
Siap lanjut baca Season 2 Titipan Guna-Guna?
Karena di depan Author bakal buat Reader maki-maki Aruna, eh salah maki-maki Authornya, cerita kok gini gak jelas bla bla bla, tenang Author dah siap panen pahala karena makian dari kalian ☺☺☺
Kalau nggak siap marah-marah sama nggak siap nahan diri mau jambak Author bacanya season 1 aja, kalau siap cuss silahkan lanjut,
Happy Reading.
*****
*
*
*
Usia kehamilan Nurul dan Aruna tidak terpaut jauh. Yang satu istri seorang Ustadz dan yang satu istri seorang pengusaha. Namun persahabatan dua wanita hamil ini semakin akrab. Aruna kini sedang berada di rumah Nurul. Dia, umi Fatma dan Nurul duduk santai di ruang tamu dalam rumah itu.
"Aruna... sudah cek kandungan kamu?" Tanya Nurul.
"Belum kak, aku nunggu kak Aan gak sibuk, biar bisa cek up bareng dia, kak Nurul sudah periksa?"
"Rencana besok Aruna, mau bareng?"
"Enggak kak, aku nunggu kak Aan saja," jawab Aruna.
"Nggak kerasa sudah hampir 5 bulan aja ini balon hidup," seru Nurul.
"Kaka kali yang tidak berasa, aku mah berat kak, gerak susah, padahal baru mau masuk bulan kelima, kok berat ya..." lirih Aruna.
"Setiap orang hamil mengalami hal yang berbeda Aruna." seru Fatma.
"Aneh aja umi... rasanya gimana gitu," ucap Aruna.
"Di nikmati... setelah ini berojol maka kamu akan merindukan indahnya fase ini," seru Nurul menaik turunkan Alisnya.
"Umi bahagia... banget! Mimpi aja umi gak pernah seperti ini, punya dua anak perempuan seperti kalian berdua," seru Fatma.
"Assalamu alaikum," Seseorang di luar sana memberi salam.
"Biar umi saja yang keluar, kalian tetap di sini," seru Fatma. Fatma segera menuju pintu.
"Wa alaikum salam," jawab Fatma.
"Ibu siapa dan cari siapa?" Tanya Fatma.
"Saya Farida, saya mau cari anak saya di sini namanya Salha." jawab wanita itu.
"Mari masuk dulu," lirih Fatma.
Farida dan Fatma duduk di kursi yang ada di teras rumah Nurul.
"Owh... anda ibunya Salha... tapi maaf... Salha sudah tidak disini," lirih Fatma.
"Ya Allah... kemana lagi aku harus mencari anak itu, setiap malam aku selalu bermimpi tentang dia,"
"Maaf bu... kurang lebih enam bulan yang lalu... tapi maaf... ibu yang kuat ya... em... Salha di temukan tewas di kamar kost-kost an nya," lirih Fatma.
Wanita itu menangis histeris mendengar kabar kematian anak perempuannya yang selama ini mwninggalkan dia.
Nurul dan Aruna segera berjalan keluar karena mendengar tangisan dari arah luar.
"Ada apa umi?" Tanya Nurul.
"Dia siapa?" Tanya Aruna.
"Dia ibu Salha," jawab Fatma.
Aruna dan Nurul saling pandang mendengar nama Salha.
"Salha juga teman kami bu, dia pergi dari sini karena dia ingin bekerja," lirih Aruna.
"Aruna... kamu tahu dimana Salha di makamkan?" Tanya Nurul.
"Menurut berita yang aku baca di TPU tanah merah, tanya saja pada petugas jaga makam, pasti dia tahu karena saat berita kematian Salha terbit di koran tidak ada satupun keluarga yang datang ke rumah sakit," jawab Aruna.
"Terimakasih informasinya saya akan segera kesana," ucap Farida.
"Mohon maaf sebelumnya, Salha bukan anak yang baik jika di rumah, sebelum dia kabur dia mencuri semua perhiasan saya yang saya simpan dalam lemari, waktu itu saya sangat tertekan makanya saya pergi jauh dari kota ini. Saya harap disini Salha tidak berbuat kejahatan," lirih Farida.
Aruna dan Nurul saling pandang.
"Salha anak yang rajin, selama 2 tahun dia tinggal di rumah ini," lirih Fatma.
"Syukurlah... saya takut kalau Salha..."
"Salha wanita yang baik," potong Nurul.
"Owh... kalau begitu saya pamit, saya mau mencari makam Salha, sebagai orang tua Salha saya meminta maaf atas nama Salha. Saya khwatir dia menyakiti kalian di sengaja atau tidak di sengaja,"
"Kami sudah memaafkan Salha saat kami tahu kabar kematiannya, tapi... kami tahu setelah 3 bulan," jawab Fatma.
"Saya permisi semua. Assalamu alaikum,"
"Wa Alaikum salam," jawab Aruna, Fatma dan Nurul.
"Kasian ibu Salha," lirih Aruna.
"Hemm..." lirih Nurul sambil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Aruna
"Wa alaikum salam!!!" Seru Aruna geram.
"Ups... Assalamu alaikum," sapa Aan.
"Wa alaikum salam," jawab Nurul dan umi Fatma.
"Kaka kebiasaan!!!" Seru Aruna.
"Maaf..." lirih Aan.
"Bagaimana kabar kamu Aan?" Tanya Fatma.
"Alhamdulillah baik umi, em... saya mau jemput Aruna boleh umi?"
"Tentu saja boleh," jawab Fatma.
"Pulang yuk... nanti umak heran kalau kita tidak ada di rumah," seru Aan.
"Ya sudah... kak Nurul... umi, aku pamit, Assalamu alaikum," ucap Aruna.
"Wa alaikum salam," jawab Nurul dan umi Fatma.
Aan dan Aruna meninggalkan rumah Nurul, dengan sangat hati-hati Aan membantu Aruna melangkah hingga memastikan Aruna duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.
***
Dari kejauhan ada sebuah mobil yang sedari tadi memata-matai keadaan rumah Aan dan Aruna.
"Kamu yakin ini rumah sasaran kamu?"
"Sangat yakin, sudah dua bulan aku mengawasi rumah ini, disini wanita siluman itu tinggal,"
"Jika kamu yakin aku segera melakukan ritual sekarang."
"Tunggu!!! Itu mobil suaminya,"
"Owh... mari kita lihat, aku sungguh ingin melihat wanita siluman yang sering kamu ceritakan."
***
"Ada apa sayang?" Tanya Aan, dia heran melihat Aruna bengong.
"Mobil itu kak, dari tadi pagi sudah di sana," jawab Aruna.
"Owh... nanti kaka akan perketat keamanan, kaka takut kalau bahaya mengincar kamu dan anak kita," lirih Aan.
Mobil Aan dan Aruna memasuki halaman rumah mereka. Setelah turun dari Mobil mereka langsung masuk ke dalam rumah.
"Umak abah..." seru Aruna.
"Kalian kemana saja, umak khawatir karena kamu nggak ada di rumah," Suminten langsung memeluk Aruna.
"Dari tadi pagi aku ke rumah kak Nurul mak," jawab Aruna.
"Owh... umak pikir kalian jalan-jalan, ayo sana istirahat," seru Suminten.
"Ya sudah mak... kami permisi ke kamar," lirih Aan sambil membantu Aruna berjalan menuju kamar mereka.
"Aruna sangat beruntung punya suami seperti Aan," lirih Suminten.
"Umak benar Nak Aan sangat baik," lirih Wahyu.
***
Di kamar mereka.
"Sayang... kangen..." rengek Aan.
"Iya aku juga... kak Aan lama banget pergi dinasnya aku sedih," rengek Aruna, dia masuk ke dalam pelukan Aan. Aruna mengendus-endus area dada Aan, menurutnya ada yang aneh.
"Aku pasti bau sayang... kan aku baru pulang kerja..."
"Bukan!!! aku suka bau badan kaka, khas banget... tapi ini beda!" Seru Aruna.
"Beda apanya?"
Aruna terus mengendus sekujur di area dada bidang Aan.
"Kaka pelukan sama wanita..." ringis Aruna.
"Ha? pelukan?" Aan menggeleng, bukan menggeleng tidak, tapi menggeleng takjub dengan indra penciuman istrinya. Karena sebelumnya dia menolong wanita yang hampir terpeleset di kantornya.
"Tapi ini bau parfum perempuan lho..." ringis Aruna.
"Sayang... di kantor kaka banyak perempuan, wajar aromanya ikut nempel, kamu tahu bukan bagaimana para perempuan makai minyak wangi?" Tanya Aan.
"Maaf kak... bukannya aku tidak percaya, tapi bau ini sangat jelas," lirih Aruna.
"Kaka akan jaga jarak jauh-jauh dari wanita, karena farfum wanita lain itu seperti bom yang siap meledak," seru Aan.
"Enggak gitu juga kak..." ringis Aruna.
"Fiuh..." Aan lega Aruna tidak jadi penyidik malam ini.
"Tobat... nggak akan lagi-lagi aku dekat sama Perempuan, bisa perang ini mah kalau di biarkan."lirih Hati Aan.