Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 156


Setelah mengetahui Deli menikah di desa, Aan segera menemui sahabatnya, Iqmal. Untuk membatalkan perjodohan Deli dengan anak Iqmal. Aan dan Iqmal berjanji bertemu saat makan malam nanti di rumah Aan.


***


Di desa Kayu Alam.


Setelah sholat subuh Deli dan Akhmad bersiap untuk kembali ke kota.


Akhmad memandangi Deli yang fokus memasukan persiapan mereka untuk di kota nanti. "Maafkan aku saat di sampan, saat itu aku benar-benar tidak sadar."


Deli selesai menyusun persiapan mereka. Tangannya langsung menutup resleting tas travel iti. Dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. "Sudahlah, aku mengerti. Saat itu, kita sama-sama belum siap."


Akhmad tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. bibirnya mengukir senyuman yang begitu lebar. Mengingat kegiatan yang mereka ulangi kembali di rumah ini. "Jadi ... tadi malam kamu siap ya?" Goda Akhmad.


Deli merasa wajahnya terasa hangat. Dia tidak berani memandang wajah laki-laki yang berdiri di sampingnya, yang sudah sah menjadi suaminya. Tanpa memandang wajah suaminya, Deli melangkah untuk pergi dari tempatnya sekarang.


Akhmad tersenyum melihatbwajah Deli yang memerah. Dia menahan tangan Deli. "Kamu tahu, saat aku pertama kali melihat kamu wudhu di mushalla, aku hampir lari saat itu. Aku kira itu adalah penampakan bidadari."


Wajah Deli semakin memerah mendengar ucapan Akhmad.


"Ayo kita sarapan, tenaga ku sudah habis terkuras tadi malam," goda Akhmad.


Mereka berdua segera menuju dapur yang ada di rumah Akhmad. Sesampai di dapur. Deli langsung menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sedang Akhmad hanya memandangi perempuan cantik yang ada di depannya.


Deli merasa kikuk, karena Akhmad tidak berhenti memandaginya. "Sejak kapan kamu di sini?" Deli mencoba mengusir kecanggungan ini.


"Kamu?" Akmad protes karena Deli memanggilnya 'kamu.'


"Tolong, beri aku waktu."


Akhmad tersenyum. "Baiklah, saat kau sudah siap, panggil aku nanti dengan panggilan sayang."


Akhmad meneruskan ucapannhya. "Eem … aku di sini mungkin hampir tiga tahun, setelah lulus kuliah, aku kemari karena tertarik dengan desa ini."


Deli menganggukkan kepalanya, menangapi ucapan Akhmad. Seketika Deli teringat sampai di kota nanti, dia akan bertemu kedua orang tua Akhmad. "Apa orang tua kamu galak?"


Akhmad mencoba menahan tawanya. Pertanyaan Deli serasa menggelitik perutnya. "Tidak sama sekali, kalau orang tuamu?"


"Papa dan mamaku orang baik, mereka pasangan yang selalu manis, nanti kamu kalau ketemu pasti iri dengan kemesraan mereka," Deli tersenyum, teringat akan tingkah lucu ayah dan ibunya.


"Baiklah setelah sampai kita ke rumah kamu dulu, aku juga ingin meresmikan akad nikah kita."


Deli mengangguk. Mereka berdua segera memulai sarapan mereka. Tidak ada lagi pembicaraan sepasang pengantin baru itu. Mereka fokus dengan makanan mereka.


Akhmad dan Deli sudah siap untuk melakukan perjalanan mereka. Sebelum memulai perjalanan menuju kota, Deli dan Akhmad mampir di rumah Abah Ramu. Untuk menyampaikan keinginan Deli.


Melihat siapa yang datang kerumahnya. Ramu tersenyum menyambut pasangan pengantin baru itu. "Selamat datang di rumah Abah," Sambutnya.


Deli dan Akhmad tersenyum. Ramu mempersilakan tamunya duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Abah, kami kemari untuk menyampaikan sesuatu." Akhmad memulai pembicaraan.


Deli mulai menyampaikan keinginannya untuk membagi lahan pegunungan Naju, kepada kepala adat sekitar.


Ramu terdiam mendengar penjelasan Deli. "Kamu yakin memberikan hak tanah kepada setiap tokoh adat desa sekeliling gunung Naju?" Tanya Ramu.


"Sangat yakin Abah. Kesalahan Fauji dulu, karena hak hanya pada dia, dengan membunuh dia pihak investor mengira mereka mudah menguasai lahan. Untuk meminimkan kejadian masa lalu, kita bagi beberapa wilayah, jadi … kalau nantinya ada yang tergoda, mereka hanya bisa berkuasa sedikit," terang Akhmad.


"Semua tokoh adat desa sangat menjaga hutan ini, saya yakin, mereka tidak akan tergoda, jika Abah setuju, saya akan minta bantuan papa saya mengesahkan beberapa berkas, di sini Abah juga ikut memegang beberapa hektar." Deli menambahi.


"Abah ikut apa menurut kalian bagus, niat Abah cuma ingin pegunungan ini lestari tanpa di ganggu pihak manapun, karena ini tonggak alam kita."


Diskusi mereka berjalan lancar. Deli dan Akhmad pun pamit ke kota untuk memperkenalkan pasangan mereka pada kedua orang tua masing-masing. Sekaligus menghadiri pernikahan saudara kembar Deli yang sebentar lagi melangsungkan akad nikah.


Travel yang mereka tumpangi, melaju begitu santai. Hingga Deli dan Akmad sampai rumah Aan hampir jam 9 malam. Deli dan memandangi keadaan rumah yang ada di depan mereka.


"Sepertinya, di rumah kamu ada tamu." Akhmad memandang kearah pintu rumah yang terbuka lebar.


"Mungkin calon mertua Dena, karena Dena sebentar lagi menikah." Deli menarik tangan Akhmad. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju rumah Aan.


Di dalam rumah.


Suasana terasa canggung. Aan merasa tidak nyaman dengan sahabatnya. Karena harus membatalkan perjodohan Deli dengan anak sahabatnya ini.


Berulang kali Aan menghela napasnya begitu dalam. Mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf. "Maafin aku Iqmal, mba Sarna. Aku mengingkari janji, aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini. Karena anakku Deli sudah menikah," ucap Aan.


Iqmal dan istrinya saling pandang. Ada kelegaan dalam hati mereka. "Kami juga minta maaf, tadinya kami juga ingin membatalkan perjodohan ini. Rizal menelpon kami, kalau dia sudah menikah di desa. Dia akan datang membawa istrinya," ucap Iqmal.


Rasanya hati Aan begitu Lega. Melihat sahabatnya sama sekali tidak marah dan kecewa padanya.


"Sudahlah, kita restui Rizal dengan istrinya, juga Deli dengan suaminya, ini jalan hidup mereka," ucap Aruna.


"Assalamu alaikum. Tuan ... Nyonya. Itu di luar non Deli datang sama suaminya," seru Refi pembantu Aan.


"Deli .…" Aruna langsung bangkit dan berlari keluar.


Memdengar putrinya datang, Aan, Iqmal, dan Sarna, juga ikut berlari kearah luar. Untuk menyambut Deli dan suaminya.


****


Melihat Deli berdiri di samping seorang laki-laki. Aruna sangat bahagia. Dia langsung berlari kearah Deli. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Aruna langsung memeluk putrinya.


"Mama … akhirnya desa itu bebas." Deli mengencangkan pelukannya pada Aruna.


"Mama senang, akhirnya kamu lepas dari tuntutan kamu sayang." Rasanya Aruna tidak mau melepaskan pelukan ini. Rasa rindu pada putrinya masih sangat besar. Mengingat ada laki-laki di samping Deli. Aruna terpaksa melepaskan pelukannya.


"Mama, dia fatner Deli melepas kutukan desa itu." Deli mengenalkan Akhmad pada Aruna.


"Dia suami kamu?" Tanya Aruna.


Deli menganggukkan kepalanya pelan.


"Assalamu alaikum tante," sapa Akhmad.


"Wa alaikum salam, tapi kenapa tante?" Goda Aruna.


Aruna, Deli dan Akhmad tidak menyadari ada orang lain di dekat mereka.


"Kamu yang menikahi putriku Adelia?" Suara itu mengejutkan Aruna, Deli dan Akhmad. Sontak mereka bertiga memandang kearah suara itu berasal.


Seketika mata Akhmad melotot. Saat melihat dua sosok di samping laki-laki yang belum dia kenal. "Ayah, ibu?" Akhmad bingung, karena melihat kedua orang tuanya ada di rumah Deli.


"Rizal?" Seru Iqmal dan Sarna bersamaan.


"Rizal?" Deli heran. Dia memandangi wajah Akhmad.


Pandangan Akhmad yang tadi tertuju kearah kedua orang tuanya, kini ter arah pada Deli. "Kamu lupa? Namaku Akhmad Rizal Atmaja."


Aan mencoba memahami situasi saat ini. "Tunggu, dia Rizal anak kalian? Yang kalian bilang?" Aan terkejut mengetahui menantunya adalah anak sahabatnya yang memang akan dinikahkan dengan Deli.


Sarna dan Iqmal menganggukkan kepala mereka bersamaan. Entah kenapa ada kekaguman dan kebahagiaan yang sangat besar hadir di hati mereka saat ini. Tuhan mempertemukan dan menyatukan Deli dan Akhmad dengan jalan NYA.


Sarna berjalan mendekati Deli dan Rizal. "Rizal, Deli adalah calon istri pilihan kami buat kamu." Sarna menyentuh dagu Deli.


Akhmad dan Deli saling pandang. Rasa takut akan tidak diterima oleh kedua orang tua masing-masing, lenyap seketika


Aan masih membuat otaknya bekerja. "Tunggu, tapi kalian bilang Rizal--"


Iqmal langsung memotong pembicaraan Aan. "Tiga tahun yang lalu Rizal sudah selesai kuliah, tapi dia jatuh cinta sama desa yang dia tuju. Kami selalu bilang kalau dia masih kuliah. Karena beberapa sahabatku datang, untung mengajak Akhmad taarufan sama putti mereka. Orang yang menginginkan Rizal berpikir keras kalau mau menunggu Rizal. itulah cara kami."


Sarna sangat bahagia. "Deli memang jodoh Rizal, makanya mereka nikah lebih dulu, tidak menunggu kita untuk mempertemukan dan menikahkan mereka," goda Sarna.


"Aku sangat bahagia. Desa Kayu Alam bebas. Putriku juga bebas dan sekarang dia sudah menikah." Air mata kebahagiaan lepas dari pelupuk mata Aruna.


Aan memandangi Deli dan Akhmad bergantian. "Tunggu, kalau desa Kayu Alam bebas, artinya kamu dan Deli?" Aan menarik turunkan alisnya.


"Om, kami menikah, hal itu kan bagian dari ibadah pernikahan bukan?" Rizal berusaha untuk santai.


Aan tersenyum sendiri. Teringat akan perjuangan masa mudanya. "Kau mengingatkan ku, akan ritual pertama kami." Aan melirik ke arah Aruna.


Aruna menutup wajahnya dengan telapak tangannya, teringat perjuangan masa muda di atas batu yang keras.


"Ayo menantuku, peluk aku." Sarna langsung menarik Deli kedalam pelukannya. Deli membalas pelukan Sarna.


Dena sedari tadi hanya menyimak semua ini, dari tangga. "Rupanya ada yang curi start duluan ya mah." Dena dengan santai menuruni anak tangga satu persatu.


Deli sangat bahagia akhirnya bisa bertemu Dena lagi. Dia berlari kearah Dena. Tanpa berkata dia menarik Dena untuk berjalan lebih cepat mendekat pada Akhmad. Dena pasrah mengikuti Tarikan Deli.


"Kenalkan, dia Dena saudara kembarku," Deli bicara pada Rizal. Rizal hanya memberikan senyuman manisnya pada Dena.


"Awas, ketukar," goda Iqmal.


Akhmad hanya bisa memberikan senyumannya.


*****


Mereka semua berkumpul di rumah Aan dengan perasaan gembira. Ternyata Deli dan Rizal memang berjodoh, tanpa sulit mereka menjodohkan. Deli dan Rizal alias Akhmad sudah menikah di desa.


Mereka masih duduk santai di ruang keluarga yang ada di rumah Aan.


Deli memandang kearah Aan. "Papa, aku boleh menarik bagianku? Aku ingin mendirikan pondok pesantren di desa," ucap Deli.


"Mendirikan pondok pesantren? Itu adalah impian Rizal," sela Sarna.


"Sekarang impian kami berdua bu," sahut Deli.


"Akkhem!!" Dena menggoda Deli.


"Em … awas nanti aku balas," Deli kesal di goda Dena.


Senyuman kembali terukir di wajah Aan. Teringat akan Sibki.


"Papa kenapa?" Aruna heran melihat Aan terus tersenyum.


"Aku teringat Sibki," jawab Aan. Dia tersenyum terbayang tingkah konyolnya bersama Sibki.


Aruna menepuk bahu Aan, "kamu sama Sibki sama konyolnya."


"Dena sudah ketemu calonnya pah?" sela Deli.


"Mereka berdua menolak ketemu sayang, mereka sepakat mau ketemu di meja akad saja," jawab Aan.


"Hem ... entah kenapa aku meragukan. Papa ... kalau dia mundur waktu itu, ekspor dia ke desa pah, biar aku karantina sama sahabat-sahabat Dena yang yang suka nangkring di pohon." Deli memandang kearah Dena dengan tatapan mengejek.


Dena tidak terima dia langsung membela diri. "Tenang papa, aku tidak akan mundur." Dena memandang kearah Deli. Weih ... cukup kamu aja yang di karantina di desa, aku mah ogah ... aku pengen peluk mama papa sepanjang waktu." Dena langsung mendekati Aan dan Aruna, lalu memeluk Aan dan Aruna bersamaan.


"Emang calon kamu mau tinggal di sini?" Tanya Deli.


"Pasti mau, nanti aku rayu, siapa sih yang mampu menolak pesonaku. Aku kan cantik! Zal ... aku cantikkan?" Tanya Dena pada Rizal.


"Awas ... kalau bilang jelek sama aja ngatain istrinya jelek," goda Iqmal.


Rizal tersenyum tidak bisa menjawab pertanyaan Dena.


Suasana sungguh terasa hangat. Deli mengajak Rizal berjalan-jalan mengenali seluk beluk rumahnya. Melihat sudut dinding yang dipenuhi foto-foto. Mebuat Rizal tertarik untuk melihat semua itu lebih jelas. Rizal memandangi foto-foto yang terpajang di rumah Aan.


Dena tersenyum melihat Rizal begitu fokus memandangi foto-foto keluarganya. "Dua saudaraku masih di pesantren, laki-laki itu Rayan, dia masih menghabiskan masa baktinya pada pesantren, kalau itu Fathiya, mungkin sebentar lagi dia lulus." Deli menunjuk kearah foto Rayyan dan Fathiya.


Di kejauhan Aan sangat bahagia, dia terus memandang kearah Deli dan Akhmad. Ternyata yang menjadi menantunya adalah laki-laki yang memang dia inginkan.


"Terima kasih Ya Allah," ringis Aan.


Iqmal ikut memandang kearah Deli dan Akhmad. Dia teringat akan syarat kalau Deli dan Akhmad harus menetap di desa itu. "Perjuangan kita berat An, kalau kita rindu mereka, pantat tua kita ini harus berjuang duduk lama di mobil. Secara mereka harus menetap di desa itu."


"Kamu aja kali yang tua, aku masih kuat," goda Aan.


Seketika tawa menggema di ruangan itu.