Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 97. Saman


Sibki menunggui Saman di rumah sakit.


"Saman… kamu yakin melindungi Aruna hanya karena semata ingin melindunginya?"


"Eh… kamu bilang Aruna adik kamu, tapi kenapa aku baru tahu?" Saman merubah topik pembicaraan.


"Saman… jawab pertanyaan ku," lirih Sibki.


"Aku benar-benar penasaran Sibki…" lirih Saman.


"Kami tahu kalau kami bersaudara saat aku selesai mengucap ijab kabul,"


"Apa?"


"Kamu ingat saat Aruna mampir di toko kamu membeli bunga, saat itu dia akan menikah denganku, maaf waktu itu aku tidak menceritakan kalau aku calon suami Aruna."


"Tapi… kenapa Aruna menikah dengan Aan, waktu menerima undangan resepsi aku sungguh tidak menyangka kalau Aan yang menikahi Aruna."


"Aan sudah lama menyukai Aruna, karena pernikahan aku dan Aruna batal karena kami sedarah, maka sore itu Aan dan Aruna yang menikah, hei… aku sudah jawab semua pertanyaan kamu, sekarang kamu jawab pertanyaan aku," seru Sibki.


"Aku… sudahlah Sibki jangan mancing," seru Saman.


"Apa kamu masih mencintai Aruna?"


"Bicara apa kamu,"


"Saman…"


"Sibki… ku mohon aku hanya tidak rela Aruna bersedih apalagi terluka, kamu tahu saat aku melihat Aan waktu acara aqiqah berlangsung, rasanya ingin ku tinju dia habis-habisan menyakiti wanita special seperti Aruna."


"Hem… kamu masih cinta ternyata,"


"Tapi mencintai bukan harus memiliki, aku mencintai tapi aku lebih bahagia melihat orang yang aku cinta bahagia walau tidak bersamaku." lirih Saman.


***


Di rumah Aan…


"Abah… tolong jangan pergi… beri Aan kesempatan," Aan memohon.


"Maaf nak Aan kamu sangat menyakiti kami semua," Wahyu dan Suminten memasukan baju-baju mereka. Selesai di kamar mereka, kini Wahyu dan Suminten mengambil keperluan Aruna dan si kembar tiga. Selesai mereka segera pergi dari rumah Aan.


Aan menatap nanar mobil yang membawa Suminten dan Wahyu meninggalkan halaman rumahnya.


Aruna, Suminten dan Wahyu menetap di desa tempat Jojo tinggal. Selama siang hari Mastia berada di rumah Wahyu dia membantu Aruna dan Suminten mengurus bayi si kembar tiga. 2 bulan sudah Aruna pergi dari hidup Aan. Aruna duduk melamun di teras rumahnya.


"Assalamu alaikum," sapa seseorang.


"Wa alaikum salam, kak Saman kaka Sibki…" seru Aruna.


Sibki dan Saman tersenyum.


"Ayo duduk kak…" seru Aruna.


"Bagaimana keadaan kalian semua?" Tanya Saman.


"Alhamdulillah baik," jawab Aruna.


"Aruna… maaf aku bukan ingin mencampuri urusan rumah tanggamu, aku hanya tidak ingin kamu menyesal, Aruna… tolong beri Aan kesempatan kedua," lirih Saman.


"Iya Aruna… aku dan Saman berunding untuk mendamaikan kalian, mungkin saja kemaren Aan khilaf karena dia lama tenggelam dalam duka kehilangan Maya.


"Umak setuju… beri Aan kesempatan kedua, kasian ketiga bayi ini tumbuh tanpa sosok ayah," lirih Suminten.


"Tapi…" Aruna bingung.


"Beri dia kesempatan kedua, jka dia memang menginginkan wanita itu setidaknya kamu meninggalkan dia dengan jalan yang tepat," seru Mastia.


"Temui Aan hari ini, selamatkan rumah tangga kalian," seru Saman.


Aruna memandangi wajah ibu dan umaknya. Suminten dan Mastia mengangguk.


"Pergilah… tidak mengapa hari ini di kembar mimi susu formula dulu,"


Aruna mantap menemui Aan, bagaimanapun dia masih sangat mencintai Aan. Dia berangkat bersama Saman dan Sibki. Sedang ketiga bayinya di jaga Suminten dan Mastia.


Sepanjang perjalanan Sibki mengusili Saman, berulang kali dia merubah posisisi kaca spion dalam mobil agar menangkap bayangan Aruna. Saman tidak tenang melita Aruna terus menerus dari spion. Dia merubah kembali arahnya. Entah berapa kali mereka saling rubah arah spion itu hingga spion patah.


"Tu kan… patah… iseng banget kamu Sibki," lirih Saman.


Sibki terus tertawa melihat wajah Saman yang menurutnya aneh. Saman menepikan mobilnya.


"Whoyy ngabek kamu???" Seru Sibki.


"Enggak… kamu bawa aku capek," seru Saman.


Mereka bertukar posisi, kini Sibki yang menyetir mobil Saman. Beberapa jam dalam perjalanan akhirnya mereka mulai memasuki kota tempat mereka tinggal sebelumnya.


"Lho kok kesini?" Aruna heran.


"Semenjak kalian pergi Aan kembali kerumah lamanya," jawab Sibki.


Aruna ingat dia sekali kesini saat pulang dari pasar bersama Aan dulu. Setelah sampai rumah besar Aan Sibki memakirkan mobilnya, mereka berjalan ber iringan menju rumah Aan. Mereka semakin semangat karena pintu rumah Aan sudah terbuka lebar.


Di dalam rumah Aan.


"Kenapa kamu kemari?" Aan sangat kesal melihat kedatangan Laily.


Aan mendekati Laily dia merebut surat itu dan melemparnyake lantai.


"Aku tidak melakukan apa-apa padamu, enak saja minta tanggung jawab ke aku." Aan mencengkram wajah Laily kesal. Memandang wajah Laily penuh kebencian hingga dia tidak menyadari ada yang datang.


Aruna, Saman dan Sibki mematung melihat Aan memegang wajah Laily. Mata Aruna menyisiri ruangan rumah Aan. Hatinya sangat sakit melihat foto maya memenuhi dinding rumah yang Aan tinggali. Foto yang berukuran besar pernikahan Maya dan Aan juga masih tergantung rapi si setiap sudur yang ada disana.


"Kak Aan benar-benar mencintai Maya?" Lirih Aruna.


Aan tersentak, dia langsung mendorong Laily, hingga Laily tersungkur di lantai.


"Aruna…?"


Sudahlah kak… jika kaka benar-benar mencintai Maya aku rela mundur, terimakasih atas cinta kaka selama ini," Aruna menghapus air matanya.


Sibki memungut kertas yang ada di lantai dan membacanya.


"Apa? Hamil???"


Sibki memberikan kertas itu pada Saman, setelah Saman selesai membaca dia memberikan pada Aruna.


"Alhamdulillah kaka punya ganti Rayan, Dena dan Deli, selamat kak,"


"Aruna… aku di jebak!!!"


"Apapun alasan kaka, jangan korbankan anak Laily, demi kebahagiaan anak kalian surat cerai kita akan aku urus," Aruna meninggalkan rumah Aan. Hatinya sangat perih berlama-lama di dalam sana.


"Andai aku tahu kamu menyakiti Aruna seperti ini, tidak akan pernah aku biarkan kamu menikahi dia," ucap Sibki menahan amarahnya.


"Aku kecewa Aan… kami kesini untuk mendamaikan kamu dengan Aruna, tapi…" Saman memandangi seisi rumah Aan yang penuh foto-foto Maya dengan pandangan kekecewaan.


"Astaghfirullah…" Aan baru menyadari kalau Aruna melihat semua foto-foto Maya yang masih terpajang.


"Kak Saman… bisa kita ke majelis? Aku ingin pamit dengan kak Nurul dan umi Fatma," pinta Aruna.


"Tentu saja Aruna," jawab Saman. Saman segera melajukan mobilnya menuju majelis taklim Mahabbah.


***


"Assalamu alaikum umi…" seru Aruna.


"Wa alaikum salam…masya Allah Aruna…" Fatma memeluk erat Aruna.


"Kak Nurul sudah lahiran?"


Fatma mengangguk,


"Ayo masuk… temui Nurul, dia sangat rindu kamu," seru Fatma.


Aruna masuk ke dalam rumah, sedang Sibki dan Saman menemui Ali di kantornya yang tidak jauh dari mushalla.


"Assalamu alaikum kak Nurul,"


"Wa alaikum salam, Aruna…"


Nurul dan Aruna berpelukan.


"Wah… gantengnya anak kak Nurul," seru Aruna.


"Darimana kamu tahu kalau dia cowok?"


"Wajahnya seribu persen punya ustadz Ali," seru Aruna.


Nurul manyun karena semua orang mengatakan anaknya mirip Ali, tidak ada dari dirinya turut andil di rupa anaknya.


"Boleh gendong?"


"Tentu boleh sayang…" seru Fatma.


Aruna menggendong bayi Nurul sambil mencium halus wajah bayi itu.


"Wah…maaf kak Nurul," lirih Aruna.


"Kenapa?"


"Maaf aku gak sengaja cium foto copy nya ustadz Ali," seru Aruna.


"Nggak apa-apa… anaknya boleh... abinya jangan," goda umi Fatma.


Setelah merasa cukup bicara, Aruna pamit pada Nurul dan umi Fatma.


"Maafin Aruna ya umi… kak Nurul… aku pamit,"


"Aruna… apa tidak ada cara lain selain bercerai? Allah dangat benci perceraian Aruna," lirih umi Fatma.


"Iya Aruna... tolong pikirkan lagi," lirih Nurul


"Maaf umi… kak Nurul... tadinya Aruna ingin memulai lagi dan memberi kesepatan buat kak Aan, tapi cinta kak Aan sangat besar buat wanita itu, rumah kak Aan yang di komplek saja masih di penuhi foto-foto Maya, kak Aan menghidupkan Maya pada wanita lain. Aruna ihklas mundur Umi… wanita itu juga kini tengah hamil,"


"Ya Allah… kenapa ujian rumah tangga kamu sebesar ini…" Fatma memeluk Aruna.


"Semoga Aruna bisa lebih baik umi… Aan laki-laki yang baik, hanya wanita yang terbaik seperti Maya atau seperti kak Nurul yang tepat untuk ka Aan, apalah aku ini umi…" lirih Aruna.


Setelah mobil Saman datang mereka langsung meninggalkan rumah umi Fatma dan kembali kerumah tinggal mereka sekarang.