selalu cinta kamu ..." jawab Andika lembut.
"Aku ngga mau kaka mencintai dia, aku hanya mau kaka mencintai majikan aku," seru Maya.
"Maya ... tenang ... sampai kapanpun kaka hanya mencintai kamu ..." seru Andika.
"Dasar perempuan sialan ...!!!" Teriak Maya.
Mendengar teriakan Maya Ali dan Nurul masuk keruangan Maya.
"Dia harus segera Mati!!!" Teriak Maya
Ali yang melihat itu berusaha untuk menetralkan gangguan itu. Namun Ali malah terpelanting jauh ketika Maya menatap nya.
Saat Ali kembali ke ruangan Ruqyah, ternyata Maya sudah tidak bernyawa lagi. Andika menangis histeris karena tidak mampu menolong Maya. Dia menangis sejadi jadinya. Sambil memeluk tubuh Maya erat.
Para murid Ali menenangkan Andika.
Sedang Ali menangkap jin itu dan membelenggu jin itu di gelang yang di gunakan Maya. Ali melepaskan gelang itu dari tangan Maya. Lalu memberikan nya ke Andika.
"Aan ... simpan ini ... jika suatu saat nanti kamu ingin mengetahui, siapa yang setega ini pada Maya," lirih Ali.
Andika menerimanya, lalu melepaskan jasad Maya yang dia peluk, dia rebahkan perlahan ke lantai, lalu bangkit dan memeluk Ali.
"Maafkan aku ... andai Aku tidak curiga padamu, pasti kita bisa menolong Maya," lirih Andika.
"Jangan begitu ... ini sudah ketentuan Allah, Maya mati tidak membawa dosa. Karena dosa-dosa nya di tanggung orang yang membunuh nya," seru Ali.
"Apa maksud mu?" Tanya Andika
"Dalam agama kita, haram membunuh seseorang tanpa sebab, Maya dibunuh dengan Halus, padahal dia tidak salah. Maka si pembunuh itu yang menanggung dosa-dosa Maya," terang Ali.
Corong speaker mushalla menggema memecah kesunyian, mendengar kabar kematian Maya, para warga komplek pun datang melayat kerumah Fatma.
Fatma baru sampai keruangan Ruqyah, dia sungguh tidak percaya melihat jasad Maya terbujur di hadapan nya.
"Ali ... apa kamu tidak bisa membantu nya," ringis Fatma,
"Maaf umi ... kami terlambat mengobati Maya di guna guna orang " lirih Ali.
"Umi ... ini salah Aan umi ... Maya tinggal bersama Aan, di rumah Aan, Aan tidak tahu sama sekali masalah ini umi ... bahkan Aan tetap bersikeras merawat Maya di rumah sakit, padahal dokter sudah menyerah," pekikan tangisan Andika meratapi kepergian istri tercintanya.
Fatma menangis meratapi kepergian Maya,
Mulut Maya menganga lebar dan mengeluarkan sesuatu.
"Ali ...!!!" seru Andika.
Ali kembali memakai sarung tangannya, Ali perlahan mengeluarkan sesuatu yang keluar dari Mulut Maya itu.
"Astaghfirullah ..." gumam semua yang ada, melihat gulungan celana dalam yang keluar dari mulut Maya. Di dalam gulungan celana dalam itu terdapat potongan rambut Maya.
"Hina sekali orang yang melakukan ini, dia memakai rambut dan celana dalam Maya untuk melakukan Aksinya bahkan mengirim kembali lewat tubuh Maya." gerutu Ali.
Andika semakin terpukul dan sangat sakit hati melihat kejadian yang tidak wajar atas kematian istri tercinta nya.
Ali membersihkan celana dalam dan rambut yang keluar dari mulut Maya itu lalu meminta Andika untuk menguburnya segera di mana saja.