Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 43.* Maya part 4


Suasana duka kembali menyelimuti majelis taklim mahabbah. Kematian Maya membuat Andika kehilangan Semangatnya. Rasanya dia juga ingin mati, agar bisa bersama Maya, istri tercinta nya.


Maya sudah menghiasi dan mengisi kehidupan Andika. Andika tidak beranjak sedikitpun dari sisi jasad Maya. Fatma juga sangat berduka, Maya yang selama ini dia sayangi pergi lebih dulu dari dirinya. Duka terbesar menjadi orang tua ketika melihat jasad anaknya dengan mata kepalanya sendiri.


"Aan ... kamu jangan terlalu larut dalam duka ... semua orang juga berduka, Aan bahagiakan Maya dengan menjalan kan permintaannya selama hidup dulu," lirih Ali.


Andika mengangguk.


"Terimakasih sayang sudah memberikan Aa kesempatan mencintai mu, insya ALLAH Aa akan tinggal di sini agar aktif pengajian seperti permintaan mu dulu," lirih Andika sambil membelai wajah Maya.


Setelah bermacam proses di lalui, kini sampailah pada proses penguburan. Jasad Maya di kebumikan dekat pusara Ayah nya dan Ayah Nurul.


"Maaf kan umi bii ... umi tidak bisa menjaga anak kita Maya," tangis Fatma pecah di pusara suami nya.


"Umi ... jangan begitu ... ini lebih baik disisi ALLAH umi. Andai tidak baik, ALLAH tidak menjadikan semua ini terjadi, istighfar umi ..." lirih Nurul menguatkan ibu nya.


Fatma terus melafadzkan istighfar.


Setelah selesai pengajian buat almarhumah Maya di majelis selesai, Andika pulang ke rumah bebenah barang barangnya.


Andika mengontrak rumah dekat majelis dan akan tinggal bersama Aslun asisten kepercayaan nya. Juga memasukan semua baju Maya untuk di sedekahkan kepada orang yang memerlukan.


Seminggu sudah Maya pergi. Pagi yang sejuk dan damai menjadi pagi yang mencekam bagi Salha.


"Bayar dulu sewa rumah ini ...! Kalau engga kamu angkat kaki dari rumah ini!!!" teriak bu Bian pemilik kontrakan.


"Bu ... tolong beri saya waktu," pekik Salha.


Namun Bian tidak menghiraukan Salha, dia melempar semua barang barang Salha keluar hingga memancing warga sekitar untuk menonton nya.


"Ada apa ini?" Tanya Andika mendekat.


"Ini si Salha enak aja ngga bayar kontrakan ... sudah 2 bulan, saya juga butuh uang pak," teriak bu Bian.


"Salha ... lebih baik kamu pulang saja ... mendingan kamu ikut orang tua kamu kalo kamu belum bisa mandiri" lirih Andika.


"Gila ... pulang ...??? sama saja bunuh diri, menampakkan batang hidungku ke orang tua ku," batin Salha.


"Umi ... bagaimana kalau Salha tinggal sama kita?" bisik Nurul ke Fatma.


"Kamu yakin?" Tanya Fatma.


Nurul mengangguk.


"Salha ... bereskan barang mu ... kalo kamu ngga keberatan kamu tinggal sama kita," ucap Fatma.


Salha menangis segera berlari ke Fatma dan memeluk Fatma.


"Terimakasih umi ... kak Nurul." lirih Salha.


Kamar Maya yang dulu sekaran di tempati Salha. Salha sangat senang tidak perlu jauh dari sini, karena kebaikan Nurul dan ibunya.


Sejak saat itu Salha tinggal di rumah Nurul.


Setiap ada kesempatan Salha selalu berusaha mendekati Andika. Namun Salha sama saja bunuh diri mencoba mendekati dan mencari perhatian Andika sama saja membangun kan singa yang sedang tidur.


Pagi pagi Salha berjalan menyusuri Taman komplek majelis. Terlihat Andika melamun memandangi bunga bunga yg di sukai Maya.


"Assalamu alaikum ka ..." sapa Salha.


"Wa alaikum salam," sahut Andika dingin.


"Enggak kerasa ya ... Maya meninggalkan kita sudah sebulan," lirih Salha.


"Kamu yang enggak ngerasa, bagiku sehari tanpa Maya sangat berat untuk kulewati " jawab Andika sinis.


"Itu karena kaka ngga mau buka hati kaka buat orang lain, cobalah buka hati kaka ... masih banyak Maya yang lain yang ada di sekitar kaka ... lupakan Maya yang mati," seru Salha dengan pedenya.


"Bagi aku ... Maya cuma satu! Dan selalu hidup di hati aku! Aku ngga akan pernah melupakan Maya, jika kamu mendekati ku hanya untuk menyuruh ku menikah atau sejenisnya, jangan pernah datang dihadapan mataku!!!" bentak Andika. Andika pergi meninggalkan Salha dengan perasaan yang sangat marah.


Salha benar benar ketakutan. Melihat Andika semarah itu padanya.