
Salha sangat kesal, karena minyak wangi pemberian Qiweh dia harus malu didepan Ali dan Aan.
"Jangankan buat Aan mabuk cinta padaku, ini malah membuat Aan mabuk karena mual dan pusing dengan aroma nya. Arrggtttt!!!" Salha geram sendiri.
"Harusnya aku sadar! Aku saja mual mencium aroma minyak wangi dari mbah Qiweh ini," Salha terus mengomel sendiri.
Diciumnya kerudungnya tidak bau minyak wangi itu. Karena dia hanya mengoles minyak wangi tadi di bagian bawah bajunya. Salha hanya mengganti bajunya saja. Setelah ganti baju, Salha segera berlari keluar.
"Saya sudah siap," seru Salha.
Ali dan Aan bangkit dari tempat duduknya.
"Ustadz ... saya pamit, mohon do'a nya," ucap Aan lirih.
"Iya ... hati-hati ... dòa ku selalu bersama kalian," jawab Ali.
Salha dan Aan pamit. Mereka menyusuri jalanan menuju kontrakkan Aan, karena mobil Aan di kontrakannya. Momen ini sangat jarang bisa Salha alami, berjalan bersama laki-laki yang selama ini dia incar. Salha berusaha menahan senyumannya.
***
Setelah kepergian Salha, Ali memanggil Ilyas dan Safta, Safta pengganti Fuad. Untuk membantunya membentang tali yang disiapkannya untuk mengelilingi rumah Nurul.
Nurul merasa sudah fit kembali, dia keluar kamar, kerena merasa aneh, ada bayang-bayang orang dari jendela kamarnya, setelah dia sampai di luar, ternyata Ilyas di tangga membentang tali dan Safta membantu memegang tangga, Ali melumbar tali agar Ilyas mudah memaku di bagian dinding atas rumahnya.
"Ada apa A'a?" Tanya Nurul.
"Oh ... ini? Seharusnya Aa membentang ini jauh-jauh hari, harusnya Aa sadar, bahaya pasti mengintai bidadari syorga Aa, karena pekerjaan Aa ini," terang Ali.
Nurul tersenyum.
"Apa maksud Tali itu Aa?" Tanya Nurul.
"Itu tali ijuk! Tali yang dipintal dari ijuk yang di hasilkan dari pohon aren, kata orang, apa saja yang melewati tali itu, kekuatan sihirnya hilang, tali itu sudah Aaa siram dengan air do'a dan lainnya," jawab Ali.
"Tali ijuk?" Ucap Nurul bingung.
"Sudah sana ... kamu istirahat, Aa mau lanjut," seru Ali.
Ali selesai membentang tali ijuk ke sekeliling rumah Nurul. Dengan bantuan Ilyas dan Safta.
***
Salha dan Aan sama sama diam tanpa saling bicara. Aan fokos mengemudi, sesekali melihat kiri kanan untuk mencari Aruna. Andai ustadz Ali tidak meminta, malas sekali dia dekat dekat Salha. Apalagi jalan bersama seperti ini. Aan berusaha santai walau hatinya sungguh tidak senang bersama Salha.
"Emang kak Aan ngga suka minyak wangi?" Tanya Salha memecah kebisuan mereka.
"Suka ... tapi kamu nggak pake minyak wangi aja udah wangi," seru Aan. Aan berharap pujian ini cukup mengganti hinaan pada minyak wangi Salha sewaktu di teras Rumah Ali tadi.
Salha semakin bahagia.
"Salha ... kita cari resto yang dekat mesjid, biar kita sholat isya dulu dan makan malam, aku lapar," lirih Aan.
Salha mengangguk.
Mereka sholat isya di mesjid yang mereka jumpai, dan segera makan malam di restoran terdekat.
"Akhirnya ... makan malam di restoran bersama kak Aan, yeaay ...." Batin Salha.
Selama makan malam Salha berusaha bersikap manis pada Aan, namun Aan tidak perduli, dia terus memasukan makan yang ada di piringnya tanpa memeperdulikan Salha yang terus berusaha mencari perhatiannya.
*
Di rumah Nurul.
Setelah sholat isya, Ali, Nurul dan Fatma masuk ke kamar Salha. Susah payah mereka mencari-cari benda aneh, Akhirnya mereka menemukan boneka santet di bawah tempat tidur Salha.
"Lihat umi ... wanita yang selama ini kalian limpahi kasih sayang tega berbuat keji pada wanita yang menolongnya, aku yakin Salha ingin kita mengusir Aruna, dengan memfitnah Aruna dan membuat kita benci pada Aruna," ucap Ali.
"Jadi ... jadi Salha yang tadi? " Nurul tidak mampu meneruskan ucapannya. Nurul menangis dipelukan Fatma. Menahan luapan kekecewaannya. Orang yang selama ini dia anggap adik setega ini padanya.
"Yang sabar ya ... biar Salha keluar dari rumah ini sendiri, malam ini aku minta Aan nginep di sini, biar dia tidur di kamar Aruna nanti, ku harap malam ini rahasia kematian Maya terbongkar," kata Ali. Sambil mengusap lembut punggung Nurul.
Mereka semua keluar dari kamar Salha. Lalu menukar boneka santet yang di kamar Salha dengan boneka santet kosong yang di temukan di kamar Aruna. Khawatir Salha akan menggunakan boneka itu lagi. Ali segera memusnahkan isi dari boneka itu dan segera membakarnya, agar tidak ada korban lagi.
Nurul dan Umi Fatma langsung istirahat setelah selesai makan malam, sedang Ali menunggu kedatangan Aan dan Salha.