
Jasa travel yang akan mengantar Deli kembali ke desa Kayu Alam, sudah menunggu di halaman rumah Aan.
Deli memandang sayu wajah kedua orang tuanya, juga memandang wajah Dena. Rasanya tidak rela jauh dari keluarga. Tapi apa daya, janji 'si ikatan darah' harus segera diselesaikan. Deli memantapkan hatinya, untuk menyelesaikan semua ini. "Mama, papa, do'a kan aku, semoga Allah meridha'i dan mempermudah jalanku untuk melepaskan musibah yang ada di desa itu." Deli langsung memeluk Aruna.
"Do'a kami selalu bersama kamu sayang." Aruna membalas pelukan sang putri, rasanya tidak rela melepaskan Deli untuk pergi lagi.
Deli melepaskan pelukannya, dia langsung menghampiri Aan memeluknya. "Papa ... sebelum mencari jodoh buatku, tolong carikan jodoh untuk wanita yang super sibuk itu lebih dulu." Deli meng isyarat pada Dena. "Aku takut dia keburu expayer nanti," ledek Deli.
Aan melepaskan pelukan Deli. "Tenang, calon buat Dena sudah ada. Calon buat kamu juga ada, tapi dia masih kulian di luar negri. Kamu tahu? Saat papa bicara tadi malam via telepon pada orang tua laki-laki itu. Laki-laki calon suamimu itu setuju, untuk tinggal di desa, bahkan dia mempunyai cita-cita membangun sebuah pesantren di pelosok desa." Aan menepuk pundak Deli.
"Alhamdulillah ...." Deli tersenyum lebar.
"Ciyeee jatuh cinta sebelum ketemu nih ...." ledek Dena.
"Dalam kata Ciyeee terkandung di dalamnya unsur kecemburuan," balas Deli.
"Sudah jangan berantem, itu kasian mamang travel nunggu lama," sela Aruna.
"Nanti kalau ada pertanyaan telepon saja, jangan buang tenaga bolak-balik pulang," ucap Aan.
"Semua sudah jelas, insya Allah tidak ada lagi yang akan aku tanyakan." Deli mendaratkan ciumannya di pipi kanan dan kiri Aruna, juga Aan.
Upacara perpisahan yang di selingi adegan lebai Deli dan Dena. Membuat Aruna dan Aan menggeleng melihat tingkah kedua putrinya.
"Sudah ...." lerai Aruna.
Deli segera masuk mobil travel dan meninggalkan keluarganya untuk kembali lagi ke desa Kayu Alam. Dia membuka kaca jendela mobilnya, sambil melambaikan tangannya pada anggota keluarganya, yang masih berdiri di depan rumah melepas kepergiannya.
Mobil yang Deli tumpangi kian menjauh dari kediaman Aan. Deli menyandarkan tubuhnya, di sandaran kursi mobil itu. Sambil berpikir, rencana apa yang akan ia lakukan nanti.
Deli mengamati jalanan yang dilalui. "Pak, singgah di penginapan yang ada di ujung jalan itu, di sana ada teman saya menunggu," pinta Deli pada supir Travel tersebut.
Sang supir, hanya menganggukkan kepalanya. Menjawab permintaan Deli. Tepat di depan penginapan, Surya terlihat berdiri menyandang tas ransel di bahu kirinya. perlahan mobil berhenti. Deli membuka kaca mobil yang ada di sampingnya.
"Surya ...." panggilnya.
Melihat siapa yang menyapanya, Surya segera masuk kedalam mobil. Perjalanan panjang Deli dan Surya pun, di mulai.
***
Setelah melepas kepergian Deli, Dena langsung ke kantornya. Karena siang ini ada rapat kerjasama antar perusahaan.
Ruang rapat.
Semua orang perwakilan masing-masing perusahaan sudah berkumpul di ruangan rapat. Mereka semua kagum dengan kinerja Deli sebagai penerus Aan.
"Luar biasa, jiwa bisnis Tuan Andika mengalir dalam diri anda Nona Dena," puji salah satu mitra kerja.
"Prestasi anda luar biasa," ucap yang lainnya.
"Prestasi? Apa sogokan?" Seorang pemuda nampak angkuh memasuki ruangan rapat tersebut.
Hati Dena langsung berkecamuk melihat sosok pemuda itu. Dena berusaha santai.
Laki-laki itu berdiri di dekat meja, posisinya sejajar berhadapan dengan Dena. "Saya tidak mau mengikat kerja sama dengan PT.Mahardika Karya, jika di bawah komando perempuan idiot macam dia!" Hardik pemuda itu.
Dena menatap orang itu tajam. Dia terus berusaha berdiri tegar, seolah tidak mengapa. Walau hatinya berkecamuk karena bertemu pemuda ini.
"Pak Angga, jangan bicara ngawur, Nona Dena lulusan terbaik fakultas luar negri," terang yang lain.
"Ck! Uang memang mudah membeli segalanya, kamu bayar berapa untuk mendapat ijazah itu? Secara kamu masih di sini selama ini, aku melihat kamu kelayapan di negara ini. Bagaimana mungkin kamu kuliah?!" Ejek Angga.
Salah satu peserta rapat yang lain geram melihat Angga. " Pak Angga! Anda orang yang berpendidikan tinggi. Kenapa mulut Anda seperti orang yang tidak berpendidikan?" Hardiknya.
"Woh … apa karena dia perempuan cantik dan juga anak seorang pengusaha, hingga kalian jadi penjilat?" Ucap Angga dengan nada sombongnya.
Sekretaris Dena tidak terima atasannya dihina seperti ini. Dia langsung berdiri dari posisinya. Dena faham, apa yang akan Sekretarsnya lakukan.
"Wina!" Tegur Dena.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa diam." Ucapnya, tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Dena.
"Pak Angga, jika Anda memang tidak ingin meneruskan kerjasama antar perusahaan silahkan mundur, jangan menghina Direktur kami!" Ucap Wina.
Angga memandang Dena begitu tajam. Tatapan mata yang memancarkan kebencian yang teramat besar. "Perempuan idiot pembawa sial!!" Bentak Angga. Dia pergi dengan kemarahan yang teramat besar pada Dena.
Semua orang di ruangan itu, hanya menggelengkan kepala mereka, melihat kelakuan Angga.
Tatapan Dena kosong, dia memikirkan kejadian barusan. Kehadiran Angga, laki-laki yang sangat dia cinta, juga laki-laki yang sama yang menorehkan luka di hatinya, kini muncul di depan matanya. Dengan sorot mata yang penuh kebencian. Sama seperti saat laki-laki itu memutuskan hubungan dengannya.
Terima kasih Ya Allah, akhirnya aku bisa menguasai hatiku, mengapa aku sangat bodoh! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki itu. Bahkan rasa cinta itu masih ada di hati ini. Ya Allah, bantu aku melepaskan dia dari hati ini. Ringis Dena.
Semua orang kembali melanjutkan rapat mereka. Lamunan Dena tersentak, saat Wina menanyakan hal padanya. Dena segera mengupulkan kesadarannya, untuk meneruskan rapat hari ini.
***
Seorang wanita, yang hampir berumur 50 tahunan, hanya bisa menahan kemarahannya, saat menerima laporan dari rekan-rekan perusahaan lain tentang kelakuan Angga, yang berani menghina putri Andika Tama Shiddiq.
Dia langsung tancap gas menuju kantor anaknya. Sesampai kantor Angga, dia terus melangkah secepat yang dia bisa. Tanpa membalas sapaan siapapun yang dia lewati.
Brakkk!
Pintu ruang kerja Angga terbuka begitu kasar. Membuat laki-laki yang duduk santai di kursi kerjanya tersentak, karena kaget.
"Ibu?"
Wanita yang di panggil Andra ibu, terus berjalan mendekati Angga. "Siapa yang mengajari kamu kurang aj*r?! Siapa yang mengajari kamu berkata tidak sopan seperti hari ini!?" Teriakan wanita itu menggema di ruangan Angga.
Dengan sorot mata yang masih di penuhi kemaraha. "Karena kebodohan kamu, kamu rela melepas kontrak kerjasama yang selama ini memberi keuntungan yang besar bagi perusahaan! Ibu salah mempercayai kamu." Wanita itu menghempaskan tubuhnya, disalah satu kursi yang ada di depan meja kerja Angga.
Napasnya terdengar begitu berat. "Kamu belum bisa jadi pemimpin Ibu yang salah, karena memberikan tanggung jawab, pada orang yang bukan ahlinya. Mulai sekarang kamu hanya staf biasa di kantor ini. Perusahaan ini, akan ibu ambil alih kembali."
Andra tidak berani membuka mulutnya, melihat gurat kekecewaan di wajah ibunya. Membuat Angga terdiam.
"Bukan cuma itu. Kamu ibu hukum! Hukuman buat kamu. Kamu harus menikah dengan perempuan pilihan ibu."
Wanita itu meraih tas nya. Dia segera pergi dari ruangan Angga. Mengingat bagaimana laporan tentang Angga menghina Den, dia sungguh malu. Pikirannya saat ini, hanya ingin memperbaiki hubungan dengan putri Andika.
Dia langsung menuju perusahaan Dena. Sesampai di perusahaan itu, ibu Angga menyampaikan semua maksudnya dan meminta maaf atas kelakuan Angga. Dia beruntung karena Dena tidak memutus kontrak kerja sama mereka.
Dena memberikan senyuman manisnya. "Saya faham bu, Pak Angga pasti punya masalah pribadi, rekan-rekan yang lain juga sepakat untuk memberi Pak Angga waktu untuk berpikir," ucap Dena.
"Kamu memang gadis luar biasa, siapapun yang menikahi kamu, dia adalah pria yang paling beruntung."
"Perusahaan saya, sudah saya ambil alih kembali, ternyata putra saya belum menjiwai urusan bisnis."
"Iya, bu," jawab Dena.
Mereka berbincang santai, di selingi pembicaraan mengenai rapat sebelumnya.
***
Dena memang sangat profesional, seberat apapun masalah hatinya, dia akan selalu tersenyum walau luka itu menganga kembali di hatinya, karena bertemu lagi mantan kekasihnya saat SMA dulu.
Setelah semua pekerjaan selesai Dena pulang ke rumah. Perjalanannya lancar, hingga bisa sampai rumah lebih cepat. Den segera masuk kedalam rumahnya.
"Assalamu alaikum, sore papa, sore mama," sapa Dena.
"Wa alaikum salam, sore sayang." Aruna langsung memeluk putrinya.
Aan sangat senang melihat Dena. "Sayang, papa dan calon mertua kamu sudah mengatur rencana pernikahan kamu, apa kamu ingin bertemu dengan calon suami kamu? Sebelum kalian Resmi?" Tawar Aan.
"Satu info penting nih, dia juga patah hati seperti kamu, hingga dia tidak mau menjalin hubungan lagi dengan wanita manapun, mau ketemuan?" Goda Aan.
"Papa ... apa ini terlalu cepat?" Aruna sedih karena Dena dan Deli harus menikah dengan perjodohan.
"Papa, atur saja menurut papa baik, aku ikut papa aja, masalah ketemuan biar ketemu di meja akad saja, biar kejutan, aku yakin dengan pilihan papa." Dena mengukir senyuman di wajahnya.
"Kamu yakin sayang?" Aruna ragu dengan keputusan Dena.
"Menunggu aku untuk memilih suami sendiri sepertinya awam, lebih baik aku percayakan semuanya pada papa," ucap Dena.
"Papa sangat yakin, pilihan papa akan membuat kamu bahagia, suatu saat nanti, mantan pacar kamu akan menyesal karena telah mematahkan hati anak papa yang cantik dan baik hati ini," ucap Aan dengan bangganya.
"Aku mau istirahat dan mandi dulu ya." Dena izin pergi ke kamarnya.
"Iya sayang," jawab Aan dan Aruna bersamaan.
Dena masuk kedalam kamarnya, hatinya masih berkecamuk. Pertemuan dengan Angga, soelah merusak segala dinding pertahanan, untuk bertahan selama ini, roboh seketika.
Entah kenapa dia tidak bisa move on dari Angga, walau Angga sudah menyakitinya. Dena tidak berharap agar bisa bersama Angga lagi, namun merajut kembali semangat untuk cinta, Dena tidak berminat. Lebih baik dia menyerahkan urusan jodoh pada papanya, karena dia sama sekali belum bisa menentukan kemana hatinya.
Dia terus melangkah masuk kedalam area kamarnya, dia berhenti, tepat di depan cermin. "Siapapun kamu hai calon imamku, aku akan berbakti padamu, untuk urusan hati aku harap kamu bisa sedikit bersabar," ucap Dena dia memandangi pantulan dirinya di cermin itu.