
Di Restoran Ananda.
"Hei ayo cepat! cepat! cepat!!! kerja! kerja! kerja!!!angkat itu!!! hei.. itu kesana!!! kerja yang cepat anak anak!!!!" Seru pemilik Restoran pak Yasir.
"Hei... cepat semua nya..." teriak Yasir
"Pak... semuanya sudah siap," kata salah satu pelayan.
"Semua box makanan sudah?" Tanya Yasir
"Sudah pak!!" jawab pelayan.
"Kalau sudah sana meluncur!!! aku mau Restoran kita yang datang lebih dulu, agar pak Andika ber investasi di restoran kita," seru Yasir.
Semua pelayan yang bertugas berangkat.
"Hei Salha!!! kulihat hanya kamu pegawai ku yang paling Malas! andai aku tidak berhutang jasa pada Qiweh aku tidak akan pernah aku membawa mu kemari dan menerima mu menjadi pegawai ku," bentak Yasir.
"Maaf pak.." lirih Salha.
"Maaf! Maaf! hanya itu yang kamu bisa!!!" bentak Yasir.
"Pak... bapak bilang yang tadi semua pesanan pak Andika. Apa dia Andika Tama Shiddiq?" Tanya Salha.
"Iya... dia melangsungkan Akad Nikah hari ini," jawab Yasir.
"Oh.." lirih Salha
"Sana!!!, bereskan semuanya!!!" bentak Yasir.
Salha kembali membersihkan dapur yang berantakan.
"Aku yakin... pasti Aruna yang jadi Istri kak Aan. Awas kamu Aruna..! aku tidak akan biarin kamu hidup!!! kamu sudah menghalangi jalan ku menjadi nyonya besar Andika Tama," lirih hati Salha.
Salha terus membersihkan ruang dapur Restoran itu bersama pelayan kebersihan lainnya.
Di majelis Mahabbah...
Tenda sudah berdiri, bangku dan meja sudah tertata. Benar saja Restoran Ananda yang paling cepat datang dan menata makanan mereka lebih dulu di meja saji. Andika memberi tip yang besar buat Restoran Ananda karena datang lebih cepat. Dan memberikan kontrak kerja sama dengan Restoran Ananda selama 1 tahun.
Makanan Kotak yang bertutup plastik mika tertata rapi di meja. Perlahan Restoran lainnya juga datang, mereka juga menyusun makanan mereka di meja saji yang telah tersedia.
Adzan Ashar berkumandang. Semua orang berhenti dengan aktivitasnya dan melakukan Sholat Ashar berjamaah. Hanya beberapa orang saja yang menjaga Tenda.
Nurul, Aruna, Fatma, Suminten dan Mastia sholat Ashar masing masing di rumah Nurul. Setelah sholat selesai, datang dua orang perias pengantin yang dipanggil Andika untuk merias Aruna.
"Assalamu alaikum kaka..." sapa perias
"Wa alaikum salam," jawab mereka bersamaan
"Kaka... pengantin nya mana..?" Tanya perias
"ini.." lirih Nurul menggandeng Aruna.
"Masya Allah... cantik banget!!!, tantangan ini buat aku kakak..." seru perias.
"Ih... tantangan lah... kalo aku rias kaka malah makin jelek! itu artinya aku gagal!!!" Lirih si perias.
"Udah... cepat mainkan jari jemari mu... pesta ini cuma sebentar," seru Nurul.
"Siap kakak..." jawab perias.
Perias pengantin segera merias Aruna.
Sedang Asisten nya menyiapkan gaun pengantin yang akan dipakai Aruna. Dan menuliskan henna putih di tangan Aruna.
"Em... selesai... perdana aku kaka merias kilat gini," gerutu perias.
Aruna sudah memakai gaun pengantin nya.
"Em... cantik..!!! tapi emang cantik dari sono nya sih... foto dulu kakak... pegang bunga ini," pinta perias.
Aruna menurut dan berfose santai sesuai arahan si perias.
Suminten tidak dapat bersuara melihat Aruna dalam balutan gaun pengantin putih. Ia sungguh tidak menyangka akan melihat anak nya seperti ini.
"Minten... terimakasih... berkat kamu aku bisa melihat putriku yang aku tinggalkan. Maaf kan aku Minten..." lirih Mastia.
"Sudah... itu masa lalu... mari kita do'a kan kebahagiaan untuk anak anak kita di masa sekarang dan masa depan," lirih Suminten.
Aruna yang sudah cantik berjalan bersama Nurul dan umi Fatma yang meng apitnya. Suminten dan Mastia memegang baju Aruna yang panjang agar tidak kotor. Di belakang mereka, Rasda dan Nami ibu Danu mengikuti mereka. Semua kaum hawa menjadi penggiring pengantin
Sungguh kaget semua kaum Hawa penggiring pengantin. Melihat pemandangan sekitar Mushalla. Tenda tenda berdiri lengkap dengan kursi meja dan konsumsi. Para tamu undangan sekitar majelis juga sudah memenuhi tenda. Mata mereka tertuju pada Aruna yang sangat cantik.
Aan berdiri di pelataran mushalla, sedari tadi asyik memberi Arahan seketika langsung membisu. Mulutnya menganga melihat Aruna berjalan ke arah nya. Ia sungguh takjub melihat Aruna dengan polesan make up, dan mengenakan gaun pengantin. Dalam khayalan dia tidak menduga kalau Aruna yang di poles sedikit akan secantik ini.
Sibki tengah menikmati gorengan yang di cocol sambal terasi pedas, tersenyum melihat Aan membatu dengan mulut terbuka. Berulang kali Sibki berdeham tidak juga Aan sadar. Ide gila nya muncul seketika.
Perlahan Sibki mendekat ke Aan yang masih mematung itu. Sibki mencolek sambal dengan jari nya, hingga lekuk jari nya penuh dengan sambal terasi pedas.
"Plapp " Sibki memasukan jarinya yang penuh sambal ke mulut Aan yang betah terbuka.
"Hashhhhh !!!!!!"
Aan terkejut dengan rasa pedas di mulut nya, segera mencari tong sampah untuk mengeluarkan sesuatu yang terasa pedas menyengat dalam mulut nya. Sedang Sibki lari ke arah tempat Wudhu untuk mencuci tangan nya yang iseng, karena jari nya dia masukan ke dalam mulut Aan.
"Whoi!!! Sibki..!!!" teriak Aan.
"Sorry... aku mau sterilkan tangan aku dulu, aku takut kena Corona yang ada memenuhi mulut mu!!!" teriak Sibki.
"Sambal..!!!! pedas banget..!!!" lirih Aan terus meludahkan air liurnya yang sangat pedas karena sambal. Aan berlari ke arah tenda mengambil minuman. Dia sungguh tidak tahan dengan pedas, wajahnya memerah menahan rasa pedas yang menyengat di mulutnya.
"Kenapa Aan?" Tanya Ilyas.
"Sibki... aku lagi menikmati pemandangan indah dia main masukan sambal ke mulut aku... huh... hahhhh," lirih Aan tidak tahan dengan rasa pedas sambal di mulut nya.
Aruna dan para pengantarnya langsung memasuki Mushalla, bergabung dengan yang lain nya.