
Sibki keluar dan membawa beberapa map.
"Aan … kami juga melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan rumah tanggamu dan Aruna." Sibki memberikan map yang dia pegang pada Aan.
Aan tegang membaca isi berkas yang Sibki berikan padanya.
"Hanya itu bukti kamu untuk membuat kami percaya Aan? Jujur aku kecewa, aku berharap lebih dari itu," Saman terlihat sedih.
"Laporan itu jelas, Laily melakukan operasi plastik karena permintaanmu, pembayaran biaya operasi plastik yang Laily jalani langsung dari transferan kantor kamu, bukti kami jelas! Kamu membiayai operasi plastik Laily agar dia memiliki wajah Maya," jelas Sibki.
"Kalau kakak cinta Maya … kenapa tidak wajahku saja yang dirubah jadi Maya? Kenapa harus orang lain?" Aruna menghapus air matanya. Melihat wajah Aan seketika bayangan Aan yang melakukan hubungan badan di gudang itu kembali teringat.
"Aku akan periksa laporan ini," lirih Aan.
"Silakan … kami tunggu hasilnya," ucap Saman.
"Tentang jasa penyelia babby sitter itu, kami juga punya bukti, semua bukti jelas, kamu merencanakan memasukan Laily kedalam rumah kalian," sela Sibki.
"Apa kamu sudah menikahi Maya kw itu? Adikku baru melahirkan dan kamu memasukan Maya kw ke rumah agar kalian bisa melakukan tiap waktu? Karena Aruna tidak bisa melayani kamu, Aan?" Sibki menggeleng.
"Tolong percaya padaku .…" pinta Aan.
"Kami ingin percaya Aan, tapi apa yang kami lihat dengan mata kami langsung, juga bukti-bukti ini?" jawab Sibki.
Aan menatap sayu kearah Aruna. "Aruna … tolong ikuti apa kata hati kamu?"
"Aku tidak tahu … aku pernah meyakini dan mengikuti kata hatiku kalau kakak sangat mencintaiku, namun apa yang aku terima? Pengkhianatan! Kamu yang aku kenal orang yang baik, tega berzina di gudang rumah itu, saat aku ingin memberi kakak kesempatan, apa yang aku lihat? Rumah kakak penuh dengan kenangan Maya. Aku mulai faham kakak tidak bisa melupakan Maya, wajar kakak berusaha menghidupkan Maya kembali dari diri wanita itu, cukup kak .…" Aruna bangkit dari kursinya.
"Kak Saman … kak Sibki … titip anak-anak," Aruna masuk kedalam rumah meninggalkan mereka semua tanpa pamit pada siapapun.
Aan membisu melihat Aruna yang sangat dingin padanya.
"Aan … maaf kami tidak bisa membantumu," ucap Saman.
"Bolehkan aku memeluk mereka?" Aan menatap ketiga anak kembarnya yang mulai luwes melangkah.
"Mereka anak-anakmu," sela Saman.
"Silakan bermain dengan mereka, tapi jangan pernah berpikir untuk membawa mereka," sela Sibki.
Aan bermain bersama Rayyan, Dena dan Deli. Hatinya merasa tenang bisa bermain sebentar dengan anak-anaknya. Aan memeluk satu persatu anaknya sebelum berpisah.
Deli menghapus air mata Aan yang menetes, dia tersenyum pada Aan. Aan membalasnya dengan membelai lembut wajah putri kecilnya itu.
"Aku pamit .…" Aan berpamitan pada semua orang.
Setelah pergi dari rumah Jojo Aan menemui ustadz Ali
Setelah sampai di rumah ustadz Ali, Ali tengah berjalan di area halaman rumahnya. Ali melempar senyum padanya ketika dia melihat Aan memarkirkan mobil tepat di halamannya.
"Assalamu alaikum pak ustadz .…" lirih Aan.
"Wa alaikum salam …," jawab Ali.
"Pak ustadz … saya tidak bisa membuktikan kalau saya tidak bersalah, usaha saya selama satu tahun ini sia-sia," ucap Aan.
"Aku tidak bisa berbuat banyak Aan, saat sidang ceraimu aku sengaja tidak mau jadi saksi, karena mata kepalaku melihat kamu, maaf .…" Ali tidak meneruskan kata-katanya.
Ali menatap sayu wajah Aan."Mataku melihat kamu dan wanita itu melakukan hubungan badan jelas, sehingga aku tidak mau jadi saksi, karena hanya semakin memperberat dirimu," terang Ali.
"Ustadz … sepertinya mereka merencanakan ini jauh-jauh hari, entah apa tujuan mereka, dari peristiwa perampokan itu sampai perpisahan kami, aku merasa semua ini dari orang yang sama. Apa yang mereka inginkan dari kehidupanku? Saat aku di tusuk dengan jelas aku mamandang wajah orang yang menusukku, tetapi kenapa aku malah tidak bisa ingat wajahnya saat sadar," lirih Aan.
"Apa maksudmu?"
"Aku melihat jelas wajah orang yang menusukku, tapi aku tidak bisa mengingatnya," ucap Aan
"Aku mulai mengerti sekarang … tujuan mereka anak-anakmu!" ucap Ali.
"Anak-anak?"
"Iya anak-anak mu, kalau Salsa aku sudah cari tahu, sepertinya Gurdi salah satu korban Aruna saat dia masih di bawah guna-guna, Salsa dendam pada Aruna, niatnya hanya ingin membunuh Aruna." terang Ali.
"Aku tahu itu ustadz, tapi aku tidak tahu kalau suaminya salah satu korban,"
"Perampokan itu target mereka adalah Aruna, kami menemukan Aruna terikat berbalut selimut di sofa rumah kamu, aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat mereka batal membawa Aruna," terang Ali.
"Apa kira-kira pak ustadz?"
"Aan … aku manusia biasa, tidak punya kelebihan menerawang kehidupan manusia. Tujuan mereka jika anak dan istrimu jauh dari kamu jauh dari sini, maka tujuan mereka mudah di capai."
"Siapa mereka ustadz?"
"Aan ... aku bukan Tuhan aku hanya manusia biasa," ucap Ali lembut.
"Aan … profesiku relawan ruqyah, bukan nujum," sela Ali.
Aan mengangguk.
"Aku bisa bantu kamu untuk melepaskan sesuatu yang membuat kamu lupa. Tapi kamu usaha sendiri," seru Ali.
Aan segera pulang ke rumahnya. Dia langsung melakukan hal yang ustadz Ali beritahu. Setelah semua selesai Aan bisa melihat sangat jelas wajah orang yang membacok dia dulu.
"Astaghfirullah .…" Aan sangat syok saat bisa mengingat semuanya.
Aan mengambil kunci mobilnya. Dia segera pergi ke kantornya mencari bukti transferan yang masuk ke rekening Laily juga mencari tahu data-data Laily. Dengan semangat membara Aan mengumpulkan bukti lainnya. Setelah semua dia dapat dia segera melajukan mobilnya ke rumah Jojo. Aan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Jojo.
"Cari siapa Tuan malam-malam begini?" tanya keamanan Jojo.
"Saya ingin bertemu Aruna," jawab Aan.
"Neng Aruna di rumah itu Tuan .…" orang itu menujuk ke arah rumah lain.
"Dia tidak di sini?" Aan menunjuk rumah Jojo.
"Tidak Tuan … neng Aruna tinggal di rumah itu bersama bu Sumi, Pak Wahyu juga suami dan anaknya,"
"Apa? Su-- suami?" Hati Aan langsung terasa sakit.
"Iya … suaminya mereka baru menikah em … belum sempat satu bulan sepertinya."
"Siapa suami Aruna?" tanya Aan.
"Temannya den Sibki langganan juragan juga, Saman."
'"Saman?" Aan langsung berlari ke arah rumah yang di tinggali Aruna.
Dorr … dor dor dorrr!
Aan menggedor pintu rumah itu.
"Main gedor saja ucapkan saa--lam." Saman terdiam setalah membuka pintu dan melihat siapa yang menggedor pintu rumahnya.
"Mana Aruna dan anak-anakkku?" tanya Aan.
"Masuk …." ajak Saman, dia membuka pintu rumah itu lebar.
"Jangan basa-basi mana istri dan anakku?!" Bentak Aan.
"Aan … kamu ini kenapa? Kamu lupa kalau kamu dan Aruna sudah bercerai?"
"Di mana mereka?" Aan semakin Marah.
"Aan … maaf … aku dan Aruna sudah menikah, kamu tidak berhak lagi atas Aruna, Aruna hanya mantan istrimu, sekarang dia istriku,"
"Di mana mereka!!!" teriak Aan.
"Aan … jangan mencari istriku, kalau ke sini kamu hanya berhak atas anak-anak, karena sampai kapanpun mereka anak-anak kamu, tapi sekarang mereka juga anak-anak aku, Aan … kita bersama-sama mengurus mereka," ucap Saman.
"Aku bilang di mana Aruna dan anak-anak!" Aan mencengkram kerah baju Saman dan mendorong Saman. Hingga Saman terjatuh ke sudut ruangan.
"Aan ... malam-malam begini kamu menyerangku? Aan ... Aan …" Saman menggeleng.
"Jangan basa-basi aku sudah tau semuanya!" teriak Aan.
Dari luar.
Beberapa pegawai jaga malam juragan Jojo heran mendengar teriakan berulang kali terdengar dari rumah Wahyu. Mereka berdiri di pinggir jalan tepat di depan rumah itu.
*
*
*
***
Bersambung ….
****
MAAF LAMA UP
AUTHOR MINUM VITAMIN DULU AGAR KUAT MEMBACA KOMEN KALIAN.
MAKASIH DUKUNGAN KALIAN SEMUA😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘