Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 116


Suminten, Mastia, Jojo dan Wahyu dalam satu mobil yang dikemudikan oleh Jojo sudah pergi meninggalkan kantor KUA, dalam mobil juga ada si kembar setelah mobil itu pergi, ustadz Ali, Nurul dan umi Fatma yang menggendong Ilham juga pergi. Kini tinggal Aruna, Aan dan Sibki.


"Ini kopermu Aruna." Sibki mengeluarkan koper Aruna dari dalam bagasi mobilnya.


"Kakak benar-benar niat mengusirku," rengek Aruna.


"Aku malas berdebat, selamat tinggal sampai jumpa lagi, assalamu'alaikum." Sibki meninggalkan Aruna dan Aan begitu saja.


Aan memasukan koper Aruna kedalam bagasi mobilnya.


"Hei, apa kamu ingin berdiri disini selamanya?"


Aruna berjalan menuju mobil Aan, masuk dan duduk dengan santai di kursi depan samping kemudi. Setelah selesai memasukan koper Aan berlari kecil masuk kemobilnya. Perlahan dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan area KUA.


Aan melirik Aruna yang hanya memandangi pemandangan lewat kaca mobil disampingnya.


"Apakah pemandangan itu lebih indah daripada memandangku?" tanya Aan.


Aruna diam tidak menjawab pertanyaan Aan.


"Baiklah, aku diam." Aan fokos menyetir.


Aan membawa Aruna ke villa yang ada di salah satu perkebunan miliknya. Aruna turun tapi matanya tidak menyadari di mana dirinya, tatapannya kosong entah kemana. Dia hanya mengikut langkah kaki Aan yang berjalan didepannya menyeret dua buah koper milik mereka. Hingga mereka sampai di kamar mereka.


"Kamar mandi di sana." Aan menunjuk salah satu pintu.


Aruna mengangguk, dia membuka kopernya dan mengambil salah satu baju santainya yang berwarna merah muda. Dengan langkah kaki yang lemas dia masuk kamar mandi untuk membersihkan riasan dan ganti baju. Aruna keluar mengenakan baju santainya tanpa kerudung.


"Baguslah, karena di villa ini hanya ada kita." Aan sangat senang melihat Aruna yang tidak memakai kerudungnya.


Aan berlalu di samping Aruna masuk ke kamar mandi juga untuk ganti baju. Aruna berjalan ke arah teras yang luas tepat di depan kamar mereka, dia duduk di ayunan besi yang ada di teras itu. Dia memandang pemandangan hijau yang asri di depan matanya.


Aan keluar dari kamar mandi mengenakan kaos putih dan celana pendek. Dia memandangi setiap sudut yang ada di kamarnya, namun tidak menemukan Aruna. Senyum terukir di wajahnya saat melihat Aruna duduk santai di teras depan kamar mereka. Aan berjalan perlahan menghampiri Aruna.


"Kamu menangis?"


Aruna langsung menghapus air matanya.


"Kenapa kamu menangis?" Aan langsung duduk di samping Aruna.


"Aku malu pada diriku sendiri, kenapa kita harus bercerai jika memang bersatu lagi? Kebodohanku! kenapa juga aku mau menikah dengan Saman," ringis Aruna.


"Sudah, jangan kamu pikirkan itu, kamu istri yang baik, wajar kamu menjalankan tugasmu, satu hal, aku yakin kamu tidak pernah melakukan hal itu dengan ikhlas." Aan menghapus air mata Aruna dengan jarinya.


"Aku selalu merindukan kamu.".Aruna menenggelamkan wajahnya di dada Aan.


Aan tersenyum dan membelai halus rambut Aruna.


"Saman yang bersamaku, tapi hatiku--" Aruna semakin terisak.


"Lupakan itu, aku sangat mencintai kamu." Aan berusaha menenangkan Aruna.


"Aku malu, aku belum siap dengan hujatan semua orang," ringis Aruna.


"Semua yang terjadi di belakang kita bukan ke inginan kita, tidak ada satupun wanita yang ingin menjadi janda, mereka pasti menginginkan kehidupan rumah tangga yang langgeng dan bahagia, namun nasib mereka kurang beruntung. Janda? Apa salah janda? Hanya satu atau sepuluh orang yang berbuat menyakitkan, kenapa setiap janda di hujat? Padahal perjuangan mereka sangat luar biasa. Lupakan cemoohan orang tentang dirimu, mereka tidak tahu bagaimana jika mengalami masalah sepertimu, andai orang lain, aku yakin yang menjadi istriku saat itu akan membunuhku, wanita mana yang tahan melihat pengkhianatan suaminya."


"Bukan cuma itu, kata orang kembali pada mantan artinya tidak laku, sehina itukah aku?" Ringis Aruna. Dia menarik diri dari dekapan Aan.


"Hei, mantanmu ini yang terbaik, aku yakin tidak ada yang sebaik diriku," ucap Aan.


Aruna merebahkan kepalanya di dada bidang Aan sambil memandangi indahnya pemandangan villa itu.



(Kita comot foto artis yang ada di instagram)


"Kata orang, mantan adalah barang bekas, hati-hati … kadang barang bekas lebih berharga dan berkwalitas dari barang baru." Aan tertawa sendiri.


"Awhhh … geli!!" Aan meringis karena Aruna mencubit pahanya.


"Sudah, aku siap menerima hujatan seluruh penjuru negri ini, asal selalu bersamamu, hidupku sakit ketika jauh dari kamu," ringis Aruna.


"Pak, tolong tangannya tempatkan pada tempat yang benar," bentak Aruna, karena tangan Aan menggerayang kemana-mana.


"Tidak bisa!" Aan semakin seruis.


Aruna mendongakkan wajahnya, tangannya menarik tengkuk Aan agar wajah Aan mendekat pada wajah mereka. Suasana menjadi semakin panas.


Aan menarik wajahnya menghentikan pangutan mereka. "Waw, setelah berpisah dariku kamu semakin berani dan menantang, aku suka." Aan dan kembali mendalami pertemuan bibir mereka.


Aan kembali menarik wajahnya, berhenti dari persilatan lidah mereka. "Aku tidak tahan," bisik Aan.


Aruna tersenyum dan menantang Aan.


"Kamu harus tanggung jawab," Aan langsung bangkit dan membopong Aruna kembali masuk kekamar merekan.


Suasana menjadi hening, keduanya melepas rindu yang selama ini tertahan.


***


"Hei … hari mulai siang, makan siang apa kita hari ini," rengek Aruna.


"Makan? Tidak perlu, cukup kita saling makan nanti juga kenyang," sela Aan.


"Awwhhh …," ringis Aan. "Kamu sangan suka mencubit orang, ini aku balas!" Seru Aan. Dia mencubit bagian tubuh Aruna dengan bibirnya.


"Aku serius … perut ku lapar!" Aruna menahan serangan Aan.


"Aku bercanda, aku sudah siapkan bahan makanan, sebentar aku ambil." Aan meraih celana pendek dan baju kaos yang sebelumnya dia kenakan dan memakainya kembali. Dia lansung keluar dari kamar mereka.


Sedang Aruna bangkit untuk membersihkan diri dan berpakaian kembali, lalu menuju dapur. Aruna tersenyum di dapur Aan tengan mengeluarkan barang makanan yang ada pada bok.


"Kakak sangat niat rupanya." Aruna melihat benda makanan yang di bawa Aan.


"Hei kenapa kamu mandi? Aku belum selesai," goda Aan.


"Apa susahnya? Kalau kakak ingin siaran ulang tinggal mandi lagi," tantang Aruna.


"Kamu nakal," goda Aan.


Aktivitas dalam kamar berpindah pada ruangan dapur. Aruna pasrah memasak di gerecoki Aan yang bermanja di setiap lekuk tubuhnya. Suara desiran masakan yang di masak beradu dengan suara yang lain.


"Kakak …," ringis Aruna.


"Diam! Jalankan tugas memasakmu, aku juga sedang menjalankan tugas memasakku," sela Aan.


"Bagaimana kalau ada orang lain?"


"Tenang mang Tatang dan istrinya Atik mah datangnya cuma pagi untuk membersihkan villa ini," jawab Aan.


"Tuan … Tuan …." suara teriakan dari arah luar.


"Astuge!" Ringis Aan.


Aruna tertawa mengikik melihat reaksi wajah Aan.


"Siaran ulang setelah sholat zuhur di kamar!" Bentak Aan.


Aruna menaikan satu kakinya ke atas kursi dengan pose menantang.


"Awas Kamu! Kamu malah membuatku semakin pusing," gerutu Aan.


Aruna masih tertawa melihat mimik kekesalan di wajah Aan, sedang Aan segera berjalan menuju pintu.


"Jangan biarkan pembantumu masuk, aku tidak pakai kerudung ini!" teriak Aruna.


Aan mengacungkan jempolnya keudara, tanda meng-iya 'kan ucapan Aruna.