
Sang Sopir segera menepikan mobilnya, supir sungguh panik, karena menabrak orang itu begitu keras. Para murid Ali yang mengejar Rasda segera melihat keadaan Rasda. Hanya Safta yang kembali untuk mengabari yang lain tentang kecelakaan Rasda.
Salah satu murid Ali menelpon polisi dan Ambulan, dan juga ada yang mengecek keadaan Rasda.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sudah meninggal," kata yang memeriksa keadaan Rasda.
Salah satu warga menutup jasad Rasda dengan daun pisang. Mereka enggan memberi sarung, karena tubuh Rasda mengerikan, bukan karena kecelakaan, tapi Kulit Rasda yang seperti kulit ular. Jalanan pun di penuhi orang orang yang ingin melihat dekat kecelakaan barusan.
Sibki, Danu dan yang lainnya datang ke jalan utama setelah dapat kabar dari Safta. Danu langsung mencari kontak media sosial orang desa, Untuk mengabarkan kecelakaan yang menimpa Rasda. Setelah menemukan kontak yang di maksud, Danu mengabarkan yang terjadi pada Rasda.
Mobil polisi dan mobil Ambulan datang ketempat kecelakaan. Polisi sedang olah TKP, sedang ambulance langsung membawa jasad Rasda kerumah Sakit. Danu ikut ke mobil ambulan, karena mereka akan langsung membawa jasad Rasda ke desa. Jago meminta Agar urusan hukum bagi si penabrak di permudah saja. Karena murni kesalahan Rasda yang berlari kejalanan.
Keadaan tenang kembali. Semua orang kembali ketempat mereka masing masing. Setelah jasad Rasda di bawa Ambulan. Dan TKP juga sudah di bersihkan.
***
Salha.
Dari kemaren Salha ingin mencelakai Aruna.
Namun karena bekerja keras sampai larut malam, Salha tidak kuat lagi untuk melakukannya, dia terpaksa menundanya. Hari ini Salha sengaja tidak masuk kerja. Setelah membeli perlengkapan untuk mengguna-guna Aruna. Dia mulai bersiap mengirim santet buat Aruna.
"Okey kak Aan, kamu tidak mau mencintaiku, tapi aku pastikan, tidak akan ada wanita yang bisa bertahan hidup denganmu! Aruna ... apa sekarang kau bisa bertahan dengan kirimanku?!" Seru Salha.
Salha memulai ritualnya.
"Akkkk!!!" Teriak Salha melihat sosok separu manusia separu ular.
"Kau mau mencelakai Aruna?" Tanya Putri ular yang muncul tiba-tiba di hadapan Salha.
"Urusanku dengan Aruna bukan denganmu! Pergi kamu!!" Seru Salha.
"Jika kau ingin mencelakai Aruna, maka itu menjadi urusanku, Aruna sudah dua kali menyelamatkan putriku, pertama dari dukun bodoh! Gurumu itu. Kedua, saat ustadz itu mengeluarkan anakku, Aruna tidak mengizinkan ustadz itu membunuh anakku. Sekarang anakku bebas, dan Aruna juga bebas, dia sudah bahagia bersama suaminya," terang putri ular.
"Kau ingin membunuh Aruna? Maka kamu yang akan kubunuh sekarang!" Seru putri ular.
Putri ular langsung mencekik leher Salha. Seketika, Salha mati di tangan putri siluman ular. Jasadnya tergeletak di kamar kost-kostannya.
Salha memanen semua karmanya.
***
Di majelis.
Keadaan Mastia semakin membaik, Karena rasa bencinya pada Ali mulai padam, karena jasa besar Ali yang membantu putrinya, Aruna. Ditambah lagi Saat Aan datang meminta mereka menjadi pendamping di pelaminan nanti. Karena Aan akan melakukan Resepsi pernikahan dengan Aruna di sebuah Hotel berbintang.
***
Kini Aan tengah makan siang dirumah Suminten. Setelah makan siang mereka berempat duduk di ruang tengah rumah kontrakan Suminten..Aan menyodorkan satu kotak kecil pada Aruna.
"Apa ini?" Tanya Aruna.
"Bukalah ... itu buatmu," jawab Aan.
Aruna membuka bok itu, ternyata sebuah ponsel..Aruna menatap Aan, seakan bertanya kenapa kau memberi ini?
"Aku ingin tahu kabarmu setiap saat, semua sudah aku atur, nomerku juga aku save di sana, paket data juga lengkap," seru Aan.
"Itu yang biasa buat nelpon bukan?" Tanya Suminten.
"Iya mak ...." jawab Aan.
Suminten langsung pergi kekamarnya, tidak lama, dia kembali membawa secarik Kertas.
"Nomer telepon Alis, sewaktu umak mau meninggalkan desa, Alis memberi nomer ini," lirih Suminten.
Seyum mengambang di wajah Aruna, dia sangat merindukan sahabatnya yang di desa itu.
"Siapa Alis?" Tanya Aan.
Terhubung.
"Halo?" Lirih Alis.
"Hai Lis ... kenal suaraku?" Tanya Aruna.
karena terlalu bahagianya air matapun menetes.
Aan menghapus Air mata Aruna dengan jarinya sambil menggeleng, isyarat jangan menangis.
Tak ada jawaban lagi di seberang telepon sana, hanya terdengar isakan tangis perempuan yang bernama Alis.
"Bisa kita video call, aku takut ini mimpi," ringis Alis.
Telepon di tutup.
Aruna menatap Aan. "Kenapa kakak memberi banyak kebahagiaan di hidupku," lirih Aruna.
Aan tersenyum. "Karena aku sangat mencintai kamu. Undang dia ke Resepsi pernikahan kita yang akan dilangsungkan seminggu lagi," ucap Aan
"Resepsi?" Lirih Aruna, raut wajahnya nampak bingung
"Sudah telepon dulu sahabatmu, nanti penjelasannya," seru Aan.
Aruna langsung memanggil Alis, lewat panggilan Video. Setelah saling tatap melalui layar ponsel, keduanya hanya menangis. lalu saling tanya kabar, Alis tidak percaya melihat Aruna memakai kerudung. Namun, dia bahagia, bisa melihat sahabatnya lagi, yang sebelumnya dia kira sudah mati.
"Alis ... terima kasih selama ini kau jadi sahabatku satu-satunya, lihat siapa ini ...." lirih Aruna mengarahkan kamera ponselnya ke arah Suminten dan Wahyu.
"Umak ... abah ...." teriak Alis di seberang telepon sana.
"Dan ...." Aruna mengarahkan kamera ponselnya pada dirinya sambil memeluk Aan dari belakang. Aan sangat bahagia Aruna memeluknya, di hadapan sahabatnya juga di hadapan kedua orang tuanya.
"Akkk!" Teriak Alis kegirangan.
"Dia... Dia suamimu?" Tanya Alis.
Aruna mengangguk.
"Aruna ... kamu membuatku seperti orang gila, aku menangis, tapi aku juga tertawa," lirih Alis sambil menghapus Air matanya.
"Kami mengundang kamu untuk hadir di acara Resepsi pernikahan kami nanti, ajak semua keluargamu, juga undang kades Tejo, alamatnya nanti aku kirimkan," kata Aruna.
Alis mengangguk, dia tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya dia melihat kembali sahabatnya ini.
"Siapa namamu tuan ganteng?" Tanya Alis menyapa Aan.
"Andika," jawab Aan.
"Andika pratama yang artis?" Seru Alis bercanda.
"Bukan!! Dia bukan Andika Pratama suami orang itu. Dia Andika, Aan suami Aruna, aku tidak ikhlas kamu bilang suamiku Andika Pratama yang Artis itu, secara Andika ku lebih ganteng," seru Aruna.
Aruna sangat malu dengan perkataannya sendiri. Dia menenggelamkan wajahnya di belakang Aan.
"Kau jahat sekarang Aruna, aku jomblo. Tapi, kau malah bemesraan dengan suamimu di depanku" lirih Alis.
pembicaraan mereka terus berlangsung. Tanpa merubah posisi, Aruna masih memeluk Aan. Suminten dan Wahyu pergi keluar, mereka malu sendiri melihat Aruna yang menggelayut manja di tubuh Aan.
"Lis ... Rasda kecelakaan di tempat aku tinggal," lirih Aruna. Aruna mulai menceritakan setiap detail kejadian kenapa ia bertemu Rasda dan Danu.
"Aku tidak tahu harus apa Aruna, nanti aku minta Ayah kabari ayahnya Rasda, aku tidak punya teman lagi saat kau. Maaf," lirih Alis.
"Aku tidak pernah bertegur sapa dengan Rasda, sejak praktek ayahnya maju, mereka membangun rumah besar di sini, Rasda juga berubah jadi sangat Sombong," terang Alis.
"Ya sudah ... salam sama ibu bapakmu, jangan lupa hadir ya ...." lirih Aruna.
Alis mengangguk cepat. "Pasti!" Seru Alis.