
Andika pulang kerumah besarnya, karena ini waktu nya mengadakan pengajian memperingati 2 tahun meninggal Maya. Suminten dan Wahyu pun sibuk membenahi rumah di bantu para pekerja yang disewa Aan dari luar. Untuk membantu Acara tahlilan nanti.
Tenda-tenda sudah berdiri di halaman rumah Aan. Catering juga siap menyediakan segala makanan dan cemilan yang di pesan Aan. Hanya menunggu para tamu datang saja. Semua sudah siap.
Ali, Nurul, Fatma dan Aruna sedang bersiap untuk berhadir di acara tahlilan yang Aan adakan dirumah nya.
Di sudut lain ...
"Mbah Qiweh ... bolehkan aku minta tolong," Kata Salha memelas.
"Asal tidak sulit, aku bantu," jawab Qiweh.
"Mbah ... hari ini acara tahlilan di rumah laki-laki yang selama ini ku incar, tapi laki-laki itu sepertinya menyukai gadis yang tinggal denganku, aku ingin gadis itu tidak bisa hadir, terserah mbah saja bagaimana caranya," pinta Salha.
"Hemmm itu mudah ... siapa namanya?" Tanya Qiweh.
"Namanya Aruna," jawab Salha.
Mbah Qiweh komat kamit membaca mantera.
*
Aruna sedang mempersiapkan kue-kue yang sebelumnya mereka buat untuk di suguhkan untuk tamu-tamu di rumah Andika nanti. Selesai menata bok kue dalam mobil, Aruna kembali kerumah, namun entah bagaimana Aruna terpeleset.
"Aaaaakkkk ..." pekik Aruna karena kaget dan kehilangan keseimbangan.
Nurul dan Ali segera menyusul Aruna.
"Ada apa Aruna???" Tanya Nurul sambil membantu Aruna berdiri.
"Emm ngga tau kak ... tiba tiba Aruna terpeleset," lirih Aruna.
Aruna ingin melangkah, namun hampir terjatuh, karena kakinya sebelah terasa sangat sakit.
"Maaf kak ... Aruna ngga bisa ikut ... sepertinya kaki Aruna terkilir," Lirih Aruna.
"Ya sudah ... kamu istirahat di rumah saja, nanti sekalian lewat kami panggilkan tukang urut buat kamu," seru Nurul.
Aruna di bantu Nurul berjalan menuju rumah.
"Kami tidak lama kok ... kami akan berusaha pulang secepat nya," lirih Nurul.
"Jangan kak ... kakak ngga usah mikirin aku, aku baik baik aja ..." jawab Aruna.
"Ya sudah ... kalau begitu kami pamit," ucap Fatma.
"Assalamu alaikum," ucap Fatma, Nurul dan Ali.
"Wa alaikum salam," jawab Aruna.
**
"Bhahahhaahahaaaaaaa ... beres!!!" Seru Qiweh.
Salha merasa puas, karena Aruna tidak bisa hadir di tengah Acara yang di adakan Aan.
**
Para tamu dan tetangga Aan sudah mulai berdatangan. Namun Aan masih berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan ustadz Ali, bukan Ali, Aruna tepat nya.
"Tuan ... siapa yang anda tunggu?" Sapa Wahyu
"Oh ... seseorang ..." jawab Aan.
Tidak lama mobil ustadz Ali pun terlihat, membuat Aan tersenyum sumringah. Karena sosok yang ia tunggu-tunggu datang.
Melihat Aan yang menunggu mereka Ali tertawa.
"Kenapa aa tertawa?" Tanya Nurul.
"Sepertinya akan ada yang kecewa ... lihat saja nanti," sahut Ali.
Tepat di halaman rumah Aan, Fatma dan Nurul segera membuka bagasi belakang, untuk mengeluarkan bok bok yang berisi kue. Sedang Ali melajukan mobil nya mencari tempat parkir.
"Terimakasih umi, Nurul, sudah bersedia hadir," sapa Aan.
"Assalamu alaikum kak Aan," sapa Nurul.
"Wa alaikum salam," jawab Aan.
"Ini nak Aan kue buatan umi, Nurul sama ..."
belum selesai Fatma bicara, terhenti oleh perintah Aan ke pembantu nya.
"Pak Wahyu tolong panggilkan bi Sumi dan lainnya untuk menata kue dari umi," perintah Aan ke wahyu.
"Maaf umi ... Aan motong bicara umi ..." ucap Aan.
"Iya ngga apa-apa ... tapi maaf Aru ..."
"Maaf tuan ... yang mana yang harus kami tata?" Tanya Suminten memotong kata-kata Nurul.
"Ini ..." jawab Nurul memberikan bok yang ada di tangan mereka.
Suminten dan yang lainnya segera membawa kue-kue itu kemeja dan menata nya agar disantap oleh para tamu.
"Maaf ... Aruna tadi sedikit kecelakaan, kakinya keseleo, padahal dia sudah siap mau kesini," kata Ali yang baru bergabung.
Ada sedikit gurat kekecewaan dan ke khawatiran diwajah Aan.
"Ayo masuk ustadz ... semua sudah menunggu ustadz," ajak Aan menutupi kesedihan, kekhawatiran dan kekecewaan nya.
Mereka berjalan ber iringan masuk kerumah Aan. Setelah menyapa beberapa orang, acara pengajian di rumah Aan segera Ali mulai.