Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 72* Tidak Sah


"TIDAK SAHH!!!" Teriak seseorang.


Hingga Rasda dan kedua orang tua Danu juga Danu kaget mendengar teriakan itu, mereka semua segera berlari ke arah mushalla, dan berdiri tepat di tengah pintu untuk mengetahui kejadian, apa yang terjadi di dalam.


Flash back ....


Di bagian ruang pria tempat akad nikah yang akan berlangsung, Ali sangat asyik bercanda dengan Sibki. Untuk mengurangi ketegangan Sibki yang akan mengucap ijab kabul.


"Wila?" ucap Suminten lirih, dia berhasil memutar otaknya untuk mengingat siapa wanita itu.


"Itu namaku sewaktu muda, karena namaku Wila Mastia," jawab Mastia.


"Tunggu apa kau mengenal ku..?" Tanya Mastia.


"Tunggu! Apakah Sibki anakmu?" Suminten balik bertanya.


"Iya ... Suli anakku, maaf maksudku Sibki. Anda belum menjawab pertanyaanku," kata Mastia


Di bagian depan, ijab kabul baru saja selesai diucap oleh Sibki, begitu jelas, tegas dan lantang, lalu Ali menanyai saksi "Bagaimana saksi?".


Suminten panik mengetahui siapa Sibki, dia mengabaikan Wila, dan langsung berlari ke depan, dan berteriak semampunya.


"TIDAK SAHH!!! " Teriak Suminten begitu keras.


Flash back off.


"Lho ... itu Suminten Aruna dan Wahyu pak," ucap Nima, dia sangat terkejut melihat Suminten berdiri menyingkap horden pembatas.


"Aruna calon istri Sibki," sahut Danu, dia menjawab perkataan ibunya.


Jago dan Nima sangat kaget saat melihat Aruna lah yang akan jadi istri Suli, ditambah di sana ada Wahyu dan suminten.


"Bu ... apa-apaan sih bu.... jangan malu-maluin!" Wahyu bingung melihat Suminten yang nampak sangat tertekan.


"Mereka nggak boleh nikah bah!! Mereka nggak boleh nikah!" Ringis Suminten.


"Kenapa nggak boleh? Semua orang merestui mereka mak," sahut Wahyu.


"Sibki itu Suli! Anak pertama bapak sama Wila! Sibki Kakak kandung Aruna!!" Suminten tidak mampu lagi menahan ledakan yang berusaha dia pendam.


Suminten jatuh pingsan, karena sangat tertekan mengingat masa lalunya, saat dia dijebak Wila, hingga dia menikah dengan Wahyu dan menjadi ibu sambung bagi Aruna. Walaupun Akhirnya dia bahagia hidup bersama Wahyu hingga kini. Karena Wahyu lelaki yang baik dan penuh tanggung jawab.


Semua orang yang hadir di tempat itu dibuat kaget dengan kata-kata Suminten. Aruna mematung sambil meremas jari-jemarinya, perkataan ibunya seketika membuatnya terguncang.


"Wahyu?" Mastia mengenali lelaki yang ada di depannya.


"Wila?" Wahyu syok melihat wanita itu.


Wila menoleh pada Sibki. "Maaf Suli ... pernikahan ini batal, bapaknya Aruna adalah bapak kandungmu."


"Dia Suli? Sulihat? anak lelakiku?" Wahyu memandang Sibki.


Aruna semakin syok, mendengar kalau Sibki kakak kandungnya, kesedihan menyeruak di hatinya saat dia mengingat kejadian saat ia berciuman dengan Sibki. Hatinya hancur, mengetahui bemesraan dengan kakak kandung sendiri. Air mata Aruna tumpah.


"Akkkkk!!!" Teriak Aruna histeris.


Aruna langsung pergi dari Mushalla, hatinya sangat sakit, mengetahui Sibki kakak kandungnya. Dia berlari secepat yang dia mampu menuju kearah sungai.


Semua orang kaget dengan teriakan Aruna.


Danu yang melihat Aruna berlari segera mengejarnya.


Baru beberapa saat Danu bertemu Aruna, Danu langsung melupakan keberadaannya. Melihat Danu mengejar Aruna, Rasda sangat khawatir kalau akhirnya Danu akan menikahi Aruna, karena pernikahan Aruna saat ini batal.


Di sisi yang lain ....


"Maaf ... saya permisi," pamit Aan. Aan berjalan Santai keluar dari mushalla. Saat bertemu orang lain di luar Aan langsung bertanya.


"Sepertinya ke arah sungai tadi," jawab orang yang melihat Aruna berlari.


Orang orang di mushalla mengangkat Suminten ke tempat yang lebih aman, mereka merebahkan Suminten dengan posisi yang benar.


"Maaf hadirin sekalian pernikahan hari ini batal, Ilyas ... tolong bagikan nasi kotaknya sekarang," pinta Ali.


Nurul Fatma duduk di sisi Suminten, sambil mengipasi wanita yang pingsan itu.


Sedang yang lain semuanya diam. Syok, tegang dan bingung dengan masalah ini.


"Setelah bu Sumi sadar, tolong kita semua jangan ada yang pergi, kita semua kumpul di kantor saya, yang biasa saya pakai sebagai tempat Rukyah," pinta Ali.


***


Aruna berteriak di pinggir sungai sekuat yang dia mampu. Rasanya dia ingin terjun saja ke arus sungai yang deras ini. Namun dia takut, bunuh diri itu Dosa besar. Aruna terus berteriak sekerasnya, melepas rasa sakit di hatinya. Mengingat dia berciuman dengan kakaknya sendiri, sangat perih dan sesak hatinya. lelah berteriak Aruna duduk di bebatuan sungai melepas tangisnya. Dan teringat Arus sungai inilah yang membawanya kemari dan hidup di majelis ini.


"Hei Aruna ... ingat pertemuan pertama kita?" Tanya Danu yang melihat Aruna terpaku di bebatuan sungai. Aruna menghapus air matanya melihat Danu mendekat padanya.


Aan melihat seorang laki-laki yang mendekati Aruna, dia menahan langkahnya. dan lebih memilih melihat semuanya dari kejauhan.


"Aruna ... kakak masih cinta sama kamu, saat kamu memutuskan menikah dengan orang kota itu, aku sangat hancur. Kakak tahu kau tidak mencintai orang kota itu, kamu hanya sakit hati karena salah faham padaku, yang kamu lihat malam itu sepupuku," lirih Danu.


Aruna diam, dia tidak menanggapi kata-kata Danu. Matanya fokus memandang kearah sungai.


"Aruna ... kakak selalu mencintai kamu, dari dulu hingga kini, kakak ingin mengulangi lagi hubungan kita yang tidak pernah ber akhir tanpa kejelasan ini," ucap Danu.


"Maaf kak Danu ... itu masa lalu. Aku rasa, saat aku menikah dulu, hubungan kita sudah ber akhir. Kita melangkah kedepan ya kak, aku ingin melangkah kedepan dan melupakan semua masa lalu, aku berharap masa lalu ku sebagi pelajaran untuk langkahku kedepan nanti." jawab Aruna.


"Iya ... itu masa lalu, tapi kakak ingin menjadi bagian masa depanmu Aruna."


"Maaf kak ... aku tidak bisa ... kita beda aqidah. Walaupun tidak ada larangan Negara, tapi maaf aku ingin orang yang membimbingku dan membantuku memperdalam tentang agama yang baru aku peluk satu tahun terakhir ini," jawab Aruna.


"Tidak masalah ... kakak juga akan mengucap syahadat secepatnya, kita akan mendalami agama ini sama-sama," ucap Danu.


"Silakan kakak masuk Islam, tapi Maaf aku tidak akan menerima kakak untuk menjadi suamiku. Karena kakak masuk islam hanya karena mencintaiku, hanya karena ingin menikah dengan ku, maaf, aku ingin kakak masuk islam itu murni karena kakak mencintai Allah dan agama ini, serta para nabi dan rasulnya. Kalau kakak cuma muallaf karena ingin menikah dengan ku. Cinta kakak pada agama ini palsu. Jika cinta kakak pada Tuhan saja palsu, bagaimana aku yakin kakak tulus mencintaiku?"


"Oh ya ... lagian kakak juga akan menikahi Rasda. Teruskanlah rencana kalian. Aku ini hanya sekelumit dari penggalan bagian kisah masa lalu kakak," sambung Aruna.


Danu bungkam, dia bingung menjawab apa lagi. Memang benar dia tidak ada niat sama sekali untuk jadi muallaf, dia hanya ingin menikahi Aruna saja. Dia pergi dan meninggalkan Aruna di sungai.


*Bersambung......


*


*


*********


😚😚😚😚😚😚😚


( kagum Author sama komen kakak kakak pembaca yang tepat memperkirakan hal ini.


berarti kakak kakak ingat dengan eps sebelum ini.


Author udah kasih kisi kisi nya bukan sebelum eps ini.


1 \= *kak Nurul... mereka orang tua kandung ku...


Glegg' Suminten dan wahyu saling pandang.


2\= ketika Wahyu teringat masa lalu tentang perjodohan nya*.


Makasih semua...


Author sangat bahagia dengan dukungan kalian semua.)