
Pagi-pagi, Ali, Safta, Ilyas, Sibki dan beberapa murid lainnya tengah mengaji di pinggir aliran Sungai. Jago ayah Danu duduk di tepian sisi yang lainnya melihat aktifitas Ali dan murid muridnya. Bersama Danu, Nami, Rasda juga kedua orang tua Aruna. Sedang Jojo masih di rumah Sibki,karena kesehatan Mastia sedikit menurun.
"Apa yang kak Danu lakukan?"Tanya Rasda, dia heran melihat Danu mengotak atik ponsel nya.
"Oh ... aku ingin Siaran Langsung, aku harap ada warga desa kita menonton kejadian ini," jawab Danu
"Warga desa sangat keterlaluan. Saya mewakili mereka Pak Wahyu, saya meminta Maaf untuk semua warga desa. Mereka pasti akan sangat menyesal jika mengetahui Aruna hanyalah Korban," lirih Jago.
"Iya Pak, bagi saya sudah cukup jika warga tahu Aruna tidak sehina yang mereka kira. Kami memaafkan semua warga yang telah menghakimi Aruna," jawab Wahyu.
"Assalamu alaikum," lirih Aruna, dia datang bersama Aan.
"Wa alakum salam, sini sayang," lirih Suminten membuka kedua tangannya. Aruna memeluk umaknya.
"Umak senang, entah berapa kali ganda kebahagiaan Umak, Aruna menikah, Aruna bebas, sekarang kita akan melihat siapa yang sejahat ini sama anak Umak," lirih Suminten.
"Mak ... Aruna senang kalo Mak bahagia,
Umak wanita yang hebat, di fitnah ibu Aruna, umak tetap menjadi ibu dan istri yang baik. Bantu dan didik Aruna menjadi istri yang baik mak," lirih Aruna.
Aan seakan terbang mendengar kata-kata Aruna barusan. Dia menunduk, senyumnya sungguh tidak mau pergi dari wajahnya.
Danu fokus pada kameranya, hatinya sungguh sakit melihat Aruna wanita pertama yang mencuri hatinya itu, sudah milik orang lain.
"Apa yang akan terjadi pada orang yang mengguna guna Aruna? Yaah ... setidaknya ada tandanya kan?" Tanya Nami.
"Kata makhluk gaib itu, orang yang memasukan titipan guna-guna kedalam diriku, kulitnya akan bersisik seperti ular, jika ada orang yang bisa mengeluarkan titipan itu dari dalam tubuhku," Sahut Aruna.
Rasda merasakan firasat tidak enak, tapi, ia hanya bisa diam, dia tidak tahu harus kemana lagi.
"Yes!!!" Seru Danu.
"Kenapa nak?" Tanya Jago.
"Ada beberapa warga desa yang nonton pak," jawab Danu.
Danu membalas setiap komentar yang masuk.
Dan menceritakan hal yang ia rekam. Komentar yang baru masuk membuat senyum Danu hilang.
(Danu ... Rasda sama kamu kan? Kami tak bisa mengabari kamu Danu, aku baru punya Data sekarang, Ibu Rasda meninggal di patuk ular, beberapa minggu yang lalu.) komentar dari warga Desa.
Danu mengentikan Rekamannya sebentar.
"Rasda ... sabar ya ... kamu juga yang kuat, ibu kamu meninggal beberapa minggu yang lalu, warga desa tidak bisa mengabari kita, karena tidak tahu kontak kita," Lirih Danu.
Nami langsung menghampiri Rasda dan memeluknya, Rasda menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan Nami.
Kesedihan itu buyar, saat melihat Ali menceburkan diri kedalam sungai. Semua orang langsung fokus ke arah sungai.
Di sungai ....
"Hei, pulanglah ke alammu, jangan kau ganggu kami. Selesaikan lah urusanmu dengan manusia yang mengganggu kalian, jangan mengganggu manusia yang tidak punya urusan dengan kalian," seru Ali.
Anak ular itu berubah jadi kabut hitam yang melayang layang di udara. Semua mata Fokus pada kabut itu. Aruna semakin takut, karena kabut itu melayang mengarah padanya.
"Umak ...." ringis Aruna melihat kabut itu semakin mendekat.
Danu semakin serius merekamnya. Beberapa Warga yang ada di desa semakin tegang menonton layar ponsel salah satu warga yang menonton Siaran Langsung Danu.
Kabut masuk ketubuh Rasda, seketika seluruh tubuh Rasda berubah jadi hitam dan bersisik. Nami langsung mundur dari Rasda. Aruna memeluk Suminten erat, hatinya sangat terluka, ternyata sahabatnya sendiri yang membuatnya mengalami penderitaan sebesar ini.
"Rasda?" Ucap semuanya bersamaan.
Di desa mereka juga terkejut.
"Rasda ... kamu sahabat Aruna ... kenapa kamu setega ini? Kami sangat menyayangi kamu Rasda, dan kita juga bertetangga," ringis Suminten.
Rasda ingin lari namun Jago memegang pergelangan tangannya erat.
"Apa salah aku Rasda, kenapa kamu memasukan guna,-guna ketubuhku, kamu juga tega menghanyukanku di sungai. Andai tidak Ada Victor, waktu itu entah di mana aku sekarang," ringis Aruna.
"Salah kamu? Semua ini salah kamu! Karena kamu mengambil cinta kak Danu!" Teriak Rasda.
Ali dan murid muridnya segera berlari ke arah kerumunan di tepi sungai. Karena mendengar teriakan. Sesampai di atas, betapa terkejutnya mereka melihat seluruh permukaan kulit Rasda seperti ular.
"Pernikahan kita Batal! Aku tidak mau menikah dengan wanita jahat sepertimu!" seru Danu.
"Akkkk! Aku melakukan semua ini demi kakak!!!" Teriak Rasda. Rasda mendorong Jago hingga Jago terpental dan tertelentang di tanah. Rasda lari dari mereka, dan di kejar beberapa murid Ali. Aan membantu Jago bangkit.
Aruna masih menangis dalam pelukan Suminten.
"Aruna ... namamu dan nama kedua orang tuamu akan bersih kembali, aku akan menjelaskan semuanya, pada semua warga desa," lirih Jago.
"Kita semua pulang saja, tenangkan hati dan pikiran kalian. Ini fakta yang mengejutkan bagi kalian semua. Pasti emosi kalian menguras tenaga kalian..Ayo pulang," seru Ali.
Mereka semua segera kembali kerumah.
Rasda terus berlari sekuat dan secepat dia bisa. Dia melihat banyak ular yang mengejarnya.
Tuttttt!!!
Suara klakson mobil yang melaju di jalanan. Sang supir menekan klakson lama, karena terkejut melihat wanita yang tiba-tiba berlari di tengah jalan raya.
Gubrakkkkggg!!
Tabrakan tidak bisa di hindari.
Rasda terpelanting cukup jauh, kepalanya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Jalanan kini dipenuhi Warna merah, karena Darah Rasda.