
Tiga minggu sudah Sibki dan Manda menikah, namun tidak ada perkembangan pada Manda. Ali dan dokter sama-sama bingung. Dokter tidak tahu penyebab penyakit Manda, Ali juga tidak menemukan tanda-tanda halus yang lain.
"Kakak Sibki …," teriak Manda dengan suara manja dan berayun.
Aruna dan Sibki yang duduk diruang tamu keheranan.
"Itu suara Manda?" Bisik Aruna.
"Kita temui dia," seru Sibki.
Mereka berdua berjalan ber iringan menuju kamar.
"Na ... nananaaa nanaaaa …," Manda bersenandung sambil menari-narikan kedua tanganny ke udara.
"Kakak Sibki … sini," ucap Manda dengan sangat manja.
Aruna masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sibki mendekat pada Manda.
"Astaghfirullah, Aruna, apakah ini cecar?" Sibki terkejut melihat sekujur tubuh Manda di tumbuhi bentolan yang mirip cecar.
"Aku ketempat ustadz Ali kak," Aruna langsung pergi tanpa menunggu jawaban Sibki.
"Sayang … apa ini sakit?" Sibki perlahan menyentuh permukaan kulit Manda,"
"Tidak! Lebih sakit ditinggal orang yang kita cinta nikah tau …," ucap Manda.
"Jika yang kita cinta tidak mencintai kita, membuat orang yang saling mencinta tidak bisa bersama itu sangat indah," ucap Manda dengan semangat.
Sibki meraih ponselnya dan langsung mengirim pesan pada Sofyan.
"Sof, Manda tambah parah, ingat suara manjanya saat dirumah sakit? Suara itu kembali, bukan cuma itu, sekujur tubuhnya di tumbuhi seperti cecar, dia juga menari-nari dan bersenandung aneh. Sofyan … apakah Manda punya kekasih dulunya? Kalau aku kamu pasti tahu, aku tidak punya teman dekat seorang wanita." Sibki.
******
Di rumah Sofyan.
Sofyan mematung membaca pesan dari Sibki.
"Ada apa Sofyan?" Tanya Tiar.
"Manda bu," jawab Sofyan lemah.
Sofyan menceritakan keadaan Manda sekarang pada Tiar.
"Kenapa Manda harus menderita? Apakah ini …,"
"Jangan bu," Sofyan memotong kata-kata Tiar.
"Ifin … ibu pernah bertemu Ifin akhir-akhir ini?" Sofyan terlihat panik.
"Tidak pernah," jawab Tiar.
"Ibu tahukan kalau selama ini Ifin sangat mencintai Manda, ingat kejadian 4 tahun lalu saat Ifin datang pada bapak untuk mengguna-guna Manda agar tergila-gila padanya?"
"Ibu masih ingat, untung saja Ifin anak teman bapakmu, kalau tidak mungkin bapak bunuh tu si Ifin,"
"Aku akan mencari Ifin bu," seru Sofyan
Sofyan langsung pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari Ifin. Kini Sofyan berada didepan rumah Ifin.
"Fin …," seru Sofyan sambil mengetuk pintu rumah Ifin.
"Kenapa Sof? Cari Ifin? Ifin dan keluarganya pindah, entah kemana mereka pindah," ucap tetangga rumah Ifin.
"Kira-kira kemana ya bu?" Tanya Sofyan.
"Kami tidak tanya Sof, sejak bapaknya masuk penjara bareng bapak kamu Ifin dan keluarganya jadi tertutup,"
"Owh, makasih bu info nya, kalau begitu saya pamit, permisi bu," Sofyan langsung meninggalkan rumah Ifin dan kembali lagi kerumahnya.
"Assalamu alaikum," ucap Sofyan langsung masuk kedalam rumahnya.
"Wa alaikum salam, gimana? Ketemu Ifin?"
"Mereka semua pindah bu," jawab Sibki.
"Bu, apa Ifin balas dendam? Ibu kan tahu kalau penyebab bapak dan teman-temannya masuk penjara karena rencana bapak, salah satunya bapaknya Ifin. Apakah Ifin balas dendam karena tidak bisa memiliki Manda dan marah sama bapak?"
"Ibu tidak tahu, sebaiknya kamu ajak ustadz dan Sibki menemui bapak, kasian Manda terlalu lama menderita,"
"Baik bu, aku akan kesana, apakah ibu aman ditinggal sendiri?"
"Insya Allah aman," jawab Tiar.
Sofyan langsung mengirim pesan pada Sibki.
"Kita ketempat bapak, aku curiga ada gangguan halus yang mengenai Manda, hingga ustadz saja tidak bisa mendeteksiny, ini aku bersiap, tolong kamu ajak ustadz untuk menemui bapak," Sofyan.
Sofyan langsung bersiap dan berangkat menuju kediaman Sibki dan Manda.
***
Kontrakan Sibki.
Sibki membaca pesan dari Sofyan.
"Kaka … apakah lebih cantik ponsel daripada aku, kaka lebih senang menatap ponsel kaka daripada aku," rengek Manda.
"Manda nanti kaka mohon izin keluar ya, ini kaka mau beli banyak perlengkapan,"
"Jangan lama-lama, aku tersiksa kalau tidak ada kaka," ringis Manda.
"Palingan satu jam," Sibki membelai pucuk kepala Manda.
"Assalamu alaikum," seru Ali dan Aruna.
"Wa alaikum salam," jawab Sibki.
"Ustadz sialan!!!" Gerutu Manda.
Sibki melotot mendengar omelan Manda, selama ini Manda sangat mengagumi ustadz Ali dan keluarganya, apalagi Nurul.
"Kaka keluar ya,"
Manda mengangguk.
Sibki berjalan kearag luar.
"Manda?" Tanya Ali.
"Dia semakin aneh, sekarang saja dia membeci ustadz" ringis Sibki.
"Kita harus menemui mertuamu, ilmuku masih minim aku tidak bisa apa-apa," lirih Ali.
"Ini juga rencana Sofyan ustadz, ini Sofyan lagi perjalan menuju kesini,"
"Baiklah, aku pulang dulu untuk bersiap, kamu bersiap juga,"
"Baik ustadz,"
"Assalamu alaikum," seru Suminten dan Wahyu yang datang tiba-tiba.
"Wa alaikum salam," jawab Ali, Sibki dan Aruna bersamaan.
"Pas sekali ada pak Wahyu dan bu Sumi untuk menemani Aruna disini,"
"Kami sama pak Jojo," seru Suminten.
"Lebih bagus lagi, soalnya kami akan pergi keluar, jadi kalian semua menjaga Manda." Seru Ali.
"Makasih umak, abah sudah datang kemari," Sibki salim pada Suminten dan Wahyu.
"Kami merasakan firasat tidak enak, makanya kami kesini,"
"Saya permisi semuanya, Sibki kamu bersiaplah, assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam," semua orang menjawab salam Ali.
Beberapa menit Ali pergi semua orang terkejut mendengar senandung asal-asalan dari Manda.
"Dia semakin aneh sekaran," ringis Sibki.
"Sudah, semoga ada jalan untuk membuat Manda kembali normal," Aruna menyemangati Sibki.
"Aku titip Manda, aku juga mohon do'anya,"
"Iya kak, pasti,"
Sibki mendekati Manda yang sangat asyik dengan senandungnya.
"Manda, kaka pergi dulu ya, jangan nakal," Sibki membelai pucuk kepala Manda.
"Kaka yang jangan nakal!!!" Goda Manda.
Sibki segera berjalan kerumah ustadz Ali, karena disanalah mereka berkumpul. Setelah Sofyan datang, mereka ber empat, Ali, Sibki, Sofyan dan Ilyas langsung menuju rumah tahanan dimana Darnawan ditahan.
Kini mereka semua bertatap mata dengan Darnawan.
"Assalamu alaikum pak," seru mereka bersamaan.
"Wa alaikum salam, Sibki kapan acara perniakahan kalian?" Tanya Darnawan.
"Pak, Sibki dan Manda sudah menikah, aku yang jadi walinya, maaf pak kami tidak bisa mengabari bapak," lirih Sofyan.
"Tidak apa-apa, aku senang kalau sudah," jawab Darnawan.
"Kami kesini karena Manda," lirih Ali.
"Manda? Kenapa Manda?" Tanya Darnawan.
"Ada hal buruk yang menimpa Manda," jawab Sibki.
"Parahnya lagi aku tidak menemukan tanda-tanda gangguan halus, dokter yang memeriksa Manda juga tidak tahu penyakit yang Manda derita,"
Sibki mulai menceritakan keadaan Manda saat awal menikah hingga kini.
"Kenapa kalian tidak mengabariku?" Darnawan kesal.
"Maaf pak, aku dan Manda yang melarang Sibki, dari awal Sibki sudah ingin menemui bapak, kami ingin bapak tenang disini, tidak terusik masalah di luar, tapi ternyata aku salah,"
"Jika kalian terlambat menolong Manda, makan Manda akan mati, karena gangguan pertama nya adalah membuat organ inti Manda busuk, kedua seluruh tubuh Manda di penuhi bentol, kemudian Manda akan kehilanagan akal sehatnya, yaitu Gila. Akhirny dia akan kehilangan nyawanya," ringis Darnawan.
"Aku tidak mau kehilangan Manda!!!" Teriak Sibki.
"Dung dung dung!!!" Sipir mengetuk teralis besi dengan tongkatnya.
"Harap tenang!!!" Tegur sipir penjara.
"Kalian pulanglah dulu, aku mau bertanya dengan rekan-rekanku di dalam sana, ini bukan gangguan abal-abal, dukun nya juga bukan sembarangan, ustadz saja tidak menyadarinya bukan? Sudahlah aku akan telepon kalian jika menemukan informasi."
"Pak Ifin yang sangat mencintai Manda itu tidak ada lagi di rumah mereka, mereka semua pindah," ucap Sofyan.
"Nanti aku tanya sama bapaknya, kemana anak dan istrinya pindah."
"Jika aku tahu alamat dukun itu, maka kalian harus menebus baru Manda bebas,"
"Menebus?" Lirih Sibki.
"Seseorang membayar jasa dukun itu sangat besar, namun satu hal, jika yang datang ingin menebus, maka dukun itu harus melepas apa yang dia kirim buat Manda.
"Berapapun nanti akan ku tebus," ucap Sibki semangat.
"Saat kalian datang, ingat katakan "aku ingin menebus semuanya," itu kata yang membuat dukun itu tidak bisa menolak penebusan kalian."
"Baik pak, akan saya ingat," ucap Sibki.
"Silahkan pulang, aku juga mau cari informasi, kalau terlambat percuma, karena Manda akan kehilangan nyawanya."
"Baik pak, kami semua pamit, jaga diri bapak," Sofyan memeluk bapaknya.
Sibki dan Darnawan juga berpelukan.
"Terimakasih semuanya Sibki,"
"Maaf pak, karena menikahi anak bapak Manda jadi menderita,"
"Bukan salah kamu Sibki, titip anak gadisku, jadikan di salah satu bidadari sorga nanti,"
Sibki memeluk erat mertuanya. Merasa cukup mereka melepaskan pelukan. Sibki salim pada mertuanya, begitu juga Sofyan. Sedang Ali dan Ilyas bersalaman dengan Darnawan.
"Assalamu alaikum," seru mereka semua.
"Wa alaikum salam," jawab Darnawan.
Mereka meninggalkan arena rumah tahanan. Untuk kembali kemajelis sambil menyusun rencana kedepannya untuk menolong Manda.