Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
**Bab 86. Menggeleng


Ali terpaksa menelpon Sibki, Ilyas dan Safta untuk mengangkat Aan dan Aruna.


Setelah sampai di rumah Aan, Sibki menggendong Aruna, sedang Ali, Safta dan Ilyas mengangkat Aan. Mereka menuju Rumah Sakit dengan dua buah mobil. Sesampai di Rumah Sakit, Aan dan Aruna langsung di tangani tim medis.


Sedang Nurul, langsung menemui Dokter yang akan memeriksa kandungannya, karena dia sudah janji pada Dokter itu sebelumnya.


Aan yang tengah ditunggu oleh Sibki mulai Sadar.


"Lho kok di sini?" Tanya Aan, dia bingung.


"Tadi aku sama ustdaz bawa kalian kemari," jawab Sibki.


"Suami ibu Aruna," seru salah satu perawat.


Aan langsung berlari kearah suara perawat yang memanggilnya. Setelah diberi tahu perawat Aruna di mana, Aan langsung menuju ruangan Dokter yang dimaksud perawat. Ternyata di ruangan itu ada Nurul dan Ali yang menjaga Aruna.


"Nah ini suami pasien yang bernama Aruna dok," Seru Ali, saat melihat kedatangan Aan.


Aan langsung mendekat pada Dokter.


"Istri saya tidak ada penyakit kan dok?" Tanya Aan.


Dokter menggeleng.


"Arggghhhtt! Istri saya tidak punya masalah dengan tubuhnya kan Dok?" Tanya Aan lagi.


Dokter lagi-lagi menggeleng.


"Akhhhh! Tuh kan ustadz!! Kenapa di bawa kemari? Harusnya ustadz ruqyah Aruna sebelum terlambat. Aruna pasti di santet orang," pekik Aan.


"Santet?" Tanya Dokter.


Dokter memandang ke arah Aan. "Istri anda tidak sakit, tidak punya masalah kesehatan, juga bukan kena Santet! Tapi istri anda tengah hamil," terang Dokter.


"Hamil?" Tanya Aan, Ali dan Nurul bersamaan.


Dokter mengangguk. "Mungkin efek hormon kehamilan, membuat istri bapak pingsan," kata Dokter.


"Alhamdulillah ya Rabb!" Teriak Aan.


"Kaka berisik!" Teriak Aruna.


Sedari tadi, Aruna sudah sadar, dia juga sudah bercerita kalau selama 3 bulan ini dia tidak haid pada dokter yang memeriksanya.


"Mari sama-sama kita periksa kandungannya," ajak Dokter. Aan dan Nurul mengikuti Dokter. Sedang Ali lebih memilih menunggu, duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Dokter.


Dokter tengah melakukan USG pada Aruna.


"Hem ... sepertinya sudah masuk minggu kedelapan pak. Keadaan janinnya baik," seru dokter.


Melihat layar monitor yang menampakan keadaan janin di dalam sana. Air mata Aruna dan Aan berkaca-kaca, hingga crystal bening terlepas begitu saja, dari pelupuk mata mereka. Mereka terharu, karena sangat bahagia.


Aan langsung mencium alis Aruna. "Makasih sayang ...." pekik Aan.


Dokter selesai memeriksa Aruna.


"Hebat ya, tetanggaan samaan hamilnya, janjian neh?" Ucap Dokter, bercanda.


"Kak Nurul juga?" lirih Aruna.


Nurul mengangguk,


"Lebih setahun lho baru dapat," seru Nurul tersenyum.


"Selamat kak," lirih Aruna,


Aruna bangkit dari bangkar, lalu memeluk Nurul


"Iya, kamu juga, selamat!" Seru Nurul.


Mereka keluar menemui Ali.


"Aaa ..., baby kita punya teman nanti," seru Nurul.


"Alhamdulillah.... selamat ya An, tadi aku khawatir kamu pingsan lagi," seru Ali.


"Iya pak Ustadz, makasih udah nolongin kita,


selamat juga buat pak Ustadz," sahut Aan.


Setelah selesai pemeriksaan Dokter, mereka semua kembali ke rumah masing-masing.


Suminten dan Wahyu sangat cemas, saat tahu Aan dan Aruna di bawa kerumah Sakit. Melihat anak dan menantunya sudah di rumah Suminten dan Wahyu berlari menghampiri Aruna dan Aan.


"Kalian sakit apa?" Suminten menyambut Aruna dan Aan dengan pertanyaannya.


"Assalamu alaikum mak," sapa Aruna, dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Wa alaikum salam," jawab Suminten dan Wahyu bersamaan.


"Aruna nggak sakit mak ... Aruna mau kasih hadiah lagi buat umak ...." seru Aruna.


Suminten dan Wahyu masih kebingungan.


"Umak bakal jadi nenek, Abah bakal jadi kakek. Aku dan Aruna, akan jadi orangtua," lirih Aan.


"Ahh ... haaa ... Hamil?" Seru Suminten.


Aruna dan Aan mengangguk.


"Masya Allah ...." pekik Suminten, dia dan Wahyu memeluk Aruna dan Aan.


"Sudah mak ... aku haus, aku mau kedapur," lirih Aruna.


"Biar umak ambilkan," kata Suminten


"Nggak mau aku mau ambil sendiri," jawab Aruna.


Aan dan Aruna berjalan kedapur.


Aruna duduk di kursi menikmati air yang dia teguk. Namun matanya tertuju pada koran bekas pembungkus perabot. Koran bekas terbitan tiga bulan yang lalu. Koran itu memuat berita kematian Salha


'*Ditemukan sosok mayat perempuan yang mati dalam kost kostannya, Warga Mencium bau busuk yang menyengat, hingga warga lapor pada pihak berwajib. Saat pintu kost an di dobrak, mereka menemukan mayat yang sudah membusuk. Dicurigai wanita ini mati 3 hari yang lalu.


Data mayat wanita tersebut*.


xxxxx


xxxxxxxxx


xzxxxx.


Data-datanya itu adalah data diri Salha.


Aruna menangis histeris di dapur, dia kasian pada Salha, kematiannya saja tidak ada yang tahu.


"Kenapa sayang?" Lirih Aan, dia langsung menghampiri Aruna.


"Kasian, Salha mati," ringis Aruna


"Huh ... aku kira apa! Kakak hampir pingsan lagi," lirih Aan.


"Jangan berpikiran macam-macam. Fokos sama anak kita dan sama keluarga kita" seru Aan.


Aruna masih nampak murung, Aan mencoba menggodanya.


"Kakak apaan sih, ini dapur! Bukan kamar kita," ringis Aruna. Dia risih karena Aan bermanja manja padanya. Namun Aan tidak perduli, dia tetap menyerbu bibir istrinya itu, hingga mereka larut semakin dalam.


Suminten dan dua pembantu yang tadi mau kedapur langsung undur diri, saat melihat pemandangan yang ada di dapur itu.


Prankk!


Suminten tidak sengaja menyenggol nampan kosong di sampingnya. Membuat Aan dan Aruna terkejut.


"Aaaa! Tuh kan apa aku bilang," rengek Aruna, dia malu kedapatan bermesraan dengan suaminya.


"Maaf ... silakan lanjutkan," seru Suminten menarik kedua pembantunya pergi dari dapur itu.


"Umakkk!!" Teriak Aruna.


Cup!


Aan langsung membungkam bibir Aruna dengan bibirnya, hingga teriakan Aruna terhenti, karena ulah Aan.


Aan menarik wajahnya dari pertemuan bibir mereka. "Jangan berteriak terus, kasian anak kita," lirih Aan.


"Maaf," jawab Aruna lembut.


Aan memeluk Aruna. "Terima ksih atas semua kebahagiaan ini," lirih Aan


"Terima kasih kembali. Kakak juga berjuang keras mengeluarkan titipan guna-guna yang ada dalam diriku, dan terima kasih atas semua pengorbanan, dan cinta kakak buatku" lirih Aruna.


"Berjuang keras? Kapan aku berjuang keras mengeluarkan guna-guna yang ada padamu?" Tanya Aan.


"Berjuang di atas batu yang keras," jawab Aruna sambil tertawa.


Aan menggeleng, mengingat momen pertama di aliran sungai, bukan di kamar.


"Nanti ... beberapa bulan kedepan, kamu yang akan berjuang keras untuk mengeluarkan hasil kerja keras kita tiga bulan ini," lirih Aan. Sambil mengelus perut Aruna yang masih rata.


"Awhh!!" Ringis Aan, karena Aruna mencubitnya.


*


*


*


*


*


*Scrol sampai bawah ya readers...⬇️⬇️⬇️⬇️


**************


Tamat part 1


*************


Karya ini lanjut....


.


.


.


********************


Yuks mampir di novel Author lainnya, aku suka karya karya mereka.


Almaira


-My Secreat Wife


-My Babysitter My Love


Elfazr


-Penjelajah Malam


-Writer Comer


Putri Tanjung / Deni Marlina


-O.B Kerudung Biru


Fitri Rahayu


-Nyanyian Taqdir Aisyah


-Cinta Bersemi Diujung Musim


Rositi


-Selepas Perceraian


-Menjadi Istri Tuanku


Fit TRee Fitri


-Cinta Untuk Dokter Nisa


-Arsitek Cantik


BintangBuney


-Story About Us : The Rusuh


Deni Ficriadi


-Sorry Gua Ganteng


Winda Choirunnisa


-My Special Woman


-Horrornya Hidupku


Syugar Nana


-Elegi Cinta Gendhis


Masih banyak lagi gaes.. tapi ini diantara daftar favorite aku. Ternyata di noveltoon ini sangat banyak karya karya dari Author aku aja gak kehitung daftar bacaan aku.


******


Makasih All atas dukungan kalian semua.


Author menamatkan cerita part 1 ini,


*Aruna sudah lepas dari Titipan Guna - Guna nya.


dan menemukan kebahagiaan nya.


* musuh is metong.


***


Mohon maaf ya kalau ada yg kurang berkenan di hati Readers🤝🤝🤝👋👋👋👋👋👋🥰😘😘😘😘😘


Jangan lupa komentar di bab yang banyak typo dll, supaya Auyhor tau dimana yg harus di perbaiki..


😘🥰.


Karya selanjutnya " Alan Senja "


Ini Karya lama Author, tapi masih banyak kesalahan dalam penulisan, yang berkenan silahkan mapir. ⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️