
Tentang Maya.
Maya adalah anak dari adik ayah Nurul, majelis taklim yang sekarang di teruskan Ali adalah majelis yg dibangun bersama ayah Nurul dan ayah Maya. Karena ibu Maya lama meninggal, akhirnya Maya lebih memilih tinggal bersama Nurul dan umi Fatma.
Sekitar 5 tahun majelis berdiri, ayah Maya kecelakaan, hingga Maya menjadi yatim piatu. Lalu dia di urus Ayah Nurul. Maya sosok yang sederhana juga sangat ramah. Sehingga Ali juga menaruh hati pada Maya. Namun Ali tidak berani mengungkapkan perasaannya.
Antara Nurul dan Maya, Nurul yang paling cantik, Ali tidak berani mencintai Anak Kyai nya, dia lebih memilih mencintai sahabat sekaligus sepupu Nurul, Maya.
Majelis kian berkembang, seiring banyaknya warga yang merasa sangat terbantu dengan ruqyah gratis yang diadakan majelis mahabbah ini. Sehingga para donator semakin bertambah.
Datanglah Salha teman sekolah Maya sewaktu SMA, Salha tinggal di rumah kontrakan dekat majelis itu. Karena dia tahu pujaan hatinya yang selama ini berusaha dia pikat menjadi donator tetap di majelis mahabbah. Salha berusaha menarik hati pria tampan itu, yang bernama 'ANDIKA '.
Salha lama mengenal Andika, namun tidak Akrab. Karena Andika memang tidak suka dengan tabi'at Salha.
Setahun berlalu, Ternyata Andika jatuh cinta pada Maya. Begitu juga dengan Maya, dia juga menyukai Andika. Ada dua hati yang patah saat mendengar Andika melamar Maya ke orang tua Nurul. Karena ayah Nurul lah wali Maya. Salha dan Ali sedih dengan kabar gembira ini.
Padahal Salha sangat yakin kalau Maya akan menikah dengan Ali, karena Ali sangat terlihat menyukai Maya. Namun ternyata Andika juga kepincut dengan kesederhanaan Maya. Maya juga jatuh cinta pada sosok Andika.
Ali bisa menerima Maya menikah dengan Andika. Karena terlihat Maya mencintai Andika. Tapi tidak dengan Salha.
Pernikahan berlangsung sederhana di komplek majelis, Maya dan Andika terlihat sangat bahagia. Setelah selesai akad dan resepsi, Maya langsung di bawa Andika pulang. Karena Salha selalu Berusaha menaruh racun kebencian Andika buat Ali.
Salha selalu berusaha meneror hati Andika dengan mengatakan Ali sangat mencintai Maya. Andika sadar dia bukan tandingan Ali, hanya nasibnya saja yang beruntung mendapatkan cinta Maya. Kalau dilihat, Ali lah yang lebih pantas bersama Maya di banding dirinya yang masih awam, tidak seperti Ali, orang kepercayaan Kyai. Paling aman baginya membawa pujaan hatinya pergi dari majelis ini.
Maya sedang bersiap di kamarnya, dia ikat rambut nya menggulung ke atas lalu memasukan baju baju dan perlengkapan lain ke koper. padahal dia belum siap, namun Andika sangat ingin membawanya pulang. Tiba-tiba lampu kamar Maya mati.
"Aduh!!!" Ringis Maya .
Ada seseorang yang menarik rambutnya dan terdengar seperti suara gunting yang memotong Rambutnya. Maya berjalan perlahan menuju saklar lampu, saat lampu menyala kembali Maya segera becermin. Benar saja rambut nya pitak. Namun Maya tidak ambil pusing, dia memakai kerudung nya, lalu dia segera keluar untuk pamit pada semua orang.
Orang yang menggunting rambut Maya diam diam masuk lagi ke kamar Maya dan mencuri celana dalam Maya, lalu ia pergi kesuatu tempat, menyerahkan potongan rambut, dan celana dalam Maya. Rencananya Agar Maya tidak bisa memiliki anak. Supaya Aan menikah lagi, karena kebahagiaan yang kurang.
Duka kembali datang, Ayah Nurul meninggal dunia dan menyerahkan Majelis taklim kepada Ali. Suasana duka menyelimuti komplek majelis taklim, sangat banyak pelayat yang hadir.
Sejak Maya dan Andika turun dari mobil, Ali selalu memperhatikan Maya, menurut pandangan Ali, ada hal aneh Pada diri Maya. Pandangan Ali kepada Maya membuat Andika semakin geram. Dia sangat mencintai Maya, sungguh dia sangat cemburu melihat Ali menatap Maya dalam seperti itu. Namun dia tahan karena ini suasana duka.
Selesai pemakaman Ali mendekati Maya dan mulai bicara.
"Assalamu alaikum Maya," sapa Ali.
Maya tersenyum dan menjawab salam Ali
"Wa alaikum salam ka Ali,"
"Maya ... aku merasa aneh dengan dirimu, rasanya ada sesuatu yang mengganggu kamu," kata Ali.
"Yang mengganggu Maya itu kamu Ali!!!!" Ucap Andika marah dan langsung menarik Maya ke dekapannya. Andika tidak bisa lagi menahan rasa marahnya. Melihat Ali yang berbicara dengan istrinya berduaan saja.
"Aan ... bukan begitu.... aku merasa ..."
"Ayo sayang kita pulang," seru Andika menarik tangan Maya.
Maya mengikuti keinginan suaminya,
dia merasa sangat senang melihat cinta Andika yang begitu besar padanya, seorang Ali saja sudah sangat membuat suaminya di bakar cemburu. Maya mengucapkan salam pada Ali. Ali menjawab salam Maya.
Andika dan Maya pamit kepada umi Fatma dan Nurul. Ada mata yang sangat geram melihat kemesraan Maya dan Andika, padahal kebahagiaan mereka tidak lengkap, namun mereka sangat bahagia. Bahkan mereka masih terlihat seperti pengantin baru saja .
Setelah pamit Andika dan Maya pulang kerumah mereka.