Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 71* Sakit Hati Andika Part 2


Krekkktekkk krekkkktekkk!


Pintu pun terbuka.


"Pa Wahyu ... bu Sumi ... maaf! saya benar benar lupa kalau ada kalian tadi ... tadi Sibki yang menelpon, dia minta saya jadi saksi nikah nya, jadi saya ada perlu dan langsung jalan. Saya benar benar lupa abah, Maaf ...." unkapan Aan penuh penyesalan, karena tidak sengaja membuat Wahyu dan Suminten terkurung di dalam rumahnya.


"Iya tidak apa apa nak Aan. Tunggu ... jadi saksi nikah? Apa nak Aan bisa?" Tanya Wahyu


"Insyha Allah ... Pak," jawab Aan. Aan berusaha menyembunyikan perasaannya yang sangat hancur. Namun demi persahabatan Aan harus kuat untuk menjadi saksi nikah Wanita yang selama ini dia cinta.


Ilyas tiba-tiba datang, dengan nafas yang masih tersengal, Ilyas langsung mengatakan maksudnya. "Assalamu alaikum ustadz ...." dia berusaha mengatur nasfasnya.


"Wa alaikum salam." jawab semua yang ada.


"Ustadz ... semua sudah berkumpul di mushalla, tinggal menunggu kalian semua saja ...." ucap Ilyas.


"Okey Yas ... kamu sama aku langsung ke mushalla. Pak Wahyu dan bu Sumi, silakan ganti baju, ini baru jam setengah 10 masih sempat," seru Ali


Ali dan Ilyas segera berlari menuju mushalla.


Sesampai di mushalla, Ali dan Ilyas langsung memberi salam. "Assalamu alaikum," seru keduanya, nafas mereka masih memburu, karena habis berlari.


"Wa alaikum salam," jawab semuanya.


"Maaf nunggu lama, ada hajat sedikit tadi," lirih Ali yang langsung duduk. Semua yang hadir tersenyum menanggapi Ustadz Ali.


Ali duduk berhadapan Sibki.


"Masyha Allah ... nikah nih? Sudah siap Sibki?" Seru Ali.


"Insyha Allah ustadz ...." jawab Sibki Menahan senyumnya.


Sibki memang mengagumi Aruna sejak dulu, namun dia tahan, karena dia merasa tidak pantas buat Aruna, namun Saat ini dia malah akan memper istri nya, tentu Sibki sangat bahagia.


"Tapi sabar ya ... camer kamu saksi kamu sama calon istri kamu belum ada," seru Ali.


Tawa bergemuruh.


Ibu Sibki duduk bersama beberapa wanita yang di undang, di bagian mushalla yang biasa di pakai oleh shaf perempuan. Sedang Rasda dan ibu Danu enggan masuk mushalla. Mereka risih, karena semua perempuan di dalam mushalla mengenakan jilbab. Sedang Rasda Dan Nami tidak. Padahal semua orang maklum, karena Rasda dan Nami tidak seaqidah dengan mereka.


"Pak ... Danu dan paman di mana?" Tanya Sibki berbisik pada bapaknya.


"Mereka di luar, Rasda dan bibi mu juga ... mereka kekeh nggak mau masuk, sudah ... maklumi saja." jawab Jojo berbisik.


Aruna, Nurul, Suminten dan Fatma kompak memakai pakaian serba putih. Aruna nampak Anggun mengenakan gamis dan kerudung serba putih. Mereka sampai ke Mushalla. Dan langsung bergabung dengan anggota perempuan lainnya.


"Bu Mastia ... ini Bu Sumi calon mertua Sibki," lirih Fatma.


Mastia langsung berjabat tangan dengan Suminten.


Suminten rasa tidak asing dengan wajah ibu Sibki. Suminten terus membuat otak nya sibuk bekerja mengingat ingat siapa Mastia dan di mana mengenal Mastia.


Andika dan Wahyu datang bersamaan juga memakai baju coco putih.


"Alhamdulillah ... sudah lengkap?" Tanya Ali setelah Aan dan pak Wahyu duduk di dekatnya.


"Alhamdulillah sudah," jawab Aan.


"Pengantin wanita nya mana? Kali aja ketukar kalau ngga kesini," canda Ali.


Aruna berjalan mendekati Ali, Sibki dan Abah nya.


"Subhanallah ... ini calon nya Sibki ini? Yakin ini manusia? Kali aja bidadari nyasar," canda Ali.


"Maaf Ya Nurul Aa bercanda, bagi Aa mah Cuma Nurul bidadari Aa," seru Ali. Nurul yang berada di sudut lain bersama perempuan perempuan lainnya tertawa mendengar canda an suaminya.


Sibki membalas dengan senyuman.


"Bismillah ... nama mempelai wanitanya ... Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi. Nama mempelai pria ... Sulaimam Sibki bin Jonar Wahyu. Lho ... kok nama ayahnya sama sama ada Wahyu. Pak Jojo dan pak Wahyu sodaraan?" Tanya Ali.


Jojo dan Wahyu sama sama menggeleng.


Perasaan Wahyu aneh, karena Jonar Wahyu adalah nama asalnya dulu, "Nama itu kan gak cuma aku aja," lirih hati Wahyu, menepis perasaan anehnya jauh-jauh.


"Ya sudah ... Bismillahirrahmanirrahim, kita mulai akad nya ya." lirih Ali.


"Aruna ... kamu berwali dulu sama abah kamu," kata Ali.


Aruna maju menghadap Abahnya. Di sisi Wahyu duduk Aan dan Ilyas sebagai saksi.


Hati Aan sunguh hancur melihat wanita yang dia cinta menikah di hadapannya.


"Semoga kamu bahagia Aruna ...." lirih hati Aan. Mata nya sungguh sulit terpejam melihat wajah Aruna.


**


***ARUNA :


***


"Akan aku nikah kan engkau ... dengan Sulaiman Sibki bin Jonar Wahyu," Ucap Wahyu.


"Alhamdulillah. Sekarang kita ijab kabul. Pak Wahyu ... mau jadi wali langsung apa diwakilkan?" Tanya Ali.


"Wakilkan sama pak Ustadz," jawab Wahyu.


"Sibki ... silahkan jabat tanganku. Rasanya nggak perlu penjelasan bukan? Sudah terlalu sering kamu jadi saksi nikahnya orang kan Sibki?" Seru Ali


Tawa menggemuruh.


"Masya Allah ... udah sampai giliran ya Sibki ... Sibki siapkan?" Tanya Ali.


"Insya Allah siap ustadz," jawab Sibki.


"Saksi siap?" Tanya Ali.


"Siap!" Jawab Aan dan Ilyas bersamaan.


Ali menjabat tangan Sibki.


"Wah ... tangan kamu dingin, kamu cuci pakai air es ya ...." lirih Ali.


"Sudah ... rilex ... santai ... nanti ntar malem nyambung tegang-tegang nya," canda Ali.


Hati Aan semakin sesak mendengar kalimat Ali barusan.


"Bismillah ... kita mulai," kata Ali.


Ali mulai membaca sholawat, syahadat dan istighfar.


"Bismilalahirrahmanirrahiim ...


Sulaiman Sibki bin Jonar Wahyu. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan seorang wanita yang bernama Aruna Sumira binti Wahyu Jayadi, yang telah diwakilkan pada ku sebagai wali nikahnya, dengan Mas kawin cincin emas 10 grm dibayar tunai!" seru Ali


"Saya terima nikah dan Kawinnya Aruna Sumita binti Wahyu Jayadi dengan mas kawin tersebut Tunai!!" Kata Sibki tegas.


"Bagaimana para Saksi???" Tanya Ali.


"TIDAK SAHH!!!" Teriak seseorang memecah ketegangan. semua orang terperanjat dengan teriakan barusan.


Rasda dan orang tua Danu juga Danu berlari melihat kedalam mushalla, mereka berdiri di tengah pintu. Mencari tahu kenapa teriakan itu.


****


*Bersambung ...


{*penasaran Readers....????????


Bantu semangat Author dengan like dan komen kalian ya.... like dari kalian sangat mendukung karya ini, tinggalin jempolnya ya sobatπŸ˜‡


Author sangat semangat dengan like dan komen dari kalian semua,Author tak berani meminta vote dari kalian 🀭.


Namun ternyata kalian memberi Vote yg luar biasa pada karya yg remahan ini.


padahal sangat banyak Karya Author lain yg lebih luar biasa dari karya ini.


Author terharu dengan semua dukungan kalian. Terima kasil All.


Boleh cerewet nggak..?


oh ya... Author minta Penilaian rating juga ya...☺ jangan lupa bintang 5 ya gaess...


Yg udah like dan komen terimakasih banget Author πŸ₯°πŸ˜πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜.


Like & Komen itu seperti multivitamin yg membuat Author semangat.


Makasih semua atas partisipasi nya,Author cuma bisa bisa berterimakasih atas dukungan kalian.


Apalagi komen yang di awal eps yang sangat membantu Author dengan Saran yang luar biasa, berkat Saran Readers Author bisa membuat karya yang mudah di fahami Readers yg lain nya.


Para Readers ... dukung Karya karya Author lainnya juga dengan saran dari kalian ya..


Saran dari pembaca itu sungguh luar biasa.


Bentar lagi karya ini TAMAT,


jadi ... sabar ya...


Moga Author yang tidak puya ilmu dalam seluk beluk menulis ini mampu menamat kan karya ini.


Terimakasih semua πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜*}