Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 98. Sidang


15 hari setelah Aruna mendaftarkan berkas perceraiannya berkasnya di terima pihak pengadilan. Aan dan Aruana mendapat panggilan sidang cerai mereka. Aruna membawa kedua orang tuanya, Jojo dan sibki pun mendampingi Aruna, mereka juga hadir sebagi saksi.


Selama persidangan berlangsung Aruna diam, sedikitpun dia tidak melihat ke arah Aan. Padahal Aan selalu memandang sayu kearahnya.


Isi rumah besar Aan yang selama ini tidak pernah dia datangi ternyata penuh dengan Maya. Lebih satu tahun menikah Aan sama sekali tidak melepas foto-foto itu, sangat jelas kalau Aan sangat mencintai Maya. Kini Maya bangkit kembali dalam diri wanita lain yang bernama Laily.


Ini sidang yang ketiga. Setelah mendengari semua keterangan saksi, pengadilan mengabulkan permohonan cerai Aruna, karena Aan terbukti selingkuh. Hak asuh si kembar pun jatuh pada Aruna, karna mereka masih bayi yang baru berumur beberapa bulan dan butuh Asi, juga segala pertimbangan lainnya, karena Sibki memberikan bukti kehamilan selingkuhan Aan.


"Tokb… tok ... tok!!!" Ketukan palu di meja hakim. Aruna dan Aan resmi bercerai.


"Maaf kak Aan … selama menjadi istri kak Aan aku hanya merepotkan dan membebani kak Aan, terimaksih atas segala kebahagiaan yang kak Aan beri selama ini," Air mata Aruna terus tumpah.


"Kami ambil kembali anak kami Aruna nak Aan," lirih Suminten, mereka semua pergi meninggalkan ruang persidangan.


Aan mematung, hatinya sakit pernikahannya berakhir begitu saja.


***


Sibki kembali kerumah orang tuanya, dia tidak lagi menjadi relawan di mushalla ustadz Ali. Dia membantu usaha bapaknya. Karena dia memiliki dua ayah dan dua ibu di desanya. Tidak terasa usia Rayyan, Dena dan Deli lebih satu tahun. Mereka sudah luwes berjalan. Kebahagiaan di rumah Jojo sangat terasa. Mastia pun kini sangat sehat, tidak pernah lagi kesehatannya terganggu. Padahal Jojo dan Sibki hampir putus asa mengobati Mastia yang terus-terusan sakit.


Wahyu dan Jojo menghitung hasil panen mereka hari ini, sedang Sibki sedang bermain bersama Rayyan.


"Sibki … kenapa si Saman tidak pernah lagi datang kemari? Dulu sebelumnya dia hampir setiap hari kemari, apa dia punya langganan baru?" Tanya Jojo.


"Dia masih langganan sama kita, hanya saja anak buahnya yang kemari," jawab Sibki. Namun Sibki terus bermain dengan ponakannya.


"Aneh … juga padahal Saman itu orangnya kritis, tidak mudah percaya pada orang lain," lirih Jojo.


"Enggak aneh bapak … Saman itu takut ketemu Aruna," seru Sibki.


"Eh biasanya dia bantu kamu kok selama Aruna di sini," lirih Jojo.


"Elah … cuma aku yang tahu ya? Saman itu suka sama Aruna jauh sebelum Aruna menikah dengan Aan, berapa kali mau melamar enggak ketemu. Pas ketemu waktu Aruna mau nikah sama aku dulu," terang Sibki.


"Kalau suka takutnya kenapa?"


"Takut jatuh cinta lagi bapak … secara Aruna jendes!!!(janda)"


Wahyu terdiam mengingat status Aruna janda.


***


Perkumpulan para dukun.


"Sial!!! Ini sudah lebih satu tahun, kita tidak tahu yang mana bayi titipan putri ular itu, percuma kita kerja sama menghancurkan rumah tangga mereka."


"Tidak ada sia-sia, berkat mereka bercerai kita mudah mendekati si trio kembar itu,"


"Benar!!! Kalau Aruna masih bersama suaminya jangan harap bisa menggendong menyentunya saja tidak bisa,"


"Bagaimana cara mengetahui yang mana bayi titipan putri ular itu?" Tanya yang lain.


"BUNUH!!! Yang bukan bayi putri ular akan mati," seru yang lainnya.


"Besok momen yang tepat, suasana lumbung Jojo ramai, biasanya anak kembar tiga itu ada di sana, secara Jojo sangat sayang pada ketiga cucunya itu."


"Kita harus bergerak cepat, jika syarat pelepasan bayi itu di tunaikan, maka keistimewaan bayi itu hilang, tidak ada bedanya lagi dia dengan manusia biasa,"


***


Sibki sedang berbicara dengan Saman di telepon.


"Jangan gitu dong … aku tidak sanggup Sibki, aku tidak bisa," lirih Saman.


"Terserah … jika kamu tidak datang maka kamu tidak dapat jatah," Sibki memutuskan panggilannya sepihak.


Saman merenung, dia sangat tidak sanggup bertemu Aruna, terlebih sekarang status Aruna janda.


***


Keesokan harinya Saman terpaksa datang karena membutuhkan hasil panen dari ladang Sibki untuk membagi pada semua pelanggannya.


"Akhirnya kamu datang juga Saman …" seru Jojo.


Saman tersenyum dan berusaha menunduk, karena Aruna berjalan ke arahnya membawa gelas minuman.


"Si kembar mana pak Jo?" Tanya Saman.


"Itu dekat lumbung," seru Jojo.


"Kita kesama yuk pak … saya sangat lama ini tidak bertemu si kembar.


"Ayo …" seru Jojo.


Saman merasa lebih lega berada dekat si kembar daripada dekat ibu mereka. Si kembar duduk di tikar lesehan bersamanya sambil memakan makanan mereka. Sumimten dan Mastia selalu di samping mereka. Suminten dan Mastia pergi membantu Aruna membawa minuman untuk semua orang. Di tikar itu hanya si kembar tiga dan Saman.


Beberapa pasang mata saling pasang kode. Tiba-tiba mata Saman silau karena pantulan dari yang seseorang pegang. Saman memandangi orang itu curiga. Orang itu berjalan ke arah si kembar. Saman langsung pasang perisai badan saat orang itu menngayunkan sesuatu.


"Crakkkk!!!" Satu tusukan kena pinggang Saman. Karena Saman memasang badannya melindungi si kembar.


Melihat temanya gagal yang lainnya berlari dan mengayunkan belatinya juga "Crakkkkkk"


Saat yang sama dengan tusukan kedua yang mengenai lengan Saman. Semua orang yang melihat itu segera berlari ke arah si kembar. Aruna yang tadi santai melepas semua yang ada di tangannya dan berlari ke arah Saman.


Orang yang lain ingin mengayunkan belatinya Saman segera menahan pisau itu dengan telapak tangan kirinya. Saman berusaha tersenyum pada si kembar yang tidak mengerti, padahal dirinya terkena tiga kali bacokan.


Tiga orang yang mebacok di gebugi para pekerja yang membantu panen karena berusaha membunuh cucu juragan mereka. Aruna Suminten dan Mastia segera menggendong si kembar. Sedang Sibki dan beberapa orang lain segera membawa Saman ke rumah sakit.


Aruna menatap Saman yang di bopong beberapa warga, hatinya merasakan sesuatu, ini kali kedua Saman menjadi perisai dia. Pertama saat Salsa yang ingin membacoknya, yang kedua sekarang Saman memakai dirinya untuk melindungi ketiga anaknya.


Jojo tidak ingin ada korban jiwa di ladangnya, dia segera menelepon polisi melaporkan kejadian yang barusan terjadi. Setelah Polisi datang polisi langsung mengamankan tiga orang yang digebukin warga tersebut. Keadaan orang yang berusaha membunuh anak Aruna sungguh memprihatinkan karena warga menggebuki mereka tanpa ampun. Karena kejadian barusan Jojo segera menambah pengamanan di rumahnya dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada ketiga cucunya.


Aruna Jojo dan Wahyu segera ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Saman yang terkena tiga kali luka bacokan. Saman tengah diobati lukanya dan dijahit oleh tim medis yang bertugas di dalam sana. Setelah tim medis selesai Sibki masuk ke dalam ruang pengobatan Sama.


"Ngaku kamu!!! Kamu masih cinta Aruna kan?" Tanya Sibki.


Saman hanya membalas dengan senyuman.


"Iya aku ngaku … aku cinta sama Aruna dan aku tidak pernah berhenti mencintai dia walau dia istri Aan, tapi caraku mencintai adalah memastikan kebahagiaan dia," jawab Saman.


"Sudah aku bilang Sibki … aku tidak rela dia terluka, si kembar juga bagian dari Aruna, aku akan lakukan apa saja untuk melindungi mereka, sekalipun dengan nyawaku," lirih Saman.


"Kenapa kamu tidak lamar dia? Dia bukan istri Aan lagi,"


"Dia tidak akan bisa menjalin hubungan baru, cintanya pada Aan sangat besar, aku bisa merasakan itu, pandangan Aruna pada Aan sama seperti pandanganku pada Aruna," lirih Saman.


"Kamu aneh!!! Dari dulu tidak mau berjuang,"


"Bukan tidak mau berjuang Sibki. Melihat Aruna bahagia itu sudah sangat cukup bagiku," lirih Saman.


Saat yang sama Aruna, Jojo dan Wahyu mendengar semua pengakuan Saman.