
Elna datang ke kantor Aan meminta pekerjaan.
Aan bingung mau menjawab apa, Aan memutar otaknya memikirkan cara halus menolak lamaran Elna yang melamar jadi sekeretarisnya.
"Maaf Elna, bukan aku tidak percaya sama kamu, tapi sejak bercerai dengan Aruna aku kapok dekat-dekat dengan perempuan, aku sangat mencintai Aruna, jadi aku sengaja menutup sumber salah faham mulai dari kantorku, aku tidak menerima pekerja perempuan El, maafkan aku, tapi kalau kamu memang butuh pekerjaan aku bisa bantu misalnya, di tempat temanku," lirih Aan dengan hati-hati.
"Tapi impianku dan impian keluargaku agar aku bekerja di kantor ini," lirih Elna.
Ponsel Aan berulang kali berkedip karena di silent Aan, Aan baru menoleh ke arah ponselnya.
"Maaf El istriku menelpon, Aan langsung mengangangkat panggilan Aruna.
"Assalamu alaikum sayang," lirih Aan
"Wa alaikum Salam, kaka kenapa nggak angkat telepon aku hampir 20 kali panggilan lho ini,"
"Maaf, aku tadi sibuk, ada apa?"
"Aku izin keluara ya," pinta Aruna lembut.
"Haciiim!!!" Elna bersin, "maaf," lirih Elna.
"Perempuan, tunggu, bukannya kaka tidak mempekerjakan perempuan di kantor kaka, siapa dia?" Aruna samar mendengar suara perempuan.
"Oh, ini Elna minta pekerjaan di kantor ini," lirih Aan.
"Elna lagi, Elna lagi, dari awal dia melihat kaka aku mendapat firasat tidak enak dengan perempuan itu, hah mood ku jadi buruk, aku pergi assalamu alaikum," ucap Aruna yang langsung memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban salam dari Aan.
"Wa alaikum salam," ucap Aan dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
"Hem bahagia gini ya kalo istri cemburu," lirih hati Aan.
"Maaf," lirih Elna.
Sapaan Elna mengejutkan lamunan Aan.
"Iya El?"
"Bagaimana dengan permintaanku?"
"Kamu kirim saja lamaran kamu ke staf ku yang bertugas, tapi pekerjaanmu bukan di lantai ini," jawab Aan.
"Itu lebih dari cukup, bekerja di kantor ini impianku," lirih Elna.
Selesai mengatakan permintaannya, Elna pamit dari kantor Aan sedang Aan melanjutkan pekerjaannya.
***
Aruna dan Jojo pergi kerumah kontrakan Sibki. Aruna singgah di supermarket membeli banyak keperluan untuk Manda. Kemudian melanjutkan kembali perjalanan kerumah Sibki. Kini mereka sudah sampai di kontrakan sederhana Sibki.
"Assalamu alaikum," Aruna mengetuk pintu rumah Sibki.
Didalam rumah.
"Kaka, bangun … ada yang mengetuk pintu," Manda membangunkan Sibki.
"Hem? Baiklah aku akan membuka pintu." Sibki bangkit dari posisinya.
"Kerudungku …," pinta Manda.
Sibki membantu Manda memakai kerudung nya.
"Aku keluar sebentar,"
Manda mengangguk.
"Wa alaikum salam," jawab Sibki sambil membuka pintu.
"Bapak? Aruna? Kalian?"
"Tolong ambilkan bawaan kami di mobil," pinta Aruna, Aruna langsung masuk dan menuju kamar Sibki.
Di dalam kamar.
"Manda …," Aruna membelai tangan Manda.
"Aruna," lirih Manda.
"Kami akan berusaha semampu kami untuk menyembuhkan kamu, kamu semangat Manda,"
"Pasti Aruna," jawab Manda.
"Aruna, untuk apa kamu beli popok dewasa sebanyak ini? Dan ini? Ini tisu bayi bukan?" Sibki memperlihatkan tisu basah dan popok dewasa yang dia pegang.
"Manda pakai popok, biar kencing dan bab tidak perlu bangun, tapi bagian depan jangan di tutup, cukup sebagai alas saja," jawab Aruna.
"Terus tisu basah ini?" Buat membersihkan," jawab Aruna.
"Kenapa kalian harus susah payah seperti ini? Aku jadi …,"
"Manda, kamu keluarga kami, hem, sekarang aku harus membiasakan memanggil kamu kak Manda," lirih Aruna.
"Manda, kamu tidak boleh irit makan atau minum, hanya karena takut dan malas bab atau kencing, kamu harus makan seperti biasanya oke?" Seru Aruna.
Manda mengangguk dan tersenyum.
Aruna mulai melapisi alas berbaring Manda dengan underped dan popok dewasa pada bagian pantat Manda.
"Terimakasih Aruna," seru Sibki.
"Manda, izinkan aku membantu merawat kamu, nanti kami akan tinggal di sekitar sini," ucap Aruna.
"Bagaimana suami dan anakmu?" Tanya Manda.
"Ku rasa ini hanya sebentar, kamu juga harus optimis Manda," ucap Aruna.
Setelah semua perlengkapan diturunkan, Jojo pun pergi setelah berpamitan pada Sibki, Manda dan Aruna.
Sore hari.
"Assalamu alaikum mak," Aan baru datang dari kantornya.
"Wa alaikum salam," jawab Suminten.
"Aruna mana mak?"
"Bukannya Aruna sudah izin sama kamu kalau pergi dan menginap di rumah Sibki, Sibki dan Manda menikah tadi pagi …,"
"Nak Aan, dengari umak dulu!!!"
"Assalamu alaikum," Aan sangat semangat meninggalkan rumah Suminten menuju majelis.
Sesampai di rumah kontrakan Sibki Aan berlari dengan semangat masuk kerumah itu.
"Assalamu alaikum," seru Aan.
"Wa alaikum salam," jawab Aruna dan Sibki.
"Kaka?" Lirih Aruna.
"Pengantin baru …," ejek Aan, "mana kaka iparku?" Tanya Aan.
"Kak Aan, ini bukan saatnya untuk bercanda, kumohon," pinta Aruna.
Aan tetap berjalan ke arah kamar Sibki.
"Masya Allah, kamu apain anak orang Sibki? Pasti kamu kasar ya? Lihat Manda tidak berdaya seperti itu," Goda Aan.
"Kak Aan!!!" Bentak Aruna.
"Kasian Manda, Sibki pasti beringas," goda Aan.
"Ini saatnya kita bayar hutang atas semua kejailan kakakmu ini," seru Aan.
Aruna mengambil tas Aan dan menarik Aan keluar dari rumah Sibki.
"Kalau kaka seperti ini!!! Jangan pernah datang kemari!!!" Bentak Aruna.
"Sayang, apa kamu masih cemburu dengan hal tadi siang," goda Aan.
Aruna mendorong Aan menjauhi pintu dan langsung menutup dan mengunci pintu rumah Sibki.
"Huuhhhh," Aruna membuang nafas karena geram melihat kelakuan Aan.
"Aruna, kamu tidak perlu sekasar itu pada suami kamu," lirih Sibki.
"Dia akan bercanda terus kak kalau tidak di kasari, kaka tentu lebih mengenal kak Aan kan?"
"Kamu benar, sudahlah kita istirahat dulu, bentar lagi magrib, suami kamu itu paling numpang ke kantor ustadz Ali,"
"Ya pastinya, kemana lagi dia," jawab Aruna ketus.
Di luar rumah.
"Kesambet apasih kaka beradik itu hari ini sama-sama dingin?" Gerutu Aan. Aan terus melangkahkan kakinya menuju kantor ustadz Ali.
"Assalamu alaikum ustadz," ucap Aan.
"Wa alalikum salam," jawab Ali dan Ilyas.
"Aan, kenapa wajahmu?" Tanya Ali.
"Entah kenapa pengantin baru dan adiknya itu, mereka tidak asyik di ajak bercanda aku di usir," Aan duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Pantas," jawab Ali.
"Kenapa pak ustadz? Maksudku pantas kenapa?" Tanya Aan.
"Kamu tidak tahu apa yang menimpa Manda?"
"Tidak tahu,
Mendengar Sibki dan Manda menikah aku langsung kesini untuk membayar hutangku selama ini pada Sibki,"
Ali mulai menceritakan keadaan Manda dan kenapa Sibki menikahinya.
"Astaghfirullah, pantas tadi di rumah pengen cerita tapi aku main pergi," gerutu Aan.
"Sudah lah, kamu istirahat di kamar belakang, kamu pasti baru pulang bekerja bukan?"
"Iya ustadz, saya baru pulang,"
***
Setelah sholat Magrib Aan kembali kerumah Sibki.
"Assalamu alaikum," seru Aan.
"Wa alaiku salam," jawab Sibki. Sibki membukakan pintu.
"Masuk An,"
"Terimakasih Sibki, maafkan aku tadi sore, aku tidak tahu apa yang menimpa Manda,"
"Sudahlah, ayo masuk,"
Aan dan Sibki duduk di ruang tamu.
Aruna datang membawa nampan yang berisi makanan di tangannya.
"Kak Sibki, kaka suapi manda lebih dulu, selesai baru kita makan bersama," ucap Aruna.
"Iya Aruna," Sibki mengambil nampan yang Aruna bawa dan berjalan ke arah kamar menyusul Manda.
Aruna duduk di sampin Aan dan bersandar pada Aan.
"Maafkan aku, karena aku kasar pada kaka,"
"Aku juga minta maaf, aku iseng karena aku tidak tahu apa yang menimpa Manda.
"Kasian manda kak," ringis Aruna.
"Apa perlu kita pindah kerumah kita yang di seberang?"
"Jangan dulu, semoga ini hanya sebentar," jawab Aruna.
"Kalau begitu kamu harus ihklas berpisah sementara dengan anak-anak, tinggallah disini beberapa waktu, bantu Sibki dan Manda."
Aruna menegakkan tubuhnya. "Terimakasih kak,"
"Jangan berterimakasih, kita semua harus bantu Manda dan Sibki,"
Aruna mengangguk cepat dan tersenyum.