Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 63* Dalam Bahaya


Aruna sudah sadar sedari tadi. Dia mendengar semua pembicaraan Salha dan Qiweh. Aruna sungguh sangat kecewa, ternyata Salha tidak sebaik perkiraannya. "Jangan-jangan? Salha juga campur tangan dalam penculikan ini?" Gumam hati Aruna.


"Eh tunggu tunggu ...? Laki-laki itu bilang aku bebas, anak putri ular ada dalam botol dan dia ingin membunuh anak putri ular? Aku tidak boleh membiarkan dia membunuh anak siluman ular itu, bagaimanapun mereka juga berhak hidup, mereka mengusik kehidupanku karena terikat janji dengan manusia bejat !!!" Lirih hati Aruna.


Di bagian luar rumah Qiweh.


"Mbah beri aku tempat tinggal, aku sudah kabur dari majelis itu," rengek Salha.


"Baiklah ... mari kerumahku, setidaknya kau masih bisa jadi menantuku," seru Qiweh.


"Terserah mbah saja ... asalkan aku bisa membayar semua rasa sakit hatiku ini nanti," sahut Salha.


Salha dan Qiweh mulai melangkah, mereka segera menuju rumah tempat tinggal Qiweh.


Salha menghentikan langkah kakinya. "Siapa mbah yang jaga Aruna?" Tanya Salha.


"Tangan dan kaki nya di ikat Jarkan anak ku, setelah kami mengeluarkan anak siluman itu, tenang ... dia tidak akan bisa kabur, lagian setelah ritual mengeluarkan penunggu liangnya tenaganya pasti habis terkuras," seru Qiweh.


Salha dan Qiweh melanjutkan langkah mereka, meninggalkan rumah praktek menuju rumah tinggal Qiweh.


***


Aruna tahu mereka sudah pergi, dengan susah payah dia berusaha bangun, dia segera mencari sesuatu untuk membuka ikatannya. Aruna melihat belati yang menancap disebuah kotak kayu. Segera dia menyeret dirinya mendekati belati itu. Dia posisikan tangannya yang diikat itu dengan mata belati itu.


Sets ... "Akh ..." pekik Aruna, karena tangannya ikut tergores mata belati itu.


Akhirnya tali yang mengikat tangannya itu putus, setelah beberapa kali di gilas perlahan di mata belati. Aruna mencabut belati yang menancap di kotak kayu yang berada di meja praktek dukun itu. Belati itu dia pakai untuk memotong tali yang mengikat kaki nya.


'Eh heheheh heheheheeee," suara tawa gaib terdengar.


"Terimakasih nona ... engkau telah melepaskan kami ...." kata suara gaib itu.


"Selagi ada waktu pergilah, jangan mengganggu manusia yang tidak mengganggu kalian," seru Aruna.


Suara gaib itu hilang seketika.


Aruna mengambil kain yang ada, dia lap tetesan darahnya yang ada di lantai dan juga dibelati itu, lalu dia balut tangannya yang tergores dengan kain yang dia temukan


"Hei ... anak putri ular ... di mana kamu?" Bisik Aruna.


"Aku disini Aruna ..."


Aruna menoleh ke suara itu.


"Apa kau di botol kecil itu?" Tanya Aruna


"Iya ... aku yang selama ini tinggal di leher rahim mu, namaku Saza," sahut anak ular siluman itu.


"Mari kita pergi. Aku akan bantu kau pulang pada ibumu," seru Aruna.


"Aruna ... jika aku keluar dari tempat ini, hanya dirimu lah yang aman untuk aku sembunyi, bukankah selama ini kau ingin aku keluar? Aku sudah keluar, sekarang pergilah," pinta Saza siluman ular.


"Aku ingin kau keluar, tapi kembali pada ibumu, bukan mati sia-sia di tangan dukun itu," sahut Aruna.


Aruna segera pergi dari tempat itu.


"Hei Saza ... ke arah mana kita?" Tanya Aruna.


"Santai saja Aruna, aku akan membimbing mu," kata suara gaib.


Aruna terus berlari di tengah hutan, hingga dia menemukan jalan utama, kaki Aruna terus berlari, ia tidak merasa lelah, karena siluman ular yang bernama Saza itu yang mengambil alih pergerakan kakinya. Dia melihat sebuah mobil pribadi menyusuri jalanan itu.


"Jangan minta tolong ke sana, mereka bandit Aruna!" Suara Saza memperingatkan Aruna.


Para laki-laki yang melihat Aruna berlari di jalanan sendirian itu tergoda. Mereka memutar arah mobilnya mengejar Aruna.


Secepat Apapun Aruna berlari tetap kalah dengan kecepatan mobil. Di mobil itu ada tiga orang.


Dua orang turun lebih dulu berusaha mencegat Aruna. Satu orang sedang menepikan mobilnya.


"Ya ampun ... wanita cantik di tengah hutan, mending sama kita, naik mobil manis," seru orang pertama.


"Amboi ... pakai kerudung ...." orang kedua berusaha merebut kerudung Aruna. Namun Aruna berhasil mempertahankan kerudungnya.


"Mending kalian lanjutkan tujuan kalian, biar saya melanjutkan tujuan saya," pinta Aruna.


Orang yang ketiga langsung menyerbu Aruna, hingga Aruna tertelentang di tanah.


Orang kedua langsung membantu rekan nya menahan Aruna, sedang orang pertama bersiap membuka celananya.


Aruna menyadari dirinya dalam bahaya,


"Tolong ...!!!" teriak Aruna.


"Berteriak saja manis ... ini hutan, tidak akan ada yang menolong mu," seru orang pertama.


"Eh ... emang aman eksekusi dia disini?" Tanya orang ketiga.


"Gila! Tu kan ... gue bilang apa, ngga aman!" Gerutu orang kedua, yang melihat sebuah mobil melaju kearah mereka dan mulai memelankan lajunya melihat mereka.


Seorang pria sekitar 55 tahunan turun dari mobil.


"Hei ...!!! kalian apakan calon menantu ku!!!" Teriak laki-laki itu.


"Ha!? calon mantu pak Jojo?" Ucap ketiga laki-laki itu bersamaan. Mereka segera kabur, berlari menuju mobil mereka, langsung saja melajukan mobil secepat sebisa mobil itu melaju.


Aruna berusaha bangkit dari tanah.


"Kenapa kamu ada di tengah hutan? Dan siapa namamu?" Tanya Jojo.


"Saya Aruna. Saya di culik pak," jawab Aruna.


"Aku Jojo, para warga sekitar sini memanggilku juragan Jojo. Kalau begitu, kamu ikut bapak saja kerumah bapak, nanti kita pikirkan bagaimana kamu kembali," Kata Jojo.


Aruna mengangguk, dan mengikuti Jojo masuk kedalam mobil. Mobil Jojo mulai melajukan mobil membawa Aruna kerumahnya.