Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 149 Asal-Usul Deli


Desa Kayu Alam, adalah desa terakhir di seputaran pegunungan Naju. Sungai yang mengalir sampai kemana-mana bermuara dari desa tersebut. Kehidupan desa itu sangat damai. Bahkan mereka hidup damai dengan makhluk halus, damai dalam arti tidak saling mengganggu.


Fauji. Pemuda asli desa Kayu Alam berhasil membuat seorang bule cantik, yang sedang melakukan penelitian di desa tersebut jatuh cinta padanya. Hingga bule cantik itu menetap di desa tersebut. Nama bule cantik itu Adeeva. Dia dan Fauji menikah sesuai dengan adat istiadat desa Kayu Alam.


Adeeva dan Fauji di kenal sepasang suami istri yang sangat baik hati. Karena perbuatan baik mereka pada setiap hal bahkan pada mahkluk halus sekalipun membuat semua orang suka pada pasangan suami istri itu.


Mereka berdua sangat kompak menjaga keasrian desa Kayu Alam. Sangat sering para pengusaha datang untuk menggarap pegunungan Naju, untuk mengambil kekayaan alam yang terkandung di pegunungan itu.


Hal itu tentu tidak mudah, Fauji dan Adeeva sudah mempersiapkan kekuatan hukum yang kuat agar wilayah pegunungan Naju tidak di keruk investor manapun. Demi kelanjutan kehidupan generasi mendatang, juga menjaga kestabilan lingkungan yang berada di kaki pegununga Naju.


Sudah terbayang bagaimana kerusakan alam terjadi jika hutan lebat yang berada di gunung itu di babat habis, gunungnya di ratakan, kekayaan alamnya di keruk. Tentu kehidupan sekitar akan semakin sulit karena alam yang rusak. Pastinya perkotaan yang di bawah pegunungan itu akan sering kena bencana alam, seperti banjir dan lainnya.


Tapi, para pengusaha yang menginginkan kekayaan dari pegunungan Naju, masa bodoh dengan kestabilan alam. Mereka hany ingin mengeruk, setelah habis mereka pergi.


Entah berapa orang investor datang membujuk rayu agar Adeeva dan Fauji mau melepaskan gunung Naju pada mereka. Karena dalam perjanjian nyata dan perjanjian goib pegunungan Naju milik Fauji.


Keputusan para tokoh desa menunjuk Fauji sebagai penanggung jawab mereka,sanvat tepat. Sepasang suami istrinitu begitu kekeh menjaga gunung ini.


Begitu juga mahkluk halus yang tinggal di area terdalam pegunungan itu. Mereka merasa bahagia, karena menyerahkan tanggung jawab pegunungan ini pada Fauji. Pilihan mereka semua tepat, karena berapapun uang yang para investor tawarkan tidak membuat Fauzi melepaskan pegunungan tersebut.


Para pengusaha tidak dapat bertindak gegabah. Karena semua hak milik Fauzi atas pegunungan itu sah, bukan sebatas pengakuan. Semua ini juga berkat Bantuan Adeeva dan relawan lain, pegunungan Naju di mata negara sah milik Fauji.


Karena tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan, para pengusaha itu tidak lagi mendatangi Fauzi. Karena percuma, dengan apapun mereka memberi iming-iming Fauzi dan istrinya tetap menolak.


Kehidupan mereka damai kembali. Tidak ada lagi orang suruhan pengusaha yang datang merayu mereka.


***


Kini Adeeva tengah hamil 4 bulan. Kehidupan mereka semakin bahagia. Fauji bukan seorang paranormal dan sejenisnya, namun dia sering bertemu mahkluk goib dan berkumunikasi dengan mahluk-mahkluk tersebut. Hingga dia menjalin persahabatan dengan beberapa golongan dari mahkluk goib tersebut. Salah satunya putri yang berwujud separu ular.


Karena saling menjaga batas dan tidak saling ganggu semua orang hidup dengan damai. Tidak ada yang mengetahui kehamilan Adeeva, walau menginjak bulan keempat namun perut Adeeva masih kecil.


***


Kehidupan yang damai tiba-tiba langsung kacau, karena Fitnah yang sangat keji tertuju pada Fauji dan Adeeva. Mereka berdua di tuduh warga menggunakan ilmu hitam, karena warga menemukan jasad salah satu anak desa yang hilang di kolong pondok Fauji dan Adeva.


Warga yang tersulut emosi, menyeret Adeeva yang tengah hamil menuju sungai. Sedang Fauji, dia di ikat di sebuah tiang, dengan kemarahan yang menyelimuti hati dan pikiran mereka, mereka tega membakar Fauji hidup-hidup, di depan mata Adeeva.


Adeeva berteriak histeris, melihat suaminya dibakar warga. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Warga mengikatnya di dekat pohon besar, yang ada di tepi sungai.


Adeeva kalut, dia berteriak-teriak memanggil teman-temannya dari golongan sebelah.


"Siapapun yang bisa mengabulkan keinginanku, aku serahkan diriku pada kalian yang mengabulkan keinginanku, aku ingin mereka semua mengalami musibah!" Tangis Adeeva terdengar amat memilukan.


Adeeva memandangi warga yang menghakiminya. "Selama tuduhan keji ini tidak terungkap! Maka selama itu pula musibah ini mengenai mereka semua!" Teriak Adeeva.


"Lihat! Ternyata dia memang penyihir jahat! Cepat ikat dia!" Seru warga lain.


"Penyihir tidak akan mati!" Seru yang lain.


"Benar! Yang mati hanya jasadnya bukan rohnya."


Air sungai tiba-tiba menggemuruh.


"Apa yang kamu inginkan Adeeva, kami ingin membalas jasa mu." suara itu hanya bisa didengar Adeeva.


"Mereka semua membunuh suamiku karena fitnah! Aku ingin mengutuk mereka semua ...." pinta adeeva, dengan air mata terus bercucuran.


Warga kesal, melihat Adeeva bicara sendirian. Mereka meyakini Adeeva bicara dengan sekutu goibnya.


"Cepat bunuh wanita itu!!!" Teriak yang lain.


"Bukan bunuh! Tapi, ikat rohnya, biar dia tidak tenang!" Seru yang lain.


Upacara proses pengikatan roh mereka langsungkan.


Adeeva tertawa terbahak-bahak. "Yang kalian ikat bukan rohku, tapi roh anakku!" Teriak Adeeva.


"Sial! Kita tidak tahu kalau ada dua roh dalam diri wanita itu."


Sang putri menukar roh yang di ikat dengan roh Adeeva.


"Kalian semua, akan menanggung derit dari semua ini. Aku mengutuk kalian semua. Tidak akan ada lagi air di sungai ini dan di desa ini!" Teriak Adeeva.


"Adeeva kamu jahat! Apa bedanya kamu dengan yang memfitnah kamu? Ingat Adeeva. Tidak semua warga desa jahat padamu " suara goib yang lain yang bisa Adeeva dengar.


Adeeva menyadari kesalaahan yang tidak bisa dia tarik. Dia memanadang kearah putri ular. Senyuman menghiasi wajahnya.


Anakku pasti hidup. Gerutu hatinya.


"Hanya ikatan darah yang membebaskan kalian semua semua kutukkan ini." Adeeva merasa waktunya semakin sedikit. Ikatan yang mengikat tubuhnya tiba-tiba saja terlepas. Adeeva segera berdiri, dia melangkah menuju sungai.


"Ikatan darah, pengantin, sampan dan air terjun!" ucap Adeeva lantang. Adeeva menjatuhkan dirinta ke alirab sungai. Tubuh Adeeva pun hanyut di bawa arus sungai.


***


Hanya tiga kalimat itu yang sempat di dengar oleh warga. 'Ikatan darah,' 'pengantin,' 'sampan dan air terjun.'


Putri ular menampakan wujud kasarnya tapi sebagai perempuan cantik. Membuat para warga yang melihatnya terkejut.


"Kalian semua akan merasakan kutukan dari Adeeva karena menghukum orang yang bersalah, penderitaan kalian akan ber akhir jika yang memiliki hubungan darah dengan Adeeva yang melepaskan kutukan ini." Putri ular memperlihatkan sesuatu yang ada di tangannya.


Para warga yakin, itu adalah janin Adeeeva.


"Saat 'ikatan darah' melepaskan kutukkan desa ini. Saat itu pula rahasia besar hari ini terungkap, saat itu tiba, kalian akan menyesal! Karena telah menghukum orang yang tidak bersalah!" Putri ular pergi membawa janin yang masih bernyawa ke alamnya.


***


Beberapa bulan kematian Adeeva dan Fauzi, masih tidak berdampak pada kehidupan mereka. Namun lama-kelamaan air sumur mereka mengering, sungai yang melintasi desa mereka juga kering, anehnya setelah di luar desa mereka sungai yang sama tetap mengalir deras.


Satu tahun setelah kematian Adeeva dan suaminya sumber air mulai sulit, namun masih bisa di dapat. Namun kian tahun air bersih semakin sulit di dapat di desa mereka. Mereka harus keluar dari desa untuk mencari air bersih.


Tahun demi tahun berlalu. Penderitaan warga Kayu Alam mulai tersiar. Semua orang yang mendengar kabar itu tentu tidak percaya, karena air sungai yang melintasi desa mereka bermuara dari sana. Namun jika masuk desa itu mereka baru percaya.


Warga desa harus extra, mereka harus keluar dari desa untuk mencari air dan membawa kembali ke desa mereka. Sesekali bantuan air bersih datang kedesa mereka.


Beberapa orang berkumpul di tengah tanah bekas aliran sungai.


"Sungai disini masih ada, hanya saja di goibkan oleh penunggu pegunungan ini karena kutukan Adeeva. Sungai ini akan terlihat lagi jika yang memiliki 'Ikatan darah' datang ke desa ini dan mematahkan kutukkan ini. Jika kutukkan patah, maka kematian Adeeva dan Fauji, akan terungkap."


"Jangan sampai itu terjadi, jika itu terjadi hancurlah rencana kita mengeruk kekayaan alam dari gunung ini."


"Aku tidak menjamin, itu semua tergantung usaha kamu. Apakah kamu bisa mengambil janin Adeeva, lalu membunuhnya?"


"Akan kita usahakan sama-sama, untuk mencuri janin itu."


Mereka semua terdiam, usaha keras mereka selama ini belum membuahkan hasil. Yang ada kini mereka menderita, karena sulitnya mendapatkan air.


"Mbah, Fauji dan istrinya sudah mati, kenapa surat kepemilikan gunung ini tetap tidak kita temukan?"


"Kurasa Fauji menyembunyikan surat tanah itu pada teman-temannya yang goib, maksudku makluk halus."


"Sial!!! Fauji terlalu cerdas, ini juga kenapa Adeeva main sumpah serapah, semua orang menderita karena sumpah serapah Adeeva."


Setelah menyusun rencana, Mereka semua bubar.


***


Santar terdengar keistimewaan janin Adeeva yang di sembunyikan putri ular. Sejak itu, mereka yang mempunyai kelebihan, bertekad untuk mencuri janin itu. Ada yang menginginkan mencuri janin itu untuk di bunuh. Ada jug yang menginginkan janin itu untuk di miliki, karena memilikinya suatu ke istimewaan. Ada juga yang menginginkan janin itu, agar bisa meng akhiri derita warga Kayu Alam.


Kabar tentang janin istimewa terus berhembus, membuat ambisi para dujun semakin kuat, untuk memiliki janin Adeeva. Perebutan janin Adeeva bukan hanya dari kalangan dukun yang ingin melepaskan kutukan desa Kayu Alam ataupun dukun yang menginginkan memiliki desa Kayu Alam. Namun juga beberapa kalangan lain yang menginginkan kesaktian jika memiliki janin itu.


Putri ular berusaha keras, melindungi janin Adeeva. Dengan bermacam cara, karena ada saja ulah para manusia yang bekerja sama dengan mahkluk lainnya untuk mencuri janin Adeeva. Terlalu lama berada di alam mereka. Janin itu, memiliki keistimewaan lain.


Perburuan janin itu, terus berlanjut. Dari bangsa manusia hingga bangsa halus yang lain, yang sama-sama menginginkan janin Adeeva. Namun usaha mereka tidak satupun yang membuahkan hasil.


***