
Di sudut ruangan yang gelap.
"Halo... kapan kita mulai aksi kita?"
"Nanti... kita mulai perlahan jangan tergesa-gesa,"
"Baik... aku tunggu komando dari kamu,"
***
Keesokan harinya...
"Sayang... bangun..." Aruna berulang kali menciumi wajah Aan.
"Papa bangun..." bisik lembut Aruna.
"Yang di suruh bangun yang mana?" Aan memeluk Aruna Erat.
"Papanya yang di suruh bangun, bukan dedeknya," Aruna cekikikan.
"Kalo keduanya bangun boleh?" Aan mulai bertindak nakal.
"Kak Aan..." rengek Aruna.
Aan tidak perduli dia tetap ber aktivitas pagi menghangatkan suasana pagi yang dingin.
***
Di luar rumah Aan.
"Kamu yakin aman?" Bisik seseorang.
"Yakin!!!"
"Kalo aman cepat lempar!"
Seseorang melempar botol ke area rumah Aan.
***
"Awhh..." ringis Aruna.
"Ada apa?" Aan panik.
"Aku merasa ada sesuatu yang masuk kedalam," Aruna mengusap perut buncitnya
"Kode mau lagi?"
"Kaka... serius..." lirih Aruna.
"Aku juga serius..." Aan semakin mendekat.
"Kak... aku hamil lho, kamu mau menyiksa bayi kita?" wajah Aruna masam.
"Enggak sayang... bercanda," seru Aan.
"Kak... kapan kita cek up?"
"Siang ini... tapi sekarang aku mau berguling-guling manja dulu sama kamu, secara satu minggu kita tidak bertemu."
"Tok... tok tok..." "Tuan... nyonya..." seru pembantu.
"Argghhhttt pembantu baru ini cari gara-gara terus," Aan sangat kesal waktu hangatnya diganggu oleh pembantunya.
Aan meraih kimononya sedang Aruna menyelimuti dirinya dengan selimut sebatas dada.
"Ada apa?" Tanya Aan tegas.
"Crakkk crakkk crakkk!!!" Seseorang di depan pintu itu langsung menusuk Aan berulang kali tanpa ampun.
Aan melotot memandang wajah orang yang menusuknya. Seketika Aan ambruk di lantai.
"Kak Aan!!!" Teriak Aruna histeris melihat suaminya terkapar di lantai bersimbah darah.
"Jangan melawan jika ingin selamat!!!" bentak orang itu.
"Bawa wanita itu pergi dari sini," perintah seseorang.
"Waw... dia polos bos," seru orang yang lain.
"Jangan macam-macam!!! Cepat bawa dia!"
"Ingin cara lembut apa cara kasar?" Orang itu menanyai Aruna. Tetapi orang suruhan yang lain langsung memangup Aruna dengan sapu tangan yang ditetesi obat bius.
"Kelamaan!!" bentaknya.
Di rumah Aan tiba-tiba banyak preman, mereka sungguh panen. apa yang mereka anggap beharga mereka bawa. Tiga orang dari mereka menggotong Aruna yang tidak sadarkan diri menuju mobil mereka. Namun setelah membuka pintu utama entah dari mana datangnya ular-ular itu. Bukan satu dua ekor tapi sangat banyak ular. Mereka semua menggidik melihat ular yang seperti tumpukan mie dalam mangkok.
"Bos..." seru seseorang.
"Semua ular itu tidak suka kalian menyakiti wanita itu cepat kembalikan ke dalam," seru seseorang yang nangkring di atap mobil.
Mereka bertiga segera kembali ke dalam dan merebahkan Aruna di sofa. Setelah keluar mereka sangat terkejut, ular yang tadi banyak hilang seketika.
"Cepat kalian pergi!!!" seru seseorang.
"Bos bagaimana?"
"Aku ingin menghilangkan memory wanita itu,"
"Baik bos!"
Orang itu mendekati Aruna dan meminumkan cairan yang akan membuat Aruna lupa dengan apa yang dia lihat barusan dari botol kecil. Selesai dia segera menjauh dari sana.
***
Di rumah Nurul.
"Umi... ayo kita berangkat," seru Ali.
"Abi... umi merasakan firasat tidak enak, umi merasa Aruna..."
"Ayo... sebelum kita ke rumah sakit kita jenguk Aruna sama Aan,"
Ali langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Aan yang tidak jauh dari rumah mereka.
"Lho... Mang Ujal satpam rumah Aan kok gak kelihatan," Nurul memandangi seputaran Area rumah Aan.
Ali langsung meraih ponselnya.
"Sibki... bawa Ilyas, Safta dan beberapa orang lagi ke rumah Aan, jangan lupa polisi yang tinggal di sebelah juga ajak," lirih Ali.
"Baik ustadz..." jawab Sibki.
"Kita masuk yuk bii... itu pintu rumah Aan terbuka," seru Nurul.
"Jangan sekarang, kita tunggu yang lain," lirih Ali.
"Beggh begghhh beghhhh" Terdengar suara dari arah mobil Aan.
Ali langsung mendekati mobil tersebut.
"Assalamu alaikum ustadz..."
"Wa alaikum salam," jawab Ali. Namun Ali tetap fokus pada mobil Aan.
"Ada apa?" Tanya Sibki. Dia datang dengan lima orang lainnya. Termasuk Ilyas, Safta dan seorang polisi yang tinggal di area mesjid tersebut.
"Sibki bantu aku membuka bagasi mobil Aan," pinta Ali.
"Pakai linggis ustadz biar cepat," seru Ilyas.
"Tapi mobil Aan lecet lho nanti," seru Safta.
"Tidak di kunci," kata polisi itu, dia membuka bagasi mobil Aan.
"Astaghfirullah... mang Ujal???" seru semua orang.
"Ilyas... kamu bantu lepaskan mang Ujal, yang lain ayo kita ke dalam, umi... umi masuk mobil kita, abi mohon..." pinta Ali lembut.
Nurul segera masuk mobilnya, sedang Ali, Safta, Sibki dan dua orang lainnya berlari masuk kedalam rumah Aan.
"Astaghfirullah..." seru semua orang melihat Aruna yang di ikat dalam selimut, juga melihat pembanti Aan Salsa yang di ikat di kursi.
"Aruna... Aan... pintu kamar umak tidak bisa di buka!!!" Teriak suminten.
Kamu... buka ikatan pembantu itu, Sibki Safta kalian bantu suminten, Pak Harjo ayo kita cari Aan," seru Ali.
Aan dan polisi Harjo segera naik ke lantai atas menuju kamar Aruna.
"Mak... abah... menjauh dari pintu biar kami dobrak," teriak Sibki.
"Tidak perlu... ini kuncinya," seru Safta menunjuk kunci yang ada di gagang pintu itu. Segera dia membuka pintu kamar Suminten yang dikunci dari luar.
"Lho... nak Sibki," sapa Wahyu.
"Aruna!!! apa yang terjadi?" Suminten berlari mendekati Aruna.
"Rumah ini di rampok bu..." seru pembantu yang tadi terikat dekat Aruna.
"Sibki... Safta... cepat ke atas Aan terluka!" Teriak Ali dari atas.
"Umak bantu Aruna, kami ke atas," Sibki dan Safta berlari ke atas.
Mereka semua menggotong tubuh Aan yang bersimbah darah menuju mobil mereka, sedang polisi Harjo yang bersama mereka menelpon rekan-rekan polisinya.
"Nak Aan..." ringis Suminten dan Wahyu.
"Kalian lepaskan ikatan Aruna, Aruna juga harus di bawa kerumah sakit!!!" Teriak Ali yang terus berlalu menggotong Aan bersama yang lainnya.
"Salsa... tolong ambilkan pakaian dan kerudung yang mudah di pakaikan buat Aruna," pinta Wahyu.
Salsa mengangguk dia segera berlari menuju ruangan laundry yang tidak jauh dari dapur.
"Umak... umak bantu Aruna memakai pakaiannya," seru Wahyu sambil memotong tali yang mengikat Aruna. Dia langsung keluar mengikuti Ali dan yang lainnya.
"Ini bu," Salsa menyerahkan pakaian yang dia ambil kepada Suminten. Suminten langsung memakaikan Aruna baju di bantu Salsa.
"Apakah sudah mak?" Tanya Sibki.
"Sudah..." jawab Sumintes lemas.
"Ustadz..." teriak Sibki.
Sibki, Wahyu dan ustadz Ali mereka bertiga menghotong Aruna menuju mobil. Sedang mobil yang membawa Aan sudah meluncur menuju rumah sakit yang di setir oleh Safta dia di temani polisi Harjo dalam mobil itu.
Nurul mematung melihat kejadian di depan matanya, Melihat Aan yang bersimbah darah dan kini dia melihat Aruna yang tidak sadarkan diri di bopong suaminya dan yang lain.
"Umi... umi pindah ke depan, bu Sumi ayo masuk duluan, biar anda memanggku Aruna disini," seru Ali.
Setelah Aruna masuk mobil Ali segera mobil melaju menuju rumah sakit terdekat, sedang Ilyas dan Mang Ujal menanti kedatangan polisi. Tidak berselang lama polisi datang memeriksa rumah Aan, setelah mengumpulkan beberapa hal yang mereka anggap penting, Safta, Wahyu, mang Ujal juga Salsa diminta ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
Suasana yang tadi sepi langsung ramai di kerumuni warga karena mendengar sirine mobil polisi yang lama. Mereka langsung mendekat saat melihat mobil itu berhenti lama di halaman rumah Aan. Rumah Aan kini terpasang garis polisi, semakin membuat warga sekitar penasaran.
"Ada apa ini ramai sekali," lirih Fatma.
"Tidak tahu umi... kami juga mau tahu,"
"Fatma meraih ponselnya dan segera menelpon Nurul. Fatma memberi salam setelah Nurul mengangkat panggilannya Nurul juga menjawab salam ibunya lemas.
"Nurul... kamu tahu kenapa rumah Aan di datangi banyak polisi? rumahnya juga di kelilingi garis polisi,"
"Rumah Aan di rampok umi... ini kami membawa Aan dan Aruna ke rumah sakit, umi minta antar yang lain ya... maaf Nurul tengang mi.. hingga Nurul lupa beri kabar sama umi," Nurul menceritakan keadaan Aan dan Aruna.
Fatma mematung mendengar musibah yang menimpa Aan dan Aruna.
"Aan sama Aruna kenapa umi?" Tanya Salah satu Warga.
"Rumah mereka di rampok," lirih Fatma.
"Terus Aan dan Aruna?"
"Maaf ya ibu-ibu saya pulang," lirih Fatma. Tubuhnya gemetaran membayangkan Aan dan Aruna, apalagi sekarang Aruna tengah hamil.
*Bersambung.