Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 65* Kodok


Salha sudah sampai di rumah tinggal Qiweh.


"Ada yang bisa bantu mbah Qiweh? Sepertinya mbah dalam bahaya!!! Tadi dia menyuruhku pergi secepat yang aku bisa," Teriak Salha dengan nafas tersengal dan masih ngos-ngosan karena habis berlari.


Para pelayan Qiweh dan kedua anaknya segera berlari menuju gubuk praktek Qiweh. Sesampainya di sana, mereka menemukan Qiweh yang sudah tidak bernyawa. Mereka membetulkan posisi mayat Qiweh yang tadinya tertelungkup.


"Kalian semua bebas, aku tidak mau meneruskan usaha ayahku," ucap Jarkan anak Qiweh, dia membebaskan semua orang yang selama ini menjadi pelayan Qiweh termasuk Salha.


"Terimakasih den Jarkan, izinkan kami membantumu, melakukan upacara duka dan menguburkan jasad Ayah anda," ucap salah satu pelayan.


Jarkan mengangguk.


Para pembantu Qiweh segera mengangkat jasad Qiweh menuju tepat tinggal nya, sedang Jarkan dan adik nya masih tinggal di tempat praktek Qiweh. Mereka berdua memusnahkan barang barang tuah dan bermacam lainnya, yang mendukung kerja perdukunan ayahnya.


Anak anak Qiweh tidak ingin mengikuti jejak ayah mereka. Mereka hanya ingin menyambung hidup seperti masyarakat biasa tidak bertalian dengan Alam gaib. Setelah upacara penguburan jasad Qiweh, Salha ikut salah satu orang yang ditolong Qiweh. Orang itu mau membawa Salha karena banyak hutang budi pada Qiweh.


Sedang anak-anak Qiweh dan istrinya memutuskan semua hubungan dengan hal hal yang berbau mistis. Hingga mereka menolak bantuan orang yang menolong Salha. Mereka menolak setiap bantuan dari orang yang pernah ditolong Qiweh.


***


Di majelis Mahabbah.


Semua orang menjadi tenang mendengar Aruna bersama Sibki, banyak pertanyaan tentang itu. Namun sekarang cukup tenang mengetahui Aruna baik baik saja. Aan mengurungkan niatnya yang tadinya akan ke kantor polisi melapotkan penculikan Aruna, karena sekarang sudah tahu keberadaan Aruna.


Perasaan semua tenang. Apalagi Suminten dan Wahyu yang jauh merasa lebih tenang, tadinya mereka sangat takut terpisah lagi dengan Aruna.


***


Di rumah Sibki.


Aruna disediakan kamar oleh Jojo. Aruna istirahat di kamar yang telah di sediakan. Namun ada yang kurang, hingga dia mencari Sibki. Terlihat Sibki sedang berdiri di dekat jendela memandang indah nya matahari tenggelam.


"Maaf kak Sibki ..." lirih Aruna.


Sibki membalikan badannya, dia menatap Aruna lembut.


"Ada apa?" Tanya Sibki.


"Kak ... boleh aku pinjem mukena, sarung dan handuk. Aku mau mandi dan meng qadha sholat, dari kemaren sore aku tidak Sholat" lirih Aruna.


"Ikuti aku ...." jawab Sibki tersenyum manis pada Aruna.


Sibki masuk menuju sebuah ruangan, di ruangan itu berjejer lemari. Sibki membuka salah satu lemari dan mengambil beberapa lipatan. Ternyata itu sarung, handuk, mukena dan sajadah. Juga satu lembar baju, milik ibu Sibki buat Aruna ganti baju. Sibki berjalan ke arah Aruna untuk menyerahkan yang barusan dia ambil.


Tepat di depan pintu seekor kodok melompat dan mendarat di kaki Aruna.


"Aakkkkkk ...!!! Kodok!!!!" Teriak Aruna histeris. Dia reflek meloncat kepelukan Sibki tanpa dia sadari.


Rupanya teriakan Aruna manjur, ibu Sibki yang koma tersadar dari komanya. Perlahan dia membuka matanya, dan berusaha mengumpulkan energi untuk melihat keadaan sekitar.


Jojo yang tadi santai di teras segera berlari kedalam rumah mendengar teriakan itu, dan berlari ke arah suara itu.


Jojo tersenyum melihat Aruna erat memeluk Sibki, dan menenggelamkan wajahnya di dada Sibki. Sedang Sibki berusaha menenangkan Aruna. Namun kodok itu cari gara-gara, sang kodok malah melompat ke belakang Aruna.


Melihat bapaknya tertawa terbahak melihat kelakuan Aruna. Sibki menarik nafas panjang dan menghembuskan kasar. Bukan menolong mengusir kodok yang nempel di belakang Aruna, malah menertawakan.


Ibu Sibki semakin bertenanga mendengar tawa gelak suaminya. Perlahan dia membangunkan tubuhnya, ingin berjalan namun kakinya masih lemas, akhirnya dia putuskan untuk ngesot menuju pintu. Semakin mendekati pintu semakin jelas tawa suaminya.


"Pak ... tolong usir kodok di belakang Aruna pak ... kasian ...." Pinta Sibki.


Jojo berjalan mendekati Aruna, menyingkirkan kodok yang betah menempel di tubuh Aruna. Namun saat menoleh ke pintu di sisinya dia terkejut melihat istrinya duduk leseh di lantai tepat di depan pintu kamarnya memandang ke arah Sibki. Wanita itu menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya sebagai isyarat diam kepada suami nya.


"Nah loh ... kodok nya loncat ke kepala Aruna loh ...." seru Jojo.


Membuat Aruna semakin histeris ketakutan.


"Bapak bohong!!! Kodoknya sudah hilang," seru Sibki.


Menyadari dia sedang memeluk Sibki, Aruna segera melepas pelukan nya.


"Maaf ...." lirih Aruna.


"Lah ... kok berhenti meluknya ... terusin saja," ucap ibu Sibki lemah.


Sibki terkejut melihat ibunya sadar, segera dia menyerahkan lipatan yang ada di tangannya ke Aruna dan berlari memeluk ibunya.


Sibki melepas tangis bahagianya memeluk sang ibu.


"Hei ... sudah ... bantu ibu ke tempat tidur ...." lirih ibu Sibki.


Jojo segera membantu Sibki mengangkat, kini ibu Sibki sudah berbaring di tepat tidur


"Suli bahagia banget lihat ibu sadar ...." lirih Sibki.


"Ibu terkejut dengar suara teriakan," sahut ibu Sibki.


"Sepertinya kita berhutang pada Aruna ... dia berhasil membangunkan ibumu dari tidur panjang nya," seru Jojo.


"Aruna ...?" Lirih ibu Sibki bertanya-tanya.


"Iya ... Aruna ... calon mantu kita," jawab Jojo.


"Tapi ibu ngesot karena dengar ketawa bapak, eh pas keluar, ternyata pemandangan indah tadi toh bikin bapak ketawa," lirih Ibu Sibki.


Jojo tertawa mengingat reaksi Aruna.


"Aruna ... sini, kenalan dulu sama istri bapak, ibunya Suli, calon mertua kamu," seru Jojo.


Aruna berjalan mendekat ke arah tempat tidur Ibu Sibki, dan meletakkan yang dia bawa di unjung tempat tidur itu, segera dia salim pada ibu Sibki.


"Saya Aruna bu ...." lirih Aruna.


"Saya Mastia," jawab ibu Sibki, senyumannya menghiasi wajah pucatnya. Melihat kejadian barusan Mastia semakin membaik.