
Sesampai rumah mereka, Aruna langsung pulang ke rumah Jojo bukan ke rumah Wahyu. Suminten dan wahyu sangat bingung melihat Aruna yang masuk ke rumah Jojo bukan kerumah mereka.
"Bah … pasti ada sesuatu, ayo kita ke rumah Sibki bah," ajak Suminten. Dia dan Wahyu segera berlari menuju rumah Jojo.
Di dalam rumah itu.
Dena dalam pelukan Mastia, Rayyan dalam pelukan Jojo sedang Deli dalam pelukan Aruna, ketiganya sama-sama tertidur.
"Assalamu'alaikum," salam Suminten dan Wahyu. Wajah keduanya nampak cemas, apalagi melihat wajah semua orang didalam ruangan itu terlihat sedih.
"Ada apa ini?" tanya Suminten.
"Kita semua bersalah pada Aan, Saman yang kita anggap pahlawan ternyata penjahat yang sebenarnya. Yang merampok rumah Aan dan membacoknya, dia adalah Saman, dia juga yang mendatangkan Maya palsu. Laily si Maya palsu adalah Linda adik Saman. Saman yang merubah wajah Linda jadi Maya, dia juga yang mengatur semuanya. Yang barusan terjadi, Saman menusuk sendiri pisau yang di tangan Aan agar kita semua membenci Aan," terang Sibki.
"Kami baru tahu semua itu dari ustadz Ali dan aku tadi, ke rumah ustadz Ali karena menemukan ini." Aruna mengeluarkan laporan bedah plastik Linda.
"Aku menemukan itu di rumah Saman." terang Aruna.
"Ya Allah … sangat besar kesalahan kita pada Aan," ringis Suminten.
"Aruna rela menyerahkan si kembar demi mendapat maaf dari kak Aan untuk kita semua, andai kak Aan menginginkan hak asuh mereka," ucap Aruna.
"Jangan ... ibu tidak bisa jauh dari mereka," ringis Mastia.
"Tapi kesalahan kita sangat besar, demi mendapat maaf kak Aan, jangankan si kembar aku rela melakukan apa saja, terlalu besar penderitaan dia, karena tidak mendapat kepercayaan kita sebagai keluarganya," ringis Aruna.
Semua orang terpukul menyadari semua ini, Saman yang seolah pahlawan ternyata sumber kekacauan.
"Maafkan umak, karena umak juga mendorong kamu untuk menikah dengan Saman," ucap Suminten, penuh dengan penyesalan.
"Ibu juga … harusnya kami mendukungmu agar kamu mengikuti kata hatimu untuk tidak menikah lagi, kami malah memojokkanmu hingga membuatmu setuju menikahi Saman," ringis Mastia.
"Kalian tidak salah, Saman sangat pandai mempermainkan perasaanku," ucap Aruna.
Ponsel Aruna berdering, nama Saman terlihat di layar. Aruna segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum. Halo kak Saman."
"Wa'alaikum salam, Aruna, malam ini aku tidak pulang, ada urusan, jangan menungguku okey."
"Iyaaa."
"Cuma itu, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam," jawab Aruna.
Panggilan telepon berakhir.
"Syukurlah dia tidak pulang, kalau pulang aku tidak tahu harus bagaimana," keluh Aruna.
"Sabar nak … semoga semua ini ber akhir dengan baik." Suminten hanya berharap, semoga mereka bisa menghadapi Saman.
"Bagaimana pernikahan kamu dengan Saman?" tanya Sibki.
"Atas dasar apa aku meminta talaq padanya kak? Kalau dengan Aan kemaren jelas karena dia selingkuh, itu juga bukan yang kita lihat bersama, kalau Saman?" Aruna membuang kasar napasnya. Bertahan sakit, dan meminta pisah, dia tidak punya alasan yang dibenarkan untuk meminta talaq pada Saman.
"Tapi kamu pasti tidak bisa hidup dengan dia bukan?"
Aruna mengangguk. "Aku tidak pernah merasa bahagia, selama menikah dengan Saman."
"Ini sulit, kita lihat nanti," ucap Sibki.
"Ya Allah … beri kemudahan untuk anak kami Aruna," ucap suminten dalam hati.
"Aruna pasrah mak, Aruna tidak akan meminta cerai, tapi Aruna juga tidak bisa jadi istri yang baik setelah rahasia besar ini terungkap, Aruna pasrahkan kepada yang Kuasa mak," ringisnya.
Prakkk!
Gelang kaki terlepas dari kaki Deli.
"Gelang apa ini?" Sibki memungut gelang yang jatuh di lantai.
Namun gelang itu tiba-tiba raib, hilang seketika. Aruna memandangi Deli yang masih tidur.
"Astagfirullah, Apakah Deli …." Batin Aruna.
"Nanti kita konsultasi sama ustadz Ali," usul Sibki, dia menepuk bahu Aruna. Aruna hanya menganggukan kepalanya merespon ucapan Sibki.
*****
"Sial! Satu syarat sudah di penuhi mereka, jika 2 syarat yang lain ada yang membantu maka sia-sia penantianku selama ini!" Darnawan emosi.
"Saman Sialan! Gara-gara dia meminta perlindungan siluman itu aku tidak bisa berbuat apa-apa!" gerutu Darnawan.
***
"Bagaimana ki?" tanya Saman.
"Kami baru sadar, setelah memeriksa gudang belakang adikmu yang setengah gila itu kabur."
"Kemana saya harus mencari dia ki?"
"Kamu tidak harus mencari, tapi lepaskan guna-guna yang kamu tanam pada adikmu segera, kalau dia disembuhkan orang lain, nyawamu dalam bahaya."
"Tidak akan ki … jika ikatan itu ku lepas maka Linda pasti buka mulut, sejak awal dia menentang rencanaku."
"Saman! Ini peringatan terakhirku, lepaskan ikatan itu atau kamu mati!" Ancam dukun itu.
"Aku akan mencari Linda di jalanan, mana ada orang yang mau menolong dia," seru Sama.
"Saranku lepaskan ikatan jiwanya, sebelum terlambat!"
"Tidak ki … aku akan tetap mencari dia."
"Kamu keras kepala Saman!"
Saman pergi dari rumah dukun itu untuk mencari Linda yang mengalami gangguan mental karena ulahnya.
***
Di tempat ustadz Ali.
"Gangguan jiwanya sangat berat Ilyas, tolong kamu panggil beberapa relawan lainnya, aku tidak bisa kalau hanya kita-kita saja, lihat wanita ini sudah dipastikan 75 persen gila, kalau sampai dia gila 100 persen maka dia tidak tertolong.
Sore itu, semua teman-teman dan beberapa orang yang belajar pada ustadz Ali mulai melakukan ruqyah pada perempuan yang ditemukan Safta dan teman-temannya. Mereka semua terpaksa mengikat wanita itu, karena dia terus berontak.
Pengobatan ruqyah dilakukan di tengah aliran sungai tubuh wanita itu sengaja di rendam dalam air sungai agar seluruh gangguan itu terpusat berkumpul pada kepala. Beberapa yang lainnya menahan tubuh wanita. Acara ruqyah di mulai. Ustadz Ali dan teman-teman bekerja sama demi menolong perempuan yang nampak memprihatinkan ini.
Lebih satu jam mereka berendam dalam aliran sungai. Susah payah akhirnya wanita itu tertolong berkat restu sang Ilahi dan kerja sama semua orang. Wanita itu langsung di bawa ke Rumah Sakit karena wajahnya sungguh memprihatinkan.
"Ilyas, tolong kamu masukan wanita ini ke daftar orang yang menerima bantuan pengobatan dari Aan, sepertinya dia perlu penanganan medis yang serius juga biaya yang tidak sedikit," ucap Ali.
"Baik pak ustadz," jawab Ilyas.
Kini wanita yang baru sembuh dari gangguang jin itu berada di Rumah Sakit menanti pengobatan untuk wajahnya.
*****
Di rumah Jojo saat yang sama.
Prakkk!
satu gelang kaki yang sama terlepas dari kaki Deli.
"Astaghfirullah, ini gelang yang sama!" ucap Sibki. Namun gelang itu juga hilang lagi tiba-tiba.
"Kakak harus secepatnya ketempat ustadz Ali," wajah Aruna nampak sangat cemas.
***
Di Rumah Sakit
Ilyas segera menelpon Aan mengabarkan seseorang yang butuh uluran tangannya.
"Apakah dia bisa menunngu?" tanya Aan diseberang telepon sana.
"Sepertinya tidak, wajahnya sungguh memprihatinkan Aan."
"Baiklah, kamu urus semua suratnya, aku akan transfer untuk biaya pengobatannya."
"Tidak mengapa, kalau aku tidak sanggup aku masih bisa meminta bantuan relawan dan donatur lain," jawab Aan.
"Baiklah Aan, kami akan mengurus data-datanya, assalamu alaikum Aan."
"Wa'alaikum salam,"
Panggilan telepon berakhir.
Ilyas segera meminta tim yang bertugas menindai data diri untuk mendata wanita gila itu.
"Menurut sidik jari dan pemindaian lainnya, wanita ini bernama Linda Arasman," terang petugas.
Ali dan Ilyas saling pandang saat mengetahui wanita gila itu Linda adik Saman.
***