
Deli mantap untuk pergi ke desa yang dia tuju. Karena semakin dia menunda semakin tersiksa batinnya karena melihat penderitaan warga di desa itu. Desa Kayu Alam, desa tujuan Deli untuk memecahkan misteri mimpinya, kenapa warga desa itu selalu meminta pertolongan padanya lewat mimpinya.
***
Deli menceritakan mimpinya pada kedua orang tuanya. Setelah mendengar cerita Deli dan permintaan Deli, Aan menentang keras kemauan Deli.
"Papa tidak setuju kamu pergi ke desa itu!"
"Pa ... sebelum aku tau apa yang terjadi pada desa itu, hidupku tidak akan tenang," ucap Deli.
"Bagaimana kalau kita tanya ustadz Ali, jika ustadz mengizinkan, restu mama bersama kamu," ucap Aruna.
"Dengan satu syarat! Jika misimu di desa itu selesai, maka kamu harus kembali dan menikah dengan laki-laki pilihan papa, Dena sudah punya calon dan dia sudah menyerahkan keputusan pada papa, tinggal kamu," ucap Aan.
"Asal bisa melepaskan diri dari mimpi-mimpi itu, aku tidak masalah, aku siap di jodohkan dengan pilihan papa," ucap Deli.
Aruna sangat geram pada Aan.
"Kenapa kamu semakin tua semakin menjengkelkan!" Bentak Aruna.
"Mama … papa tidak salah, papa hanya ingin melihat kami punya pasangan."
"Anak baik ...." Aan girang mendapat pembelaan dari Deli.
Aan langsung menelpon ustadz Ali menceritakan tentang mimpi Deli dan keinginan Deli.
"Kurasa itu syarat terakhir Deli yang aku ceritakan dulu An, semoga dia bisa menunaikan kewajibannya," ucap Ali.
Aan tidak bisa menahan keinginan putrinya. Deli menutup butiknya agar dia tidak terganggu dan bisa fokus dengan tujuannya. Perjalanan Deli menuju desa Kayu Alam di mulai.
Perjalanan Deli tidak mudah, akses ke desa Kayu Alam sangatlah payah karena jalan yang rusak, juga menanjak.
Desa Kayu alam adalah desa tertinggi di seputaran pegunungan Naju. Desa Pengkeh tempat Keleng saja jauh, namun desa Kayu Alam harus naik lagi ke pegunungan tersebut.
Deli tidak menyerah akhirnya dia sampai kedesa tersebut. Jasa yang mengantar Deli ke desa tersebut langsung balik karena tugas mereka selesai. Sesampai di desa itu bermacam bisikan goib Deli dengar.
"Adelia, jangan membuka identitas diri kamu, pakailah identitas lain."
"Adelia … jangan jujur pada siapapun, sembunyikan jati diri kamu dan tujuan kamu."
"Adelia, pikirkan nama samaran untuk melancarkan misi kamu."
"Selamat sore," sapa seseorang. Sapaan itu mengejutkan Deli dari lamunannya.
"Iya sore."
Deli mengumpulkan kesadarannya. "Sore pak, saya Lia, saya mahasiswa yang tugas KKN di desa ini," ucap Deli lancar.
Masya Allah, dari mana kata-kata ini? jerit hati Deli.
Orang yang berjaga di perbatasan itu, memandangi Deli, dari ujung kaki, hingga ujung kepala. "Bisa lihat surat-surat pengantar adek? Soalnya tadi ada yang datang kasih tau kalau akan ada mahasiswi dari kota KKN ke desa ini."
Deli kaget, sedikitpun dia tidak tahu menahu, kuliah saja tidak. "Sebentar Pak, saya ambil tas saya." Deli meraih tasnya.
Deli menemukan lembarab kertas dari dalam tasnya. Sungguh terkejut, melihat lembaran kertas yang bertuliskan nama sebuah Universitas dan juga nama Selia Vinata. Tanpa pikir panjang, agar orang itu tidak curiga, Deli segera memberikan kertas itu pada orang yang mencegatnya. Orang itu memeriksa data-data Deli.
Merasa wanita yang berdiri di depannya, bukan suatu ancaman. Dia segera mengembalikab surat-surat Deli. "Silakan, mari kami antar ke tokoh adat desa kami," ajak orang itu.
Deli dan beberapa orang berjalan menuju rumah tokoh ketua adat desa yang dimaksud. Tokoh yang sangat diutamakan di desa ini. Setelah sampai di rumah tokoh adat desa, orang yang mengantar Deli langsung pergi, dia kembali melajutkan tugasnya, berjaga di depan perbatasan desa.
Deli duduk di salah satu kursi yang ada di depan rumah ketua adat Desa.
"Bisa lihat surat pemgantar adek?"
Deli segera memberikannya, pada laki-laki yang duduk dekatnya.
"Panggil saya bah Ramu, semua warga sini akrab memanggil saya abah," ucap orang itu, matanya terus memeriksa data-data Deli.
"Iya bah, kalau rumah untuk menginap nanti?"
"Semua sudah kami siapkan saat dek Lia dikabarkan akan KKN di sini," potong Ramu.
Ya Allah .... Ringis hati Deli.
"Warga di sini tidak semuanya muslim, jadi saya harap kamu bisa menyesuaikan diri."
"Iya bah, saya dari kota, perbedaan mah biasa bagi saya," jawab Deli.
Selesai menerima dan membaca surat pengantar Deli, Ramu mempersilakan Deli untuk menuju rumah yang akan ditinggali Deli sementara waktu. Seorang laki-laki, suruhan Ramu bernama Ayan, di tugaskan Ramu menemani Deli menuju rumah yang akan Deli tempati.
Deli dan Ayan berjalan ber iringan, menuju tujuan mereka.
"Aku Lia, kaka siapa?" Deli berusaha meng akrabkan diri.
"Aku Ayan," jawab laki-laki itu santai.
"Aku tidak tahu," jawab Ayan dingin.
"Aku melakukan penelitian kemari, kuharap nanti kita semua bisa mengatasi kemarau di desa ini."
"Ilmu yang kamu dapat dari bangku kuliahmu tidak akan bisa memecahkan kutukan desa kami," ucap Ayan.
"Kutukan?" Deli Bingung.
"Astaga, aku tarik ucapanku."
"Kak Ayan … apa maksud kak Ayan?" Deli mempercepat langkahnya untuk mengejar Ayan.
"Jangan bahas lagi! Ini kita sudah sampai, mak Pinah!" Teriak Ayan.
Tidak lama datang seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu.
"Mak Pinah, ini mahasiswi yang akan tinggal di rumah emak," ucap Ayan.
"Ayo silahakan masuk ke gubuk emak." Wanita tua itu, mempersilakan Deli untuk masuk.
"Makasih mak," ucap Deli.
"Mak aku pamit, permisi." Ayan segera pergi, meninggalkan rumah Pinah. Tugas mengantar Deli sudah selesai.
Sedang Deli dan Pinah. Mereka berdua masuk kedalam rumah.
"Itu kamar kamu." Pinah menunjuk kearah pintu kamar yang terbuka.
"Iya makasih mak."
"Nama kamu siapa?"
"Nama aku Lia mak, aku ingin melakukan penelitian, kenapa desa ini kemarau padahal sumber air berasal dari desa ini, sungai yang aku lalui saja mengalir deras?" Tanya Deli.
"Ada satu hal, hanya ikatan darah yang bisa memutuskan kekeringan yang melanda desa kami," terang Pinah.
"Terus, untuk air bersih gimana mak?"
"Kami akan mengantri saat mobil bantuan air bersih datang, terkadang kami turun gunung keluar dari desa ini."
"Kenapa kalian tidak pindah ke desa tetanga?" Tanya Deli.
"Warga asli tidak bisa berpindah, ceritanya rumit, ayo nak Lia istirahat dulu, pasti capek kan."
Deli segera masuk ke kamar yang disediakan buatnya.
"Mak arah kiblat kemana?" Tanya Deli.
Pinah memberi tahu dengan isyarat tubuh.
"Makasih mak, emak muslim?"
"Iya, sebab itu kamu bersama saya," jawab Pinah, sambil tersenyum.
"Makasih mak, mohon maaf jika sebelumnya saya merepotkan," ucap Deli.
****
Di sudul lain dari desa Kayu Alam.
"Sudah di teliti siapa yang masuk desa kita?"
"Sudah bos, dia hanya seorang mahasiswa, bahkan ku intip dari kejauhan bah Ramu juga memeriksa identitas wanita itu."
"Bagus, pastikan orang yang dimaksud dalam memutus kutukan itu tidak masuk kedesa ini."
"Siap bos! Kami selalu berjaga di perbatasan desa meneliti siapa saja orang luar yang masuk kedesa ini."
"Terus … bagaimana si guru ngaji itu?"
"Dia tidak ada urusan dengan desa kita bos, kulihat tujuannya hanya mengajar anak-anak desa ngaji."
"Walaupun dia bukan ancaman, tapi tidak salahnya pantau dia,"
"Aneh ya bos, kenapa sumur di mushalla itu dari dulu tidak pernah kering, padahal sumur kita semua pada kering."
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, pastikan saja orang yang bisa mematahkan kutukan itu tidak bisa masuk desa."
"Siap bos, kami akan selalu menjaga desa ini."
Setiap hari beberapa orang jaga di perbatasan desa memeriksa siapa saja orang luar yang ingin masuk ke desa itu. Mereka jaga secara bergantian. Demi mencegah yang mereka sebut 'Ikatan Darah," memasuki desa mereka.