Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 84. Melepas Rindu


Setelah Alis mengabari kalau secepatnya mereka akan ke kota mereka, Aan langsung menyediakan kamar di rumah barunya buat Alis dan kedua orang tuanya nanti.


Aan menceritakan tentang resepsi yang akan dia adakan satu minggu dari sekarang. Juga meminta Suminten dan Wahyu bersiap pindah kerumah yang baru ia beli dekat majelis ini, walau tidak sebesar rumah Aan dan Maya di komplek yang agak jauh, tapi yang ini cukup luas untuk ditinggali bersama mertuanya.


Suminten dan Wahyu menolak untuk tinggal bersama Aruna dan Aan. Mereka lebih nyaman tinggal di kontrakan sempit ini.


"Maaf nak Aan, kami tidak bisa, rasanya risih jika kami tinggal bersama menantu kami," lirih Wahyu.


"Abah ... umak ... apa salahnya jika orang tua tinggal bersama anaknya? Apakah Aan bukan anak kalian? Baiklah, mulai sekarang Aan akan jaga jarak dengan kalian, kalian tidak pernah menganggap Aan anak! Kalian hanya menganggap Aan orang lain," lirih Aan.


"Nak ... bukan begitu, nak Aan bukan orang lain. Nak Aan menantu kami," lirih Suminten.


"Apa bedanya anak dan menantu mak? Mereka sama-sama anak umak dan abah," jawab Aan.


Suminten dan Wahyu saling pandang.


"Jika kalian benar sayang sama bidadari sorgaku," ucap Aan, dia sambil memeluk Aruna.


"Tolong, tinggalah bersama kami, Aruna pasti sangat bahagia jika kalian mau bersama kami," pinta Aan.


Suminten dan Wahyu mengangguk. Aruna langsung memeluk kedua orangtuanya.


"Makasih kak," ringis Aruna menoleh ke arah Aan. Aan juga ikut memeluk mereka.


Sepanjang siang Aruna berada di rumah kontrakan orang tuanya, sedang Aan pergi untuk mengurus beberapa urusan. Aan baru kembali sore harinya.


Sekarang dia berada di rumah mertuanya. Setelah makan malam bersama orangtua Aruna. Aan dan Aruna kembali ke kontrakan Aan.


Di kamar.


Aruna berbaring di atas Dada Aan.


"Aruna ... seberapa istimewa temanmu yang bernama Alis itu?" Tanya Aan


"Dia teman juga sahabatku satu-satunya di desa kak."


"Hem.. begitu? Nanti aku akan membelikannya gaun, untuk dipakai diresepsi pernikahan kita nanti," seru Aan.


"Makasih kak."


"Besok kita akan pindah kerumah baru kita, jadi kita tidak perlu lagi bolak-balik cari umak, kita akan serumah dengan umak dan abah," seru Aan.


"Makasih kak. Kakak begitu banyak memberikan cinta buat aku," Aruna memper erat pelukannya. Aan pun membalas pelukan istrinya. Malam yang indah, mereka lalui bersama.


***


Di desa Sebuku Najo mulai heboh, berita kematian Rasda menyebar kemana-mana, dan berita tentang fakta, kalau Rasda yang selama ini mengguna-guna Aruna ramai dibicarakan. Para warga desa sepakat tidak akan membantu pemakaman Rasda.


Semua warga desa sangat menyesal telah meng eksekusi Aruna, karena Aruna juga korban. Beberapa Warga yang marah menyusun rencana untuk malam ini.


Sekitar jam dua malam, jasad Rasda sampai di desa Sebuku Naju, hanya beberapa tokoh ketua Adat yang ada untuk langsung mengadakan upacara pemakaman Rasda. Warga lain tidak satupun datang. Karena mereka semua benci dan marah pada Dantor dan Rasda.


Sekitar jam 3 dini hari, upacara pemakaman Rasda akhirnya selesai. Dantor nampak lemah, karena semua kekuatannya sirna, musnah, lenyap begitu saja, saat guna-guna yang dia titipkan pada tubuh Aruna di keluarkan orang lain


"Persahabatan kita putus Dantor! Dulu kamu berjanji padaku, bahwa kamu tidak akan mengguna-guna anakku, namun, ternyata kamu malah membuat Danu tergoda pada putrimu dengan cara halus. Aku kecewa Dantor," lirih Jago.


Jago, Danu dan Nima segera pulang kerumah mereka, karena pagi pagi nanti mereka akan berangkat ke kota di mana Aruna tinggal. Untuk hadir di resepsi pernikahan Aruna.


Dantor berjalan lemas menyeret kakinya menyusuri jalan desa menuju gubuknya. Belum sampai ke rumah kecilnya.


Buggg!!!


Hantaman balok mendarat di tengkuk belakang leher Dantor. Seketika Dantor jatuh pingsan.


Beberapa warga yang marah itu langsung menyeret Dantor kedalam gubuknya. Mereka ikat Dantor dalam gubuknya, lalu membakar Gubuk itu. Dantor mati terbakar dalam gubuknya. Warga sangat puas, setelah membunuh Dantor. Karena mereka sangat marah pada Dantor.


*******


Setelah lama berkendara, Akhirnya Alis sampai di alamat, yang Aruna berikan padanya. Di halaman rumah itu, terlihat dua orang berdiri menunggu mereka, dua orang itu tidak lain Suminten dan Wahyu. Memang sengaja menunggu Alis dan kedua orang tuanya, Baban dan Mariana.


Senyum Suminten lebar, saat melihat siapa yang turun dari mobil. Alis langsung berlari kepelukan Suminten. Sedang Mariana dan Baban berjalan santai membawa tas travel mereka.


"Mak ... Alis rindu umak, rindu Aruna," ringis Alis dalam pelukan Suminten. Mariana juga ikut memeluk Alis yang tengah memeluk Suminten. Sedang Baban, bapak Alis memeluk Wahyu.


"Terima kasih, kalian mau datang kemari," lirih Suminten.


Setelah melepaskan pelukan mereka, Suminten mengajak mereka masuk ke dalam rumah yang baru Andika beli.


"Kami harap, kami tinggal di penginapan saja," pinta Mariana.


"Apakah kalian tidak mau bersama kami lebih lama?" Kata Aruna yang datang dari dapur membawa satu nampan yang berisi gelas berisi air minum untuk mereka semua.


"Aruna!" Teriak Alis saat melihat Aruna, dia mengejar Aruna dan ingin memeluknya.


"Jangan peluk aku! Tumpah semua air ini," seru Aruna.


Perlahan Aruna meletakkan nampan di atas meja tamu. Setelah meletakan nampan di atas meja tamu. Alis langsung memeluknya. Mereka semua melepas rindu pada Aruna.