Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 122 Extra Part Sibki ch 3


Sibki dan keluarga besar semakin sibuk menyicil urusan untuk resepsi pernikahan. Walau hanya dilangsungkan secara sederhana namun semuanya perlu persiapan yang matang.


"Sibki, kamu yakin mau mengantar Nurul?" Tanya Ali.


"Yakin ustadz," jawab Sibki.


"Apa karena pengen ketemu Manda nih," goda Elna.


"Tidak, bukan karena ingin ketemu Manda, Manda tidak hadir pagi ini di pengajian ustadzah, dia bilang lagi palang merah," jawab Sibki.


"Owh …," lirih Elna.


Sibki langsung mengantar Nurul dan Elna ke mesjid dimana biasanya mereka berkumpul.


***


Di rumah Manda.


"Ibu … tolong bu …," rengek Manda.


"Ada apa Manda?" Tiar semakin panik melihat Manda pingsan tidak sadarkan diri.


"Sofyan!!!" Teriak Tiar.


"Ada apa bu?"


"Manda," ringis Tiar.


"Astaghfirullah, kita bawa ke puskesmas bu, sebentar aku pinjam mobil tetangga dulu," lirih Sofyan.


Setelah mendapat pinjaman mobil, Sofyan segera membawa Manda ke puskesmas terdekat.


***


Sudut lainnya.


"Bagaimana mbah?"


"Beres!!! Semua sedang berproses,"


"Apa hal ini bisa membatalkan pernikahan mereka?"


"Hanya laki-laki bodoh yang mau menikahi dia,"


"Terima kasih mbah Keleng,"


"Tunggu, bagaimana kalau ustadz bodoh itu menggagalkan rencanaku?"


"Tidak ada yang bisa menangkap kiriman ini, apalagi kalau hanya ustadz itu, dia masih di bawah,"


"Aku lega, lanjutkan,"


"Satu hal, jika nanti mereka menemukan sumber ini, maka penyembuhannya hanya dengan tebusan, kamu siap menerima resekonya? Karena aku tidak boleh menolak jika mereka menebus semua ini,"


"Aku siap mbah, aku yakin dia akan mati lebih dulu sebelum menemukan mbah,"


"Aku suka semangatmu nak,"


"Mbah, ini maharnya, 1 buah mobil yang aku janjikan,"


"Baiklah, sebaiknya cari pagar dirimu dari sekarang, aku khawatir jika mereka menemukan ku setelah mereka menebus mereka ingin mengembalikan kirimanmu,"


"Sudah lah mbah, jangan bahas itu aku bahagia sekarang, aku pamit mbah,"


Semoga saja pengorbanan kami yang hanya satu unit mobil bisa bertambah.


Dia menatap kearah mobil yang ia berikan pada Keleng.


Mobil kesayangan, mendapatkanmu sungguh tidak mudah.


***


Tiga hari sudah Manda di puskesmas tidak ada perkembangan, akhirnya dokter merujuk Manda kerumah sakit.


"Sofyan, apa kamu sudah kabari Sibki?"


"Astaghfirullah, belum bu, aku panik, aku lupa mengabari Sibki."


"Segera hubungi dia," pinta Tiar.


Di rumah Sibki.


"Kakak kenapa? Wajah kaka seperti cucian yang belum di setrika," ucap Aruna.


"Manda, tiga hari ini tidak ada kabar, aku cemas," ringis Sibki.


"Cari kerumahnya kak, kan kaka calon suaminya, sesekali bolehlah menengok,"


"Iya Aruna, nanti aku akan kerumah Manda."


Posel Sibki berdering.


"Assalamu alaikum Sofyan,"


"Wa alaikum Salam Sibki,"


"Manda bagaimana? Tiga hari ini aku selalu menunggu kabar dari dia, aku khawatir Sofyan,"


"Maafkan aku Sibki, apakah undangan sudah kamu sebar?"


"Belum,"


"Apakah catering, tenda dan lainnya sudah kamu boking?"


"Belum juga Sofyan, ada apa ini? Apa maksud kamu?"


"Batalkan dulu Sibki, Manda sakit, tiga hari ini dia tidak sadarkan diri," lirih Sofyan.


"Astaghfirullah, kenapa kamu baru mengabari aku?"


"Maaf Sibki, kami cemas dan lupa segalanya,"


"Kirim alamat rumah sakitnya, aku segera kesana,"


"Baik, aku kirim lewat pesan,"


Panggilan telepon Sibki dan Sofyan ber akhir.


"Ada apa kak? Kenapa wajah kaka panik?"


"Manda sakit Run, aku mau kerumah sakit sekarang,"


"Aku ikut!"


"Jangan, si kembar bakal nyari kamu, biar aku sendiri, kalau ada ustadz nanti aku akan ajak beliau kalau tidak sibuk,"


"Hati-hati kak,"


"Iya, tolong sampaikan pesan sama bapak agar jangan memboking apapun, karena manda Sakit, kita atur ulang lagi persiapan jika Manda sehat."


"Iya kak, nanti aku sampaikan sama bapak,"


"Ibu ikut," pinta Mastia.


"Jangan bu, nanti ya, biar aku lihat dulu keadaan Manda,"


"Iya nak, bantu mereka sepenuhnya ya," pinta Mastia.


"Insya Allah bu, Sibki akan bantu semaksimal mungkin, assalamu alaikum bu,"


"Wa alaikum salam."


Sibki segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Manda dirawat. Namun dia mampir sebentar di majelis ustadz Ali.


"Assalamu alaikum Ilyas,"


"Wa alaikum salam, Sibki? Ada apa ini? Mau bagi undangan ya," goda Ilyas.


"Sepertinya pernikahan kami di tunda, Manda sakit, oh ya, ustadz ada?"


"Ustadz pergi sama Umi dan Nurul, katanya sih keluarga almarhum abuya menikah,"


"Owh jadi ustadz tidak ada ya, hem ya sudah, jika ustadz datang tolong kasih kabar kalau pernikahanku sama Manda di tunda karena manda sakit, aku permisi ya, aku mau jenguk Manda."


"Iya Sibki, hati-hati di jalan jangan ngebut,"


"Assalamu alaikum," seru Sibki.


Wa alaikum salam." Jawab Ilyas.


Sibki kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana Sibki langsung mencari ruangan dimana Manda dirawat.


"Assalamu alaikum," sapa Sibki memecah keheningan dalam ruangan yang kecil itu.


"Wa alaikum salam," jawab Tiar.


Sibki langsung salim pada Tiar.


"Manda kenapa bu?" Tanya Sibki.


"Tidak tau nak, tiba-tiba siang itu dia minta tolong dan langsung pingsan,"


Manda membuka matanya, "kak Sibki …," lirih Manda dengan suara manja.


"Manda, bagaimana keadaan kamu?"


"Baik dong, kan ada kak Sibki datang," jawab Manda dengan ayunan suara manja.


"Sejak kapan suara Manda berubah bu?" Sibki melirik Tiar.


"Apa karena dia tidak sadar tiga hari?" Tanya Tiar balik.


"Entahlah bu, tapi yang penting Manda sadar, semoga juga cepat pulih bu,"


"Aamiin," lirih Tiar.


"Kak Sibkiiii," lirih Manda.


"Iya Manda?"


"Aku lapar …," rengek Manda.


"Kamu mau makan apa? Biar aku belikan," jawab Sibki semangat.


"Pengen di makan kaka," Manda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "heheheee," ringis Manda.


"Kenapa dia berubah bu?" Lirih Sibki.


"Entahlah nak, ibu kok jadi merinding," bisik Tiar.


"Aku berubah karena cinta kaka," rengek Manda.


"Manda, kamu mau makan apa? Kamu tiga hari lho tidak makan," lirih Sibki.


"Apa saja, asalkan kaka suapi," jawab Manda.


"Okey kaka suapi, tapi kasih tahu dulu Manda mau makan apa?"


"Tanya dokter, biar dokter kasih tau makanan apa yang aman buat Manda," seru Tiar.


"Ibu benar, aku keruangan dokter ya bu," seru Sibki.


"Manda, kaka tinggal dulu ya, biar kaka cari makanan buat kamu,"


"Iya kak Sibki, semangat ya …," ucap Manda.


"Kamu yang semangat biar kita bisa cepat nikah," seru Sibki.


Wajah Manda langsung berubah cemberut.


"Nikah aja sama yang lain, aku gak bisa nikah sama kaka," jawab Manda dingin.


"Ya iyalah gak bisa, secara kamu masih sakit, jangan dipikirin, semua persiapan sudah kakabatalkan, pernikahan kita di undur,"


"Di undur?" Manda tersenyum


"Iya di undur, demi kamu," seru Sibki.


"Yeay … aku suka," seru Manda.


"Kamu suka, kaka tersiksa, kaka sangat ingin segera menghalalkan kamu," lirih Sibki.


Manda cuek dengan kata-kata Sibki. Dia memandangi kedua telapak tangannya sambil bersenandung.


"Kaka pamit dulu ya, assalamu alaikum,"


"Wa alaikum salam," jawab Tiar.


Sedang Manda meliyuk-liyukkan jemari nya ke udara seperti menari-nari.


"Manda," lirih Tiar.


"Maaf aku tidak mau bicara," jawab Manda.


Manda kembali bersenandung sambil mengayunkan tangannya ke udara.


"Assalamu alaikum," Sofyan baru datang


"Wa alaikum salam nak,"


"Masya Allah, Manda sadar?"


"Iya sadar, saat Sibki datang dia sadar, tapi ... dia Aneh!" bisik Tiar.


Sofyan menatap lekat Manda yang asyik dengan tarian tanganya yang asal.


"Mungkin dia bahagia bu," seru Sofyan.


Tiar dan Sofyan duduk di dekat Manda yang asyik dengan khayalannya.