Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 133 Extra Part Sibki Gadis Nyong-nyong


Aruna kembali melanjutkan pekerjaan Aan, yang Aan serahkan sementara padanya, di temani Nesya dan Tria.


"Kemaren si gadis nyong-nyong kasian banget, di bicarain seluruh karyawan kantor," ucap Nesya.


"Iya, dia rela basah kuyup demi menutupi bau melati nyong-nyongnya," Tria tertawa terbahak-bahak.membayangkan kejadian Elna.


"Gadis nyong-nyong? Siapa?" Aruna heran.


"Ya ampun bu, gadis yang kemaren bikin Daniel mabok nyong-nyong," ucap Nesya.


"Elna?" Aruna memastikan.


"Siapa lagi bu yang kemaren pagi ngotot pengen ketemu pak A--" Nesya tidak berani melanjutkan kata-katanya.


"Kamu benar Nesya, kok aku baru ngeh ya, kalau sasaran itu minyak suamiku," Aruna tampak berpikir.


"Kekuatan cinta akan mengalahkan semuanya bu, yakin," sela Tria.


"Itu pasti, apalagi jika cinta itu kepada sang pencipta, DIA LAH sebaik baik pelindung dan tempat berlindung," ucap Aruna.


"Aku mohon, kalian jangan cerita keluar kejadian kemaren, kasian Elna," pinta Aruna.


"Iya bu, itu kenangan yang terindah bagi saya, melihat Daniel hampir pingsan karena semua isi perutnya keluar," ucap Nesya.


"Kamu jahara!" (jahara ungkapan kata 'jahat' dalam canda'an) ucap Tria.


"Emang kamu enggak merasa lucu?" tanya Nesya.


"Iya sih," jawab Tria.


"Hei sudah," sela Aruna.


"Dua hari bersama ibu jadi makin sayang," rengek Nesya.


"Boleh peluk ibu?" ucap Tria.


"Sini peluk mumpung tidak ada bos kalian yang pelit itu," jawab Aruna.


"Peyukkk ibu …." seru Tria dan Nesya. Mereka bertiga berpelukan.


"Ekhh hemm!!" Suara batuk seseorang mengejutkan tiga wanita yang tengah berpelukan.


"Daniel? Ada apa?" tanya Aruna.


"Ada klien yang akan datang, ibu siap?"


"Jika kalian bersamaku dan membimbingku aku siap," jawab Aruna.


Mari bu ikut kami keruang meeting," pinta Daniel halus.


"Apa yang mesti di bawa?" Tanya Aruna.


"Kami sudah siapkan bu, mari," ucap Nesya Lirih.


Mereka semua berjalan ber iringan menuju ruangan yang di maksud Daniel. Sesampai di sana beberapa orang sudah menunggu di meja itu.


"Assalamu alaikum," sapa Aruna halus.


"Wa alaikum salam," jawab beberapa orang.


"Mohon maaf bapak-bapak semua, suami saya sedang melakukan perjalanan ke luar kota, jadi beberapa hari ini saya yang di tunjuk suami saya untuk melanjutkan sedikit tugasnya," ucap Aruna.


"Kami mengerti, bahkan kami sangat senang, kapan lagi kami bisa bertatap muka langsung dengan Nyonya Andika Tama," seru seseorang yang ada di ruangan itu.


"Mohon maaf semuanya, mari kita mulai," sela Daniel, Daniel memulai meeting tersebut, di bantu Nesya dan Tria, Aruna hanya menyimak sambil merekam semua yang mereka diskusikan di ponsel untuk menyampaikan pada Aan, karena apa yang dia simak hari ini, dia tidak dia mengerti.


***


Di ruangan bawah.


Elna mulai bekerja, namun dia harus sabar menanggapi tatapan dari para seniornya karena kejadian kemaren saat dia berjalan menyusuri lorong kantor dengan keadaan basah kuyup menjadi tontonan semua orang.


***


Di rumah Sibki.


Sibki, Sofyan, Tiar dan Mastia hanya duduk lesehan di lantai kamar Manda dan Sibki memandangi Manda yang masih tertidur sejak tadi malam.


"Apa yang bisa kita lakukakan," ringis Sibki.


"Entah, tidur Manda sangat menakutkan, tapi dia jaga dengan bersenandung tanpa henti itu juga lebih menakutkan," ucap Sofyan.


"Andai bisa bertukar tempat, biar aku yang menderita, aku tidak sanggup melihat penderitaan Manda," ringis Sibki.


"Sabar, kita semua merasakan hal yang sama, kita semua sayang dan cinta pada Manda," Sofyan menenangkan Sibki.


"Ibu …." ringis Manda pelan.


"Manda …." ucap Sibki, Tiar dan Mastia lembut.


"Ibu … aku lapar ...." rengek Manda.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Sibki.


"Soto ayam," jawab Manda polos,


"Biar aku cari, kamu makan sesuatu dulu menunggu kaka beli soto," ucap Sibki semangat.


Sibki berbalik terkejut melihat rona wajah Sofyan.


"Ada apa?" tanya Sibki berbisik.


"Apa karena yang mengguna-guna Manda ketemu sehingga Manda sadar?" ucap Sofyan.


"Apa maksud kamu?" tanya Sibki.


"Ingat Ifin?" tanya Sofyan balik.


"Ingat, terakhir aku bertemu dia didepan rumah kamu saat aku menengok Manda datang bersama Elna," jawab Sibki.


"Kapan soto ku datang," ringis Manda yang tidak sabar karena melihat Sibki masih dikamar itu.


"Mari kita bicara sambil mencari pesanan Nyonya kita," seru Sibki.


Sibki dan Sofyan pamit membelikan pesanan Manda, kini Sibki dan Sofyan berada dalam mobil yang melaju di jalanan.


"Terakhir kamu bilang kamu bertemu Ifin tepat di halaman rumah kami, apa yang dia lakukan saat itu?" Tanya Sofyan.


"Tidak ada, dia hanya memegang sesuatu yang berbungkus kantong plastik warna hitam dan memandang ke rumahmu, ya waktu itu juga aku sapa, tapi dia lari."


"Aku curiga Ifin yang melakukan semua ini, dia pernah ingin mengguna-guna Manda, tapi dia datang ketempat yang salah, dukun yang dia datangi adalah ayah dari wanita yang ingin dia guna-guna," ucap Sofyan.


"Apa?" Sibki terkejut. Tanpa sadar dia menghentikan laju mobilnya tiba-tiba, "settsss!!!"


"Terkejut boleh, tapi jangan ngerem mendadak juga kali!" Sofyan protes. Dia kaget karena Sibki yang menghentikan mobil tiba-tiba.


"Maaf, " ucap Sibki kembali melajukan mobilnya lagi.


"Aku lanjutkan ceritaku, setelah hari itu Ifin dan keluarganya tidak lagi tinggal di desa kami," ucap Sofyan.


Mobil Sibki berhenti, namun tidak lagi mendadak.


"Apa? Kaget lagi?" tanya Sofyan.


"Tidak, di sini aku biasa beli soto, menurutku enak," jawab Sibki.


"Owhh," ucap Sofyan.


Sofyan menunggu di mobil Sibki, sedang Sibki turun mengantre membeli soto pesanan Manda.


Setelah yang dia beli selesai Sibki kembali ke mobil menenteng kantong yang berisi bungkusan soto ayam.


"Waw, bau nya wangi sekali," seru Sofyan menyambut kantong yang Sibki berikan padanya.


"Iya sini enak, itu aku beli banyak biar kita makan sama-sama dengan Manda, sebulan ini aku tidak karuan makan, lapar sih, tapi aku tidak bisa makan," ucap Sibki.


"Sama," jawab Sofyan.


Sibki perlahan melajukan mobilnya meninggalkan area warung tersebut untuk kembali pulang kerumah membawa pesanan Manda.


Dalam perjalanan kembali.


"Terus apa rencanamu pada Ifin? Bukankah kalau kita menebus, semua akan patah?"


"Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya, kenapa dia setega itu pada adikku," jawab Sofyan.


"Jangan gegabah, walaupun Ifin pelakunya kita jangan balas dzalim pada dia, sifat dendam hanya memeperburuk keadaan hati kamu Sof, apa gunanya pelajaran dan didikan ustadz Ali pada kita semua jika kita masih suka bersahabat dengan sifat-sifat tercela," ucap Sibki.


Sofyan termenung mendalami ucapan Sibki.


"Tapi kenapa menyakiti wanita yang dia cinta?" Tanya Sofyan.


"Cinta itu bisa penyembuh, namun cinta juga bisa jadi racun," ucap Sibki.


"Aku akan berusaha menahan amarahku pada Ifin jika aku bertemu dengannya."


"Silahkan bertemu, tapi jangan menyerang, nanti kamu malah menemani bapak lagi di penjara," sela Sibki.


"Akan aku usahakan."


Sibki fokus meneruskan perjalanan pulang mereka.