
Suminten dan Wahyu hanya menyimak acara tahlilan itu. Hati keduanya tereyuh melihat langsung pengajian ini. Mereka mendengari semua dari Awal hingga Akhir.
Setelah bermacam macam dilalui akhirnya pengajian pun selesai. Nurul berusaha mendekati Ali lalu berbisik
"Aa kapan kita pulang? Kasian Aruna sendirian," bisik Nurul
Ali mengangguk, Ali segera menghampiri Aan dan berbisik pada nya
"Aan ... kami permisi lebih dulu ya ... kasian Aruna kakinya tadi keseleo, kalo ada apa-apakan kasian," bisik Ali.
"Iya pak ustadz ... makasih sudah hadir," sahut Aan.
Nurul, Fatma dan Ali pamit pulang.
Sedang Aan melanjutkan menjamu tamu tamunya untuk menikmati hidangan yang tersedia.
"Entah kenapa ... wajah tuan tidak seceria sebelumnya," seru Wahyu yang mendekati Aan.
"Tadinya saya ingin mengenalkan wanita yang menarik hati saya pada kalian, ternyata dia tidak bisa datang," jawab Aan.
"Kenapa tuan mau mengenalkan nya pada kami ...?" Tanya Wahyu.
"Karena bagi saya, kalian seperti orang tua saya. Apa salah seorang Anak mengenalkan calon menantu pada orang tuanya?" Tanya Aan.
"Tuan ..." lirih wahyu tidak terasa air matanya menetes.
Aan memeluk wahyu lalu melepas pelukannya lagi,
"Terimakasih ... kehadiran bapak dan bu sumi sangat membantu saya, dengan bersama kalian, saya merasa memiliki keluarga lagi, setelah istri saya meninggal, saya merasa hidup seorang diri," lirih Aan menatap Wahyu dan Suminten lekat.
"Tidak tuan ... justru tuan yang membantu kami," sahut Wahyu.
"Nanti kapan-kapan kenalkan pada kami gadis yang beruntung itu," seru Wahyu melepaskan pelukan Aan.
"Gadis atau janda tidak masalah tuan, yang penting ..."
"Yang penting tepat di hati," jawab Aan memotong kata-kata wahyu.
***
Tidak terasa acara selesai, para tamu sudah selesai dan perlahan izin pamit pulang pada Aan. Aan berterimakasih pada semua yang hadir di acaranya. Semua tamu juga sudah meninggalkan rumah Aan.
"Pak wahyu ... jika masih ada makanan yang belum dimakan, pinta para petugas catering untuk membungkus per satu porsi, sama minuman mineralnya juga dimasukin kardus. Biar kita bagi-bagi di jalan buat anak jalanan dan orang orang yang hidup di jalan lainnya," pinta Aan.
Segera Wahyu menyampaikan intruksi tuannya kepada para petugas catering.
Selesai semua tugas, Aan mengajak Wahyu dan Suminten pergi mengelilingi jalanan untuk membagi makanan lebih dari pengajian tadi. Setiap mereka menemui anak jalanan dan gelandangan, mereka membagi makanan dan minuman, ke setiap orang yang mereka jumpai di pinggir jalan.
Sekian jauh berkendara, Akhirnya kotak makanan yang mereka bawa pun habis di bagikan.
"Gimana pak?" Tanya Aan
"Habis tuan," jawab Wahyu.
Aan melajukan mobilnya memasuki restoran untuk mengajak Sumi dan Wahyu menikmati makanan di restoran.
"Kok ke tempat makan tuan??? Kita kan sudah makan, tuan saja ya yang makan, kami sudah makan," seru Suminten.
"Iya ... memang kalian makan, tapi ngga tenang ... sudah jangan nolak... kita makan sama-sama," seru Aan.
Akhirnya mereka makan malam bersama di restoran pilihan Aan. Aan memilihkan makanan buat Sumi dan Wahyu setelah menanyakan makanan seperti apa yang mereka sukai. Karena pasti mereka tidak akan faham dengan menu menu yang tertulis ini.
Memang banyak makanan, di tahlilan tadi, tapi Sumi dan Wahyu tidak bisa menikmati, karena kasian dengan pelayan lain yang kerepotan, akhirnya mereka lebih memilih membantu rekan kerja, dari pada menikmati makanan.