Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 49* Muallaf


Aan menatapi layar ponselnya, di mana ada foto Aruna yang dia ambil secara sembunyi. Suminten heran melihat reaksi tuannya itu yang senyum senyum sendiri. Karena sangat jelas aura cinta Aan buat gadis itu.


"Ini kopi nya tuan," lirih suminten memecah lamunan Aan.


"Terimakasih bi Sumi ... maaf ya bi ... bulan lalu kita ke majelis ustadz Ali bi Sumi dan pak Wahyu belum bisa bertemu dengan pujaan hati saya," lirih Aan.


"Belum rezeki tuan ... mau bagaimana lagi?" Jawab Suminten.


Terlihat di depan pintu Wahyu memberi isyarat pada Suminten. Suminten faham dengan isyarat suami nya.


"Tuan ... apa boleh kami minta tolong hal besar??" Tanya suminten.


"Selama saya bisa bantu ... saya pasti bantu bi," jawab Aan.


"Emm ... saya sama abah ... mau masuk agama tuan ..." lirih Suminten.


"Subhanallah.... masya allah.... Apa bik Sumi sudah tahu syahadat?" Tanya Aan.


Sumi mengangguk,


"Saya dan abah sering latihan di kamar,


tapi kami malu untuk bilang ke tuan," jawab Suminten.


"Boleh saya dengar bik???" Tanya Aan.


Suminten melambai tangan ke wahyu tanda meminta Wahyu mendekat. Wahyu segera mendekat.


"Pak ... tuan pengen dengar kita ucap syahadat," seru Suminten.


"Asyh hadu alla ilaa ha' illallah


wa Asyh hadu anna muhammad darrasulullah," ucap Suminten dan wahyu bersamaan.


Tidak terasa air mata Aan menetes, karena sangat terharu mendengar lafadz itu keluar dari mulut kedua pembantunya.


"Apa kami salah tuan?" Tanya Suminten.


"Masya Allah ... itu benar bik ....ayo kalian cepat cepat bersiap, kita segera kerumah ustadz Ali." seru Aan kegirangan.


Bergegas Suminten dan Wahyu bersiap.


Setelah semua siap Aan melajukan mobilnya dengan cepat, karena dia sangat girang.


Ali yang sedari tadi ditelpon Aan segera melakukan persiapan pengucapan syahadat bagi muallaf baru akan datang. Dari pengurus MUI dan lainnya, agar pengikraran syahadat itu juga sah di mata hukum negara.


Suminten dan Wahyu di sambut Ali dan pengurus lainnya. Setelah semua siap, proses pengucapan syahadat dimulai, dipimpin oleh Ali dan disaksikan oleh pengurus agama dan para jama'ah.


Proses pengucapan syahadat berjalan lancar.


Aruna yang mendengar kedua orang mengucap syahadat itu sangat terharu, dia teringat bagaimana dia dulu juga pertama kali mengucap kalimat itu.


Suminten dan Wahyu di minta Aan untuk tetap di mushalla, sedang para jamaah berangsur pulang setelah mengucapkan selamat pada Suminten dan Wahyu.


"Pak Wahyu sama bik Sumi tunggu sini ya, saya mau cari wanita yang sering saya ceritakan," lirih Aan.


"Emm ... si Aarr ..." ucapan Ali di potong Aan.


"Pak ustadz ..." lirih Aan.


"Iya ... sudah cari sana ... kalo ngga ada di shaf perempuan paling dirumah sama istri saya " goda Ali.


"Iya ... Assalamu alaikum," kata Aan pamit pada semua nya.


"Wa alaikum salam," jawab semua nya.


Sekarang hanya Ali, Ilyas, Wahyu dan Suminten yang tertinggal di mushalla itu.


Aan berjalan cepat menuju ruangan perempuan.


"Astaghfirullah ..." pekik Aruna kaget karena hampir bertabrakan dengan Aan.


"Aruna bisa ikut aku ...? Soal nya aku ingin kamu kenalan sama dua pembantu aku yang baru masuk islam," seru Aan.


"Wa alaikum salam," kata Aruna karena Aan tak memberi salam sebelum nya.


"Astaghfirullah ... Assalamu alaikum," lirih Aan.


"Wa alaikum salam," jawab Aruna tersenyum.


"Emang kenapa kaka mau aku kenalan sama pekerja kaka???" Tanya Aruna.


"Am um ... anu ... umm ... kali aja mereka semakin termotivasi dengar pengalaman kamu ketika menjadi muallaf," jawab Aan bingung.


"Maaf ... tapi aku harus bantu bantu di rumah sekarang, maaf ya ..." jawab Aruna.


"Hem ... iya ngga apa-apa. ." jawab Aan sedikit lesu.


Aruna berjalan meninggalkan Aan yang lesu dan terus menunduk memandangi tanah.