
Aruna dalam alam bawah sadarnya.
"Hai Aruna... masih ingat aku?"
"Saza?" lirih Aruna gemetaran.
"Aruna..." seru suara lain.
"Putri? Kek... kenapa kalian menemuiku? bukankan urusan kita sudah selesai?"
"Urusan kita memang sudah selesai, tapi banyak bahaya yang mengintaimu, kami ingin melindungimu karena perbuatan baikmu sebelumnya," seru putri ular.
"Aku sudah bilang bukan? aku tidak ingin terikat dengan kalian,"
"Kami tahu... kamu tidak terikat dengan kami... kami hanya membantumu," lirih Saza.
"Aruna... suamimu dalam bahaya, jika kamu berjanji mau merawat janin yang sudah kami masukkan dalam rahim kamu, kami akan menolong suamimu," seru putri ular.
"Apa? Janin? ini anakku dan suamiku," lirih Aruna sambil memegang perut besarnya.
"Iya... itu anak kamu dan suamimu, apakan kamu lupa pagi tadi salah satu pemuja kami yang aku suruh memasukan janin itu kedalam sana?" lirih putri ular menunjuk perut Aruna yang besar.
Aruna mengingat saat dia merasakan ada yang tiba-tiba masuk ke dalam perutnya.
"Aku menitipkan janin manusia lain dalam rahim kamu, janin itu akan lahir bersama bayi kembarmu, kamu tidak akan pernah tahu yang mana bayi kembar kamu dan yang mana bayi titipan ku. Jika kamu bersedia menyayangi dan merawatnya, maka aku membantu suamimu yang kini sekarat." lirih putri ular.
putri ular membuka pandangan Aruna, dia melihat jelas kini Aan tengah berada di ruangan operasi. Air matanya mengalir deras melihat keadaan Aan.
"Bagaimana Aruna?" tanya putri ular.
"Bayi yang keluar dari rahimku adalah anakku, aku akan menyayangi bayiku nanti, dari manapun dia tapi aku mengandungnya dan dia anakku," jawab Aruna.
"Waw... aku suka dan aku sangat percaya padamu Aruna," seru putri ular.
"Kamu boleh pergi Aruna..." seru Saza.
****
"Pasien sadar dok," seru seorang perawat.
Beberapa orang langsung mendekat dan memastikan keadaan Aruna.
"Bagaimana adik saya dok?" Tanya Sibki.
"Ibunya baik-baik saja, mari kita USG untuk memeriksa keadaan bayi di dalam sana," seru Dokter.
Tim dokter tengah melakukan USG untuk memastikan keadaan bayi Aruna.
"Alhamdulillah... semua baik-baik saja," seru dokter.
"Tidak ada masalah dok?" Tanya Sibki.
"Tidak ada masalah, lihat si trio mini sedang asyik di dalam sana," seru dokter.
"Trio?" Sibki keheranan.
"Iya... di dalam sana ada tiga," seru dokter.
"Masya Allah..." seru Sibki.
Aruna melamun mengingat pertemuannya dengan putri ular.
"Assalamu alaikum," lirih Nurul.
"Wa alaikum salam," jawab semua orang.
"Bagaimana keadaan Aruna?" Tanya Nurul.
"Aruna dan trio mini nya baik-baik saja," jawab Sibki.
"Trio mini?" Nurul heran.
"Iya... trio mini dalam kurungan sana penghuninya 3," seru Sibki.
"Masya Allah..." lirih Nurul sambil membelai perut Aruna. Sehingga Aruna tersadar dari lamunannya.
"Kak Nurul... bagaimana dengan kak Aan?"
"Alhamdulillah... Aan tertolong hanya menunggu dia pulih," jawab Nurul.
***
Setelah beberapa jam Aruna dan Aan di pindahkan ke ruang perawatan yang sama atas permintaan Ali. Aruna memandang sayu ke arah Aan yang masih belum sadar.
"Selamat siang," beberapa orang masuk ke kamar perawatan Aruna.
"Bisa kami bicara dengan Aruna?"
Aruna mengangguk
"Apa anda mengenali wajah pelaku?" Tanya polisi.
"Mereka semua paka tutup wajah, ada satu orang yang tidak, tapi aku tidak bisa ingat," jawab Aruna
Setelah tanya jawab banyak hal pada Aruna, polisi itu pergi.
***
Tidak ada kemajuan dalam kasus perampokan rumah Aan. Karena para saksi tidak ada yang melihat wajah gerombolan para perampok. Kini mereka semua berharap pada Aan. Seminggu sudah Aan di rawat di rumah sakit, akhirnya dia sadar kembali.
"Kaka..." lirih Aruna.
Aan tersenyum halus melihat Aruna yang menangis melihat dirinya. Aruna mendekati Aan dan duduk di kursi yang terletak dekat kasur Aan. Berulang kali Aruna menciumi tangan suaminya.
"Enakan di sini lho..."Aan menunjuk pipinya.
"Tapi mamanya yang tidak enak, gak bisa membungkuk," seru Aruna.
"Bagaimana keadaan bayi kita sayang? kaka sangat takut orang-orang meyakiti kamu," lirih Aan.
"Mereka semua sehat," jawab Aruna dengan senyuman manisnya.
"Mereka?" Aan heran.
"Iya mereka, di dalam sini ada tiga," jawab Aruna.
"Tiga?" Aan melotot.
"Makanya papa cepat sembuh... nggak mau ketemu si trio ya?"
Aan sangat bahagia mengetahui Aruna hamil 3 bayi di dalam rahimnya. Karena semangat kesehatan Aan sangat cepat membaik. Kini mereka kembali ke rumah mereka. Aan tidak mau lagi kejadian tempo hari terulang, dia mengelilingi rumahnya dengan pagar yang menjulang tinggi, pagar saja masih kurang bagi Aan, dia menambah petugas keamanan juga memasang cctv si setiap sudut rumahnya.
***
Semakin bertambah usia kehamilan Aruna semakin bertambah juga kebiasaan anehnya, kini usia kehamilannya memasuki bulan ketujuh. Sejak satu bulan terakhir Hobi Aruan menciumi telinga suaminya. juga kadang menggigit lembut daun telinga Aan.
Aan pasrah mengikuti kemauan istrinya tersebut, padahal dia sangat geli merasakan hembusan nafas Aruna pada area daun telinganya. Setiap pagi dan ingin tidur pasti Aruna melakukan hal itu pada Aan.
"Sayang... sudah?" Tanya Aan lembut.
"Sebentar lagi..." lirih Aruna. Dia masing menggesekkan hidung dan bibirnya di daun telinga Aan. Aan tersenyum dan menikmati perlakuan istrinya.
"Sebelah lagi..." rengek Aruna.
Aan menghela nafasnya, namun segera dia menuruti ke inginan istrinya.
"Whoy... tangan sayang kondisikan," lirih Aan karena tangan Aruna kemana-mana.
Aruna tersenyum geli, sebelum meng akhiri kegiatannya yang sangat menyenangkan baginya, Arua menggigit lembut daun telinga suaminya. Senyum Aruna tiba-tiba hilang.
"Ada apa sayang?" Aan heran melihat perubahan rona wajah Aruna.
"Perut aku sakit mas," lirih Aruna.
"Serius? ini baru 7 bulan lho?"
Aruna mengangguk matanya melotot menahan nyeri yang semakin terasa. Aan segera berlari memanggil wahyu dan Ujal untuk membantunya membopong Aruna. Segera Aruna mereka bawa ke rumah sakit.
Aruna di kursi belakang bersama Suminten, sedang Aan di kursi depan bersama Wahyu.
***
Kini dokter tengah melakukan pemeriksaan pada kandungan Aruna. Setelah selesai dokter segera menemui Aan.
"Pak Aan, kami harus melakukan tindakan, karena ibu Aruna harus di ceasar sekarang juga," lirih dokter.
"Tapi ini baru 7 bulan dok," lirih Suminten.
Dokter mulai menjelaskan keadaan Aruna. Mereka semua pasrah Aruna di ceasar dini. Demi keselamatan nyanwa ibunya. Mereka pasrah dan hanya mampu berdo'a memohon keselamatan Aruna dan bayi kembar mereka nanti.
Aan ikut ke dalam ruangan operasi dia duduk di samping Aruna. Dia menggenggam Erat tangan istrinya sesekali mencimi tangan Aruna. Aruna tersenyum melihat kecemasan di wajah suaminya.
"Kaka yang tenang... aku dan anak kita akan baik-baik saja," lirih Aruna.
Suara tangisan bayi yang bersahutan dalam ruanagn itu membuat perasaan semua orang tenang.Akhirnya Aruna melahirkan 3 orang bayi di siang itu. Dua bayi perempuan dan satu bayi laki-laki. Aan adzan dan iqamah di telinga putra putrinya.
Kini Aruna di pindahkan ke kamar perawatan karena dia harus menjalani rawat inap pasca ceasar minimal selama tiga hari kedepan.