Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 79. Kebebasan Aruna


"Kalian harus melakukan hubungan badan di sana," seru Ali menunjuk sebuah tenda yang berdiri di sisi Aliran sungai.


"Apa???" Jawab Aan dan Aruna bersamaan.


"Iya ... dulu sudah ku bilang kan,kalau hanya yang menjadi suami mu yang bisa mengeluarkan titipan itu, titipan itu masuk saat kamu di sungai, maka kamu juga akan mengeluarkan di sungai bersama suamimu," lirih Ali.


Aruna dan Aan sama sama bingung, mereka berdua saling pandang, kemudian sama-sama menatap Ali.


"Aan ... kalau ular kecil itu keluar dari kewanitaan Aruna. Silahkan kau bunuh dia dengan ini," lirih Ali sambil memberikan potongan bambu kuning.


"jangan!!! Jangan bunuh makhluk itu ...!!! Dia tidak bersalah ...! yang bersalah itu manusia bejat yang memanfaatkan mereka. Dia sudah keluar saat aku di culik waktu itu, namun aku menolongnya dan membiarkan mahluk itu masuk kedalam diriku lagi, karena dukun yang menculik ku ingin memakai mahluk itu untuk menambah kekuatan nya. Tapi ... karena keinginannya tidak dihiraukan oleh siluman itu dukun itu juga ingin membunuh makhluk itu, tolong kalau bisa kembalikan saja dia ke alam nya ustadz ..." pinta Aruna.


"Hem ... Terbuat dari apa hati istri mu ini Aan?


dia menyelamatkan mahkluk yang selama ini merugikan nya. Luar biasa, baik Aruna ... kita akan keluarkan saja, kemudian kita kembalikan makhluk itu, biar dia yang menyelesaikan urusan nya dengan manusia Dzalim itu," seru Ali.


"Tunggu!!! Ustadz bilang ... hanya suami aku yang bisa mengeluarkan makhluk itu, Apa dukun itu ...?" Aruna menerka-nerka.


"Mengeluarkan dengan caraku, harus dengan menggaulimu. Mengeluarkan dengan cara Dukun itu, aku yakin! Dia hanya memanggil makhluk itu dan menyiksa nya jika makhluk itu tidak keluar," jawab Ali.


"Uhh ... Syukurlah ...!" Lirih Aruna.


Dia benar benar lega, tadinya sangat khawatir, kalau kalau dukun itu menggauli nya.


"Bagaimana? Lanjutkan? terserah kalian? jika kalian ingin melepas mahkluk itu maka lakukan itu di sana," seru Ali.


"Ustadz ... apa harus seperti ini ...?" protes Aan.


"Aruna dititipi oleh orang jahat itu ketika di sungai, jadi kita juga harus melakukan nya di sungai, berapa kali aku harus jelaskan ini," jawab Ali.


"Okey ... ini hal lumrah dan biasa semua pasangan yang baru menikah melakukan nya, tapi ini ...?" lirih Aan menatap ke tenda lalu memandang ke arah mereka yang duduk di tikar yang tidak jauh dari sungai.


"Kamu dan Aruna bertugas disana. Aku dan yang lain bertugas membantu dari sana," jawab Ali menunjuk ke arah dua kerumunan.


"Huhhhh ... baiklah ustadz ..." jawab Aan pasrah.


"Aruna ... silahkan kamu bersiap dalam tenda itu, aku ingin bicara dulu dengan Aan," pinta Ali.


Aruna berjalan lebih dulu ke arah tenda itu. Sedang Ali memberi Aan intruksi bagaimana melakukan nya.


"Apa kamu faham ...?" Tanya Ali.


"Faham ustadz," jawab Aan.


"Setelah melakukan yang tadi aku ajarkan, maka nanti ular itu keluar, dekat kan botol ini, dia akan masuk dengan sendiri nya ke dalam botol ini," seru Ali.


"Kecil banget pak ustadz ... emang muat ...?" Tanya Aan heran


"Makhluk itu memang ular ... tapi sangat kecil seperti cacing, dia tinggal di leher rahim Aruna," terang Ali.


Andika mengangguk.


"Setelah makhluk itu keluar dan masuk ke botol ini, segera kamu tutup botol nya, setelah itu kamu pergauli Aruna. Karena makhluk itu hanya tinggal di leher rahim wanita yang masih perawan, jika Aruna sudah kau perawani ... maka mahkluk itu tidak bisa kembali," terang Ali.


"Perawan???" Lirih Aan heran.


"Bukannya dia janda ...?" Tanya Aan.


"Yang di gauli laki-laki sebelumnya adalah siluman itu, bukan Aruna ..." jawab Ali.


Wajah Aan seketika memerah menahan luapan kebahagiaan mengetahui Aruna yang dia kira janda ternyata masih perawan.


Rasanya Aan pengen teriak betapa girangnya dia mengetahui Aruna masih perawan.


"Udah sana ... cepat!!! Keburu Magrib neh!!!" Bentak Ali.


Aan berjalan menuju tenda dengan semangat membara, tapi dia masih gerogi juga.


Di dalam tenda ...


Aruna seorang diri sudah mengikuti perintah Ali yang tertulis di kertas yang ada di tenda itu. Dia sudah mengenakan Lingerie putih panjang. Dia duduk di matras yang terampar di batu rata yang ada di tepi Arus sungai.


"Assalamu alaikum," Kata Aan yang baru datang.


"Wa alaikum salam," jawab Aruna.


Aan takjub melihat Aruna tanpa kerudung, dan mengenakan baju seksi.


"Masyha Allah ... cantik nya ciptaan mu ya rabb. Aku ngga nyangka kamu lebih cantik dari yang aku bayangkan ..." lirih Aan memandangi Aruna takjub dengan apa yang dia lihat.


Aruna tersenyum mendengar pujian Aan.


Aan langsung mendekati Aruna, dan mencium alis nya. Sebelumnya membaca Do'a yang di ajarkan Ali.


"Lepas giok ini ... kamu tidak membutuhkan nya lagi," lirih Aan melepaskan gelang Giok Aruna.


"Slepsssshhh," seekor ular yang sangat kecil keluar dari liang Aruna.


Aan langsung mendekatkan botol kecil pemberian Ali pada ular itu. Ular mini itu terisap dengan sendiri nya ke dalam botol. Aan segera menutup botol itu dan di letakannya di keranjang kecil yang ada di samping Aruna.


Air sungai tiba tiba menggemuruh. Di atas sana, Ali dan yang lain nya siap membantu dengan Dzikir, mereka segera memulai Dzikir dipimpin Ali sendiri. Suara Dzikir mereka menggemuruh.


Mendengar suara gemuruh Air Aruna jadi takut. Karena dia dan Aan berada di aliran sungai.


"Jangan takut ... kata Ustadz kita harus segera melakukannya," bisik Aan.


"Kata ustadzsetelah makhluk dalam botol itu keluar, kita harus ..." Aan memulai ritual mereka.


Aan menyelimuti dirinya dan Aruna.


Karena Ali berpesan melakukan pelepasan memakai selimut putih itu. perlahan Aan mendekatkan bibir nya pada bibir Aruna. Aan dan Aruna melangsungkan upacara pelepasan mereka, dalam balutan selimut putih. Aruna larut, karena ini pelepasan pertama baginya.


Suara gemuruh Air seakan saling berlawanan dengan suara gemuruh Dzikir yang dipimpin Ali. Demi menolong kehidupan wanita yang dalam tenda itu yang kini baru merasakan pengantin sebenar nya.


Ali dan yang lain sama- berjuang duduk berkumpul dengan dzikir yang serentak di bawah komando Ali. Sedang di dalam tenda itu dua orang sedang berjuang diatas batu yang keras hanya ber alas matras tipis melakukan pertemuan pertama mereka.


Suara gemuruh dzikir, gemuruh air dan suara kecil didalam tenda yang hanya bisa didengar sepasang pengantin baru mengihiasi sore ini.


Di dalam tenda.


Aan tersenyum memandang lekat wajah Aruna yang larut dalam pergulatan mereka. Semangatnya semakin berkibar ketika tangan Aruna mencengkran bahunya karena tidak tahan dengan hantamannya.


Lama bertarung, akhirnya mereka sampai pada puncak tertinggi. Akhirnya selesai dengan ritual pelepasan mereka. Aan mendekap erat tubuh Aruna tanpa sehelai benang namun didalam balutan selimut yang sama.


"Apakah ini mimpi ...?" Lirih Aan.


"Iya ini mimpi ... dan aku tidak mau bangun," lirih Aruna menenggelamkan wajahnya ke dada mulus Aan.


"Mimpi ....? Ini terlalu indah jika mimpi," lirih Aan, tangannya menggerayang kemana-mana, menjelajahi setiap centi apa yang dia mampu sentuh. Perasaannya sungguh sulit di ungkapkan betapa bahagianya dia.


"Aku yakin ini mimpi ... aku tidak pernah merasakan hal ini sebelum nya," lirih Aruna.


"Aku tau ... ini yang pertama buatmu, tapi kita harus keluar ... orang orang di luar pasti menunggu kita," lirih Aan.


"Aku tidak mau keluar aku malu ..." ringis Aruna sambil mendalami lagi pelukannya.


"Hem ... apa kamu tidak mau melakukan lagi di tempat yang lebih layak dan nyaman ...?" Tanya Aan.


Aruna terus menenggelamkan wajahnya di dada Aan. Dia sangat malu mendengar pertanyaan Aan.


"Hei ... sudah ... ayo pakai baju mu, belakangku sakit berbaring lama di batu ini," seru Aan melepaskan pelukan nya.


Aan dan Aruna bangun dan memakai kembali pakaian mereka yang ter onggok di bebatuan.


Aruna mengucak kain yang sedikit ada noda itu di aliran sungai.


"Hei ... biarkan saja," seru Aan. Aan tersenyum melihat kain yang bernoda itu.


"Tidak, aku malu," lirih Aruna.


Setelah selesai mengucek kain itu Aruna siap untuk keluar dari tenda itu.


"Kita akan ulangi lagi di kamar ku nanti ..." goda Aan.


Aruna tersenyum.


"Cups!" Kecupan halus bibir Aan mendadat pada bibir Aruna, pertarungan lidah kembali memanas sebelum mereka keluar tenda.


Aruna duduk di pangkuan Aan, mereka larut dalam kegiatan mereka.


Di tepi Sungai ...


"Alhamdulillah ... Aruna lepas dari titipan guna-guna," seru Ali.


Suminten menangis memeluk erat Mastia.


"Terimakasih ya Allah ... anaku bebas... sudah terlalu besar penderitaan nya karena guna-guna itu," ringis Suminten.


"Sudah ... sudah ... silahkan kalian bubar! Aku yakin pengantin baru di dalam tenda itu tidak akan keluar jika kita semua masih di sini," seru Ali.


"Apa sudah selesai ustadz ...?" Tanya Wahyu


"Sama Aruna sudah selesai, tinggal mengembalikan makhluk itu saja besok pagi di sungai ini," jawab Ali.


Mereka semua bubar. Hanya Ali seorang diri menunggu pasangan pengantin yang masih betah di dalam tenda itu.


Aan melepas pangutannya. "Sudah ..." Suara Aan bergetar, karena keinginannya menyala kembali. Aruna menunduk dia langsung memeluk Aan. menenggelamkan wajahnya dia bahu laki-laki yang kini menjadi suaminya.