
Nurul datang pada Umi Fatma dan Ustadz Ali dengan membawa dua cangkir teh yang ada di dalam nampan yang dia pegang.
Nurul meletakkan dua gelas teh itu dekat Ustadz Ali dan ibunya. Setelah meletakkan Gelas Teh itu Nurul beranjak meninggalkan Ibunya dan Ali.
"Nurul tunggu! Duduk di sini Umi mau bicara," kata Fatma
"Iya Umi," jawab Nurul sambil duduk di samping ibunya.
"Ali ... Umi mau tanya. Apa kamu sudah mempunyai calon istri?" Tanya Fatma ke Ali
"Untuk sampai saat ini belum Umi," jawab Ali malu-malu.
"Nah kebetulan, Nurul juga belum punya calon suami. Bagaimana kalau kalian saling kenal untuk lebih dekat," seru Fatma.
"Apa maksud Umi?" Tanya keduanya bersamaan.
Fatma tersenyum mendengar kata-kata yang sama keluar dari mulut Ali dan Nurul.
"Ini bukan paksaan, tapi kalau kalian bisa saling suka Kenapa kalian tidak menikah. Bukankah kalian sudah cukup umur?" Kata Fatma.
Ali dan Nurul Saling pandang.
Mereka bingung harus berkata apa, karena mereka memang sudah sama-sama suka sejak lama namun mereka pendam di hati saja.
"Bismillahirohmanirohim. Sebenarnya saya juga ingin meminang Nurul menjadi istri saya, itu juga salah satu amanah dari Kyai Sebelum meninggal, agar saya menjadikan Nurul istri saya. Namun saya takut Nurul terpaksa menikah dengan saya kalau dia tahu itu permintaan Kyai, Saya tidak ingin Nurul terpaksa menjadi istri saya, walapun itu amanah almarhum Kyai, tapi saya sudah meminta izin untuk menolak, jika Nurul menolak saya, saya ingin Nurul menikah benar-benar karena dia menerima saya, bukan karena amanah," lirih Ali.
"Kamu bagaimana Nurul?" Tanya Fatma ke Nurul
"Karena ini salah satu Amanah dan juga keinginan Abi, Nurul dengan senang hati tanpa rasa terpaksa saya menerima Ustadz Ali menjadi suami Nurul," kata Nurul yang masih tertunduk.
"Alhamdulillah ... Kalau begitu mari kita permudah," lirih Fatma, dia sangat senang.
**
Dengan persiapan Tiga bulan, pernikahan Ali dan Nurul dilaksanakan sederhana di komplek majelis.
Tiada henti-hentinya Nurul dan Ali sama-sama Saling bersyukur karena menikah dengan orang yang mereka idamkan selama ini. Namun mereka sama-sama dingin, karena mereka masih sama-sama malu untuk mengakui perasaan mereka.
Aruna dan Para pengurus yang lain sibuk berkutat di dapur mereka tidak ikut menyambut tamu tamu yang hadir.
Ini pertama kalinya Suminten dan Wahyu hadir di pesta pernikahan. Suminten dan Wahyu duduk menikmati makanan di meja yang telah disediakan panitia. Sedang Andika menyusuri dapur entah apa yang dicarinya.
Di dapur Suasananya sangat heboh karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Aruna membawa satu nampan yang berisi air sirup es yang tertata, ia berjalan dengan semangat membawa nampan itu keluar.
"Prang ...!!!"
"Maafkan saya, maafkan saya," Kata Andika panik melihat semua air yang dibawa Aruna tumpah.
"Saya juga minta maaf tuan, karena saya tidak teliti saya teledor maaf baju Tuan juga kotor," ringis Aruna.
"Sudah sudah ... biar saya yang bersihkan," kata seseorang yang datang, dan langsung membersihkan pecahan gelas yang berserakan.
Aruna berbalik untuk kembali ke dapur, namun kaki nya menginjak es batu hingga ia terpeleset jatuh ke pelukan Andika.
"Astaghfirullah ... maaf kan saya," lirih Aruna secepatnya menarik diri.
"Maaf, saya tidak sengaja, saya cuma niat menolong," lirih Andika.
"Kak Aan cari saya ...?" seru Salha yang baru datang. Memecah ketegangan yang barusan terjadi.
"Oh iya, aku ada sedikit perlu sama kamu Salha," jawab Andika. Dia baru ingat kalau ada perlu dengan Salha.
Salha dan Andika saling bicara, membicarakan urusan mereka. Sedang Aruna meninggalkan mereka dan bekerja hal lain nya. Pesta acara pernikahan yang sederhana ini sungguh sangat meriah terasa.
***
Setelah sholat Isya Ustadz Ali menginap di rumah Nurul. Karena Ali tidak mau memisahkan Nurul dan ummi nya. Ali mengalah dia akan tinggal di rumah Nurul. Saat ini Ustadz Ali umi Fatma Nurul Salha dan Aruna sedang menikmati makan malam di meja makan .
Acara makan malam selesai kini mereka hanya duduk santai di meja makan sambil berbicara ringan.
Ternyata Aruna tidak tahan lagi melihat pengantin baru yang masih malu-malu itu.
"Astagfirullah hal adzim ... sudah ketemu malu malu, sudah nikah malu malu, dalam do'a saling sebut," seru Aruna.
"Aruna ...!" bentak Fatma
"Maaf umi .. habis Aruna sebal lihat Ustadz Ali dan Kak Nurul, masih malu-malu gitu, kan udah nikah ...!" gerutu Aruna.
"Siapa yang saling sebut dalam do'a?" Tanya Salha kepo.
"Itu ... ustadz Ali dan Kak Nurul saling sebut Dalam do'a mereka, aku pernah dengar ustadz Ali Sebut sebut kak Nurul dalam doanya, Kak Nurul juga sebut-sebut Ustadz Ali dalam doanya," ucap Aruna dengan entengnya.
Nurul sangat malu mendengar kata-kata Aruna, namun dia juga malu ketahuan Aruna menyebut-nyebut Ustadz Ali dalam do'anya. Lebih parahnya lagi Ustaz Ali mengetahui kalau ia juga mendo'akan Ustadz Ali. Akhirnya Nurul memilih permisi kabur ke kamarnya saja, sungguh dia tidak punya muka lagi bergabung di meja makan ini karena sangat malu.
Aruna cekikikan melihat bagaimana rona wajah Nurul. Sedang umi Fatma hanya berdecak melihat kelakuan Aruna.
"Puas kamu Aruna? Kasian Nurul wajah nya merah seperti udang rebus," seru Fatma.
Aruna masih tertawa cekikikan.