Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 103. Ikhlas


Ustadz Ali langsung bersiap ke kantor polisi setelah mendengar kabar tentang Aan yang di tangkap polisi karena menganiaya Saman.


"Umi … abi mau menemui Aan," pamit Ali, pada Nurul istrinya.


"Gak bisa besok saja ya bi? Perasaan umi kok gak enak …." ucap Nurul.


"Insya Allah, abi tidak kenapa-napa, do'a-nya ya umi …." pinta Ali.


Ali juga berpamitan pada mertuanya, bermain sebentar dengan anaknya, Ilham Muzdakkir Kareem.


"Hati-hati Abi .…" Nurul sangat berat melepas kepergian Ali.


Ali tersenyum, dia langsung masuk kedalam mobil, dan segera melajukan sendiri mobilnya menuju kantor polisi, untuk menemui Aan.


Sesampai di kantor polisi, di sana sudah ada pengacara yang mendampingi. Urusan begitu rumit dan panjang lebar, dari beberapa persyaratan yang di sepakati akhirnya Aan boleh pulang dengan jaminan. Aan 'pun langsung pulang bersama ustadz Ali.


Dalam perjalanan pulang.


Aan menatap nanar jalanan yang mereka lewati. Berulang kali Aan menarik napas begitu dalam. "Saman di balik semua ini ustadz .…" ungkap Aan.


"Saman?" Ali melirik sekilas kearah Aan. Wajah Aan sangat memprihatinkan.


"Dia sangat mencintai Aruna, dari awal pernikahan kami dia sudah menyusun rencana ini. Laily, dia adik perempuan Saman, mereka sengaja menjebakku saat kejadian di gudang waktu itu, dan kejadian malam malam ini, Saman sendiri yang menusukkan pisau yang ada di tanganku kearah perutnya sendiri," terang Aan.


"Saman … dia itu baik banget An … aku gak menyangka dia senekad ini, hanya untuk mendapatkan Aruna, Ya Allah …." Ali membuang begitu kasar napasnya.


"Bagaimana ini pak ustadz?"


"Apanya?"


"Hidupku, rumah tanggaku," ringis Aan.


"Aruna sudah sah jadi istri Saman sekarang, aku tidak bisa bantu An, Haram hukumnya memisah istri dari suaminya, atau memisahkan suami dari istrinya tanpa sebab yang di benarkan."


"Saman merebut Aruna dari sisiku ustadz ...."


"Kamu ingin mengikuti langkah orang yang salah?" tanya Ali.


"Saya sangat mencintai Aruna ustadz …."


"Mungkin ini peringatan dari Allah Aan, karena kamu mencintai Aruna lebih dari mencintai Tuhanmu," ucap Ali.


"Astaghfirullah hal A'dziim … ampuni aku ya rabb …." ringis Aan.


"Kamu mencintai Aruna lebih dari Tuhan-mu bukan? Siapa yang menciptakan Aruna? Siapa yang menyatukan kalian? Siapa yang memberikan dan menumbuhkan rasa cinta diantara kalian? Adakah kamu bersyukur?"


Aan semakin terisak, dia selalu mengingat istrinya di manapun, bahkan dalam sholatnya. Dia lebih mengingat Aruna dari pada mengingat Tuhan.


"Aku harus bagaimana ustadz .…" ringis Aan.


"Ihklaskan, jika sesuatu itu memang di takdirkan untukmu, sejauh apapun dia pergi Allah akan mengantarkan kepadamu dengan jalan yang indah menurut DIA, bukan menurutmu, namun jika itu memang bukan untukmu, sedekat apapun dia tidak akan jadi milikmu."


"Tapi … kita harus beritahu Aruna tentang Saman," ucap Aan.


"Saman … dia tidak akan jahat pada Aruna, dan anak-anakmu, karena dia pasti sangat mencintai mereka. Membuka rahasia sekarang belum bisa, karena … saat ini mereka belum percaya, kita berusaha pelan-pelan, satu hal! Walau rahasia ini terbuka jangan pernah berharap Aruna kembali padamu, kita membuka rahasia besar ini hanya karena ingin membersihkan namamu dari tuduhan dan fitnah yang tertuju padamu, bukan mengembalikan Aruna kedalam pelukanmu, karena Aruna sudah jadi istri orang."


"Iya ustadz. Terima kasih pak ustadz …" ucap Aan.


***


Tiga hari dirawat di Rumah Sakit akhirnya Saman boleh pulang. Kini dia tengah berada di kamarnya.


"Aku mau keluar beli sayur, mau sesuatu?" tanya Aruna.


Saman menunjuk pipinya. Aruna senyum, dia berjalan mendekati Saman dan mendaratkan bibirnya di pipi Saman. Namun Saman merubah posisi wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Keduanya larut semakin dalam.


"Aku harus keluar, nanti paman yang jualan pergi," Aruna menarik dirinya tiba-tiba.


Saman pasrah. Dia melempar senyum pada Aruna.


***


Aruna sampai di halaman, di mana para ibu-ibu sedang memilih sayuran. Aruna hanya melempar senyumannya, dan mulai memilih sayuran yang ingin dia beli.


"Bagaimana keadaan Saman Aruna?" tanya salah satu wanita yang sama-sama berbelanja.


"Alhamdulillah sudah lebih baik bu," jawab Aruna dengan senyuman manisnya.


"Wajar saja mantan suaminya main bacok, pasti Saman di sangka selingkuhan!" sela yang lainnya.


"Iya bu setuju, kamu Aruna, jadi perempuan kok enggak ada harga dirinya sama sekali, baru genap iddah main kawin lagi aja, gatal neng yang di bawah tidak ada yang garuk!"


Aruna berusaha menahan air matanya, perkataan tersebut sangat menusuk hatinya.


"Gatal? ini banyak alat bantu," seru yang lainnya sambil menepuk jualan sayur mayur.


"Iya setuju bu, penampilan alim eh …." sambil melirik dengan pandangan yang penuh penghinaan.


Setelah membayar semua belanjanya Aruna segera pulang.


***


"Aruna .… kamu kenapa?" Suminten heran melihat Aruna menangis.


"Perkataan orang-orang di luar sana sangat sakit mak .…"


"Sabar sayang …." Suminten memeluk Aruna.


"Aku tidak mampu menolak Saman karena hutang nyawa padanya, dia melindungiku dari pisau Salsa dan melindungi anak-anakku dari orang-orang yang ingin membunuhnya, aku tidak punya keberanian untuk menolaknya, melihat bekas luka nya saja aku masih sakit mak .…" ringis Aruna. "Andai aku tidak merasa Saman berjasa, aku tidak akan menikah lagi mak ...." Tangisan Aruna pecah dalam pelukan Suminten.


"Kuatkan hati kamu sayang … mereka hanya bisa menghujat dan berkomentar tanpa mereka tahu apa penderitaanmu dan juga alasanmu."


"Aruna malu mak … andai Saman tidak mengorbankan diri untuk Aruna, Aruna rela selamanya jadi janda." Aruna terus mengulang kata-katanya. Dalam hatinya yang terdalam, dia tidak menginginkan pernikahan ini.


"Mak faham …." Suminten berusaha menangkan putrinya.


***


*


*


Waktu terus berjalan, hari demi hari berlalu begitu saja. Aan selalu memenuhi panggilan pihak kepolisian atas perbuatannya pada Saman.


Di kantor polisi, terlihat Saman hadir bersama Aruna, membuat Aan kembali merasakan kesedihan, wanita yang sangat dia cinta, yang kini sudah jadi milik orang lain.


"Pak polisi … saya mencabut tuntutan saya, semua ini hanya salah faham, tolong bebaskan pak Andika, kasian anak-anak kami jika ayah mereka punya catatan kriminal, pak Andika mantan suami istri saya," ucap Saman.


"Silakan mari lengkapi data pencabutan berkas," jawab petugas kepolisian.


Saman tengah mendatangani bermacam berkas, sekilas dia melirik Aan yang selalu memandanginya.


Selesai dengan berkas Saman mendekati Aan.


"Aku melakukan semua ini hanya demi anak-anak, aku tidak mau catatan kriminalmu nanti berdampak pada anak-anak," ucap Saman.


Aan memandang Saman penuh emosi, apalagi Saman sengaja datang membawa Aruna. Semua proses menjadi mudah, karena Saman sudah memaafkan dan mencabut laporannya pada Aan. Aan pun bebas dari tuntutan hukum.


***


Nasi sudah menjadi Bubur, mau tidak mau, Aan harus melanjutkan kehidupannya, walau tanpa Aruna di sisinya. Aan mulai melanjutkan kehidupannya seperti dulu. Memulai kembali saat dia kehilangan Maya dalam hidupnya, sekarang mengulangi lagi memulai tanpa kehadiran Aruna.


"Maafkan aku ya rabb … aku datang padamu saat sedih dan aku meninggalkanmu saat aku bahagia, aku ihklas … dengan segala garisan hidupku yang telah Engkau tentukan, aku ihklas … dengan semua ini, aku mohon … berilah kebahagiaan untuk Aruna dan ketiga anak-anakku, bersama siapapun mereka lindungilah mereka selalu." Munajat Aan.


Aan fokus pada bisnisnya, sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan membuatnya lupa pada Aruna dan ketiga anaknya. Semua ini terpaksa dia lakukan. Berulang kali mencoba membuka rahasia Saman, semua itu sia-sia. Usaha Aan kian berkembang. Tidak hanya terkenal di kota itu tapi terkenal di beberapa kota. Setiap bulan Aan sengaja mengirim uang yang tidak sedikit ke rekening Sibki. Aan sangat yakin Sibki sangat menyayangi anak-anaknya.


Andika Tama Shiddik, indentitas pribadi yang terperinci tidak ada yang tahu. Hanya di kenal sebagai Andika atau Aan, seorang duda yang menjadi relawan tetap di berbagai aksi sosial. Tidak ada info siapa mantan istri atau keluarga, hanya identitas tunggal, Aan seorang duda. Semenjak fitnah Saman menimpa dirinya hingga kehilangan keluarga, Aan menyewa tiga Bodyguard yang menjaganya di manapun dia berada. Bahkan saat pengajian berlangsung.


***


"Kakak … aku perlu uang." Ringisan seorang gadis di ujung telepon.


"Laily … aku sedang bermasalah dengan bisnis, aku tidak bisa memberimu uang, anak dan istriku saja di tanggung oleh mertuaku."


"Kakak … ku mohon … wajahku infeksi, dan mulai rusak, tolong aku kak ...."


"Jual saja rumah dan toko bunga itu semuanya buatmu."


"Kakak …." ringis wanita bernama Laily di seberang telepon sana.


Saman mematikan panggilan telepon dari Laily begitu saja dan langsung menelpon yang lainnya.


"Ki … habisi adikku, dia mulai berbahaya," ucap Saman di telepon.


***


Membuat Aruna jatuh cinta padanya adalah hal yang sulit, Saman sadar, Aruna mau menikah dengannya hanya karena merasa hutang jasa, bukan karena cinta. Berharap Aruna melayaninya tulus seperti istri pada umumnya, itu bagai mimpi.


Saman sengaja mempermainkan perasaan Aruna. Setiap malam dia sengaja bertelanjang dada agar bekas luka yang ada di perut dan punggungnya di lihat Aruna. Semua itu berhasil karena Aruna luluh jika melihat bekas lukanya. Apa yang Saman inginkanpun terkabul.


*


"Kenapa kamu selalu menangis jika melayaniku?" gerutu Saman, dengan perasaan kesal Saman merebahkan dirinya di sisi Aruna.


"Aku tidak menangis," jawab Aruna sambil menyelimuti dirinya.


"Setiap kita melakukannya air matamu selalu keluar!" Gerutu Saman.


Aruna diam tidak menjawab, dia berbalik sambil menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar jika dia melakukan hal ini bersama Saman.


"Ya Allah … maafkan aku ... satu tahun sudah dia menjadi suamiku, kenapa Aan tidak juga keluar dari hatiku," ringis batin Aruna.


***