
Ali baru pulang kerumah, rasa nya rumah nampak sepi .
"Assalamu alaikum," ucap Ali.
"Wa alaikum salam," jawab Fatma yang datang dari arah dapur.
"Eh umi ... kok rumah sepi umi?" Tanya Ali.
"Iya ... si Aruna sudah pulang ketika selesai masak, terus si Salha pulang ke rumahnya, katanya ibu nya sakit," terang Fatma.
"Eh ... aa Ali sudah Pulang ..." sapa Nurul.
Ali tersenyum, melihat Nurul menyambut nya menyalami tangan Ali dan mencium punggung telapak tangannya.
"Sepertinya makan malam kita sepi," seru Ali.
"Enggak juga, sepertinya menenangkan bagi Aaa, karena sangat terlihat Aa Ali tidak menyukai Salha," sahut Nurul.
"Bukan tidak suka sama Salha, tapi rasa nya sifat Salha itu mencurigakan ..." terang Ali.
"Sudah ... sudah jangan bicarakan orang lain, mendingan kita makan malam sama-sama," seru Fatma.
"Iya umi ..." jawab Nurul dan Ali bersamaan.
Di sudut lain Salha bingung harus apa.
Dukun perempuan yang selama ini membantunya sudah mati. Salha duduk di teras rumah dukun itu memeluk kedua lutut nya, dia sangat ketakutan bayangan Maya selalu meneror nya. Hari juga sudah malam, kemana ia harus bermalam di desa yang tidak ia ketahui ini. Salha ketiduran di teras rumah dukun itu.
"Hei bangun!!!" Bentak seorang laki-laki.
Salha berusaha membuka mata nya yang sangat mengantuk.
"Ngapain kamu di sini?" Bentak orang itu.
"Saya tadinya cari unak ... ada keperluan, tapi saya tidak tahu kalau unak sudah mati, saya bingung harus kemana, izinkan saya bermalam satu malam saja, ngga apa apa kok cuma di teras," pinta halus Salha.
Laki-laki itu tersenyum. Saya mbah Qiweh, kaka nya unak ... sepertinya kamu di kejar kejar jin yang menjelma menjadi seorang perempuan," kata Qiweh.
"Percuma ... walau unak hidup, dia tidak akan bisa menolongmu, itu jin kirimanmu yang kamu minta membunuh seseorang, dia meneror mu hanya ingin kamu minta maaf dan mengakui kesalahanmu," seru Qiweh.
"Apa yang harus saya lakukan mbah?" Lirih Salha.
"Pertama ... berapa mahar mu ...? Atau yang kedua akui kesalahan mu," jawab Qiweh.
"Saya tidak punya apa-apa mbah ... tapi saya juga nggak mau akuin perbuatan saya.." lirih Salha.
"Kalau begitu pulang lah," bentak Qiweh.
"Mbah ... tolong saya mbah ... saya rela jadi pembantu mbah. Asal mbah nolong saya ..." ringis Salha.
"Aku memang perlu pembantu gratis tapi ... aku tidak suka pakaian mu!!!" seru Qiweh.
"Tidak masalah mbah ... saya juga ngga suka pakaian saya, saya terpaksa mengenakan ini, untuk menarik perhatian laki-laki yang selama ini incar. Tapi sia-sia pengorbanan ku selama setahun ini," gerutu Salha sambil melepas kerudung nya.
"Hem ... ya sudah ... kamu bersihkan rumah Unak ini, karena rumah ini hanya ku pakai buat praktek. Bawa masuk semua barangmu," seru Qiweh.
Salha masuk, dia segera istirahat, karena tubuh nya benar-benar lelah.
"Hei kamu sudah makan?" Tanya Qiweh.
"Belum mbah," Sahut Salha.
"Ini makan saja nasi bungkus ini ... ambil sendiri air minum di dapur, kurasa kamu sudah tahu rumah ini. Nasi itu tadi aku di kasih sama warga," ucap Qiweh
"Iya ... makasih mbah ..." jawab Salha.
"Ini, kalung ini pakai untuk mencegah gangguan jin sementara waktu," seru Qiweh sambil memberikan kalung
Salha menerima dan langsung memakainya.
Salha bekerja membersihkan rumah praktek mbah Qiweh, Sebagai timbal balik karena Qiweh membantu nya. Entah sampai kapan Salha menjadi pembantu Qiweh. Hanya Qiweh yang menentukan waktunya.