
Setelah Danu pergi Aruna kembali memandangi arus sungai. Suara gemuruh Arus sungai membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Assalamu alaikum," sapa seseorang.
Aruna membalikan wajahnya ke arah suara itu.
"Wa alaikum salam, kak Aan," lirih Aruna
"Kau tahu Aruna... di sini tempat favorite aku untuk melepas kesedihan dan kekecewaan ku," lirih Aan, dia juga duduk di batu di samping Aruna. Namun wajah Aan memandang aliran sungai.
"Apa perasaan kak Aan saat tahu Sahabat Maya yang tega membunuhnya?" Tanya Aruna.
"Sedih, kecewa, marah, apalagi? pasti nya itu yang aku rasa. Namun mendendam pada Salha dan membalas perbuatan Salha, tidak membuat Maya hidup kembali," jawab Aan.
"Apa juga yang akan kau lakukan pada orang yang tega menitipkan guna guna pada dirimu?"
"Tidak ada ... aku hanya ingin dia membersihkan nama keluarga kami di desa, sangat sakit mengingat bagaimana warga menghakimi diriku dulu." jawab Aruna.
Aan dan Aruna sama sama memandang ke arah sungai.
"Ini cincin Maya," lirih Aan, memperlihatkan cincin nikah Maya yang dia pegang.
"Waw bagus," jawab Aruna santai, walau hanya melirik sekilas cincin yang Aan perlihatkan.
"Mau kah kau mengisi posisi Maya yang kosong?" Tanya Aan.
Aruna mengernyitkan Dahi nya dan menoleh ke arah Aan, dia heran juga tidak percaya dengan kata kata Aan barusan.
"Aruna ... apa kamu tidak kasian dengan kedua orang tuamu yang sedih dengan peristiwa barusan? Hibur mereka dengan kabar bahagia," lirih Aan, dia juga menoleh ke arah Aruna. Pandangan mereka bertemu.
"Aku tidak ingin laki-laki sebaik kak Aan mati karena ku," jawab Aruna lirih, dia mengalihkan pandangannya lagi ke arah sungai.
"Aruna ... Jodoh ... Rezeki ... Maut ... semua di tangan Allah, keputusan Allah. Jangan merasa kamu yang merenggut nyawa orang Aruna," lirih Aan.
"Maaf ...." lirih Aruna namun tidak merubah arah pandangannya.
"Maaf mu tidak akan mengobati rasa sedih hati kedua orang tuamu. Kamu taun... kalau mereka sangat menginginkan kamu menikah," lirih Aan
Aruna diam mematung dan kembali memandang Aan.
"Aruna... Kata orang orang kota sih... Aruna... Will you marry me?" Tanya Aan.
"Haa??" Aruna tidak mengerti dengan kata kata yang Aan ucap barusan.
"Ha? Apa jawaban kamu?"
"Yang tadi? Aku pernah dengar tapi tidak tahu maksudnya," jawab Aruna.
"Aruna ... semua orang menunggu kamu di kantor ustadz Ali," kata Ilyas yang datang tiba tiba, nafasnya ngos-ngosan karena habis berlari.
"Ku tunggu jawabanmu setelah perundingan nanti," seru Aan bangkit dan meninggalkan Aruna dan Ilyas lebih dulu.
"Wa alaikum salam," seru Aruna.
Aan menghentikan langkahnya, namun tidak berpaling kembali.
"Assalamu alaikum," lirih Aan
"Wa alaikum salam," jawab Ilyas dan Aruna bersamaan menjawab salam Aan.
***
Kini semua orang berada berkumpul di kantor Ali. Semua duduk leseh, menanti jawaban atas kejadian barusan.
Aruna duduk di samping Suminten, dia bersandar pada tubuh Suminten. Hatinya berkecamuk, dia sungguh tidak tahu harus apa. Parahnya lagi dia dan Sibki pernah bermesraan. Kenangan ini sungguh menyesak kan batin Aruna.
Andai Sibki orang lain, mungkin saja hati Aruna tidak sesakit ini. Dia sangat menyesali perbuatan nya. Hanya sesak yang Aruna rasa, belum lagi permasalahan baru yang muncul ini.
"Maafkan saya mas Wahyu, dulu saya menjebak Minten dan mas agar kalian di nikahkan warga, dan saya bebas dari ikatan perkawinan kita," lirih Mastia.
"Kamu tidak harus menjebak kami kumpul kebo kalau hanya ingin melepas ikatan perkawinan kita, aku akan senang hati melepas mu jika kamu tidak bahagia dengan ku," jawab Wahyu.
"Maaf, waktu itu Mira masih 4 bulan, Minten wanita mandul, aku yakin dia akan menyayangi Aruna lebih dari diri nya sendiri, sebab itu aku memberikan kalian minuman yang memabukan, hingga kalian tertangkap warga tengah berhubungan badan, jika kalian menikah, maka ada yang akan mengurus Mira yang masih bayi," lirih Mastia.
Aruna menatap sayu wajah Suminten. Wanita yang selama ini mencurahkan semua kasih sayang pada nya yang melebihi ibu yang melahirkan nya. Bahkan sangat menyayangi dirinya, padahal dia dijebak oleh ibu dari anak yang dia sayangi ini. Aruna memeluk Suminten erat.
"Kamu benar, Suminten memang sangat menyayangi Mira, tapi kami memanggil nya Aruna." lirih Wahyu.
"Jadib... bapak bukan ...." lirih Sibki.
"Maaf Suli, ibumu tidak salah ... bapak yang salah ... bapak sangat terpikat oleh ibumu, ibumu muda seperti Aruna. Bapak selalu menggodanya dengan emas dan lainnya, hingga ibumu mau pergi bersama bapak dari desa itu. Bapak sudah tiga kali menikah sebelumnya, tapi tidak punya anak, jadi bapak meminta ibumu membawamu juga untuk pergi dari desa itu, Andai Aruna lebih besar bukan bayi, bapak juga akan membawanya, perjalan kami sangat jauh Suli, tidak mungkin membawa bayi," terang Jojo.
"Ibu ... ibu jahat!! Ibu tega misahin Suli sama saudari Suli hanya karena harta bapak," lirih Suli alias Sibki.
"Boleh kah aku memeluk mu Suli?" Tanya Wahyu.
Suli langsung memeluk Wahyu. Mereka sama sama menangis. Anak yang dibawa lari istri nya dulu sudah besar.
"Maafin Abah ... andai abah mampu memberikan apa yang ibu kamu mau, kita tidak akan terpisah," lirih Wahyu.
"Maafin Abah mak ... umak hidup miskin sampai setua ini sama Abah ...." lirih Wahyu, dia melepaskan pelukan nya pada Sibki, dan berjalan mendekati Suminten, lalu menggenggam erat tangan Suminten
"Jangan bah ... umak bahagia hidup sama abah ... abah lelaki yang hebat!!!. Andai Wila tidak menjebak umak ... mungkin sampai saat ini umak akan jadi janda tua yang sebatang kara, tanpa suami tanpa anak tanpa keluarga," lirih Suminten.
"Terimankasih Wila ... berkat kamu, aku bisa menjalani hidupku sebagai ibu dan sebagai istri," lirih Suminten
"Maaf ... boleh saya bicara?" Tanya Ali.
"Silakan Ustadz," ucap semua nya.
"Jadi Aruna dan Sibki kaka adek?" Tanya Ali memperjelas.
Suminten, Wahyu, dan Mastia mengangguk.
"Oh ... baiklahn... kalau begitu pernikahan ini batal," lirih Ali
Semua diam.
الله اكبر الله اكبر
الله اكبر الله اكبر
Suara Adzan menghentikan perundingan mereka.
"Udah waktu Dzuhur, Ayo kita Dzuhur dulu," lirih Ali.
"Aruna ... mau kah kau memanggilku ibu," lirih Wila mencegat Aruna yang berjalan sambil memeluk Suminten
"Ibu? Apa pantas? Anda menjebak wanita ini demi ego anda, dan meninggalkan bayi serta suami anda, juga memisahan ayah dari anak lelakinya, memisahkan kakak dari adiknya. Andai hari ini anda mati? abah mati? siapa yang akan mencegah pernikahan sedarah ini?" Tanya Aruna.
Aruna dan Suminten berjalan melewati Wila Mastia.
"Hei Aruna! Yang melahirkan kamu itu aku! Bukan perempuan mandul itu!!" teriak Mastia mengeluarkan sifat Aslinya.
Aruna melepaskan pelukannya pada Suminten, dan berjalan menuju Mastia. Mastia tersenyum. Melihat Aruna berjalan ke arahnya dan meninggalkan Suminten.
"Terima kasih karena telah berjuang hamil dan melahirkan saya, dan terimakasih juga telah meninggalkan saya," bisik Aruna. Aruna berbalik kembali ke arah Suminten dan meninggalkan Mastia.
Mastia tersungkur duduk di lantai melihat reaksi Aruna pada nya.