Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 48* Merindukan


Setelah menyelesaikan tugas memasak di dapur, Aruna menggantikan tugas Salha merawat taman Bunga di pekarangan rumah Nurul. Aruna nampak asyik menyirami tanaman yang tumbuh di taman itu, sambil menikmati melihat indahnya bunga-bunga yang sudah bemekaran. Aruna memang suka bunga, apalagi abahnya juga suka memelihara bunga-bunga di sekitar perkebunan mereka Dulu. Hingga tidak terasa Aruna merindukan Abah dan umak nya.


"Assalamu alaikum," seru seseorang menyapa Aruna.


"Wa alaikum salam," jawab Aruna berbalik menghadap sumber suara itu.


Laki-laki itu nampak terpesona dengan wajah Aruna.


"Astaghfirullah ..." lirih hati laki-laki itu.


"Maaf ... saya Saman ... saya mencari pak ustadz Ali ... em ... pak ustadz nya ada ...? Bilang saja Saman yang mencari," ucap laki laki itu.


"Oh ... ada tunggu sebentar ya ... saya panggil pak ustadz," jawab Aruna,


Setelah Aruna masuk, tidak lama Ali keluar.


"Assalamu alaikum Saman ..." sapa Ali.


"Wa alaikum salam pak ustadz," jawab saman, segera Saman salim pada ustadz Ali.


"Langsung saja pak ustadz ... ini ... saya minta tambahan stok bunga. Alhamdulillah ... pesanan lagi banyak banyaknya, dari buket bunga sampai bunga papan," Kata Saman.


"Alhamdulillah ... gimana ya ... masalahnya si Salha lagi pulang kerumah ibunya," jawab Ali.


"Waduh ... tolong banget ya pak ustadz ..." pinta Saman.


Aruna datang membawa dua gelas kopi dan gorengan yang dia buat sendiri dan menyuguhkannya pada Ali dan tamunya.


"Aruna ... kamu temani Ilyas ngantar bunga ke toko Saman ya," pinta Ali.


"Terserah pak ustadz saja," jawa Aruna.


"Aa yakin ... kaki Aruna masih sakit lho Aa," seru Nurul baru datang.


"Urusan rumah gimana?" Tanya Aruna.


"Ampun Aruna ... kamu ngga harus mengurus rumah ini ..." seru Nurul.


Aruna mengerti kalau urusan bisnis majelis ini lebih penting. Karena Saman akan mendapatkan pesanannya, Saman segera pamit pulang. Setelah Saman pergi, Ali segera mengirim pesan pada Ilyas, agar segera menyiapkan pesanan Saman. Semua pesanan sudah selesai ditata, semua bunga pesanan Saman sudah tertata di mobil pik up.


Ilyas pun segera mengemudikan mobil menuju rumah Ali, untuk menjemput Aruna dan pamit pada ustadz Ali.


"Kami pamit ustadz," seru Ilyas.


"Iya ... hati-hati ... kamu cuma catat Aruna, jangan capek-capek," seru Ali.


"Iya pak ustadz ..." jawab Aruna.


"Assalamu alaikum," seru Ilyas dan Aruna.


"Wa alaikum salam," jawab Ali.


Aruna dan Ilyas menuju toko bunga Saman, mengantar pesanan Saman.


Tidak salah tunjuk Ali mengutus Aruna, karena Aruna sangat cekatan dan teliti. Ilyas dan Saman kagum dengan kinerja Aruna. Belum lagi kemampuan Aruna mengenali bunga yang kena hama dan penyakit. Hingga Aruna meminta untuk di tahan, alias tidak dijual.


Ilyas dan Saman semakin kagum. Karena kebun bunga ustadz akan semakin cemerlang bila menjual bunga-bunga yang unggul. Sedang Saman merasa sangat terbantu, dengan kelebihan Aruna itu.


Belum lagi sifat Aruna dan ramah dan santun, membuat para pekerja Saman menyukainya. Tidak seperti Salha yang galak dan cuma mikirin untung, tanpa memikirkan fatner bisnis nya.


Sejak hari itu Aruna sering ke toko Saman, hingga Aruna dan Saman saling kenal, kini tiga bulan sudah dilalui. Namun karena pesanan Saman menurun, Aruna pun menjadi jarang ke toko Saman. Saman juga tidak bisa menemui Aruna ke majelis, karena toko dia tangani sendiri, karena pegawainya istirahat melahirkan.


Saman dan Aruna saling merindukan, karena mereka cocok dan nyaman saat bicara, serta kenyamanan komunikasi diantara keduanya, membuat mereka mudah menjadi teman. Namun karena kesibukan masing masing membuat keduanya tidak bisa lagi bertemu.